Bagaimana gambar dan liputan media mempengaruhi empati kita terhadap orang yang tidak kita kenal

Beberapa anggota tim sepak bola terperangkap dalam suatu bagian gua Tham Luang di Thailand. ROYAL THAI NAVY/AAP

Bagaimana gambar dan liputan media mempengaruhi empati kita terhadap orang yang tidak kita kenal

Pemberitaan tentang 12 anak laki-laki yang berhasil diselamatkan setelah terperangkap dalam jaringan gua di Thailand telah membanjiri layar kita beberapa hari belakangan ini.

Upaya penyelamatan internasional mencakup tim spesialis dari Australia untuk membantu penyelamatan para anggota tim sepak bola muda dengan cara yang aman. Medan yang sangat berat telah merenggut nyawa seorang mantan penyelam Angkatan Laut Thailand setelah kehabisan oksigen selama upaya penyelamatan.

Tidak bisa dipungkiri terperangkapnya anak-anak tersebut merupakan situasi yang menakutkan bagi para mereka dan keluarga mereka. Tidak mengherankan situasi ini mendapatkan perhatian dunia. Namun, kejadian ini memunculkan beberapa pertanyaan menarik soal cara kita mencurahkan empati dan kepedulian terhadap orang yang tidak kita kenali.

Mengapa peristiwa ini menjadi perhatian dunia, sementara masalah yang tak berkesudahan seperti anak-anak dalam tahanan tidak mendapat perhatian yang sama? Penelitian tentang psikologi moral dapat membantu kita untuk memahami hal ini.


Read more: Sains Sekitar Kita: Kisah dramatis Rumphius, ilmuwan buta dari Barat, pencatat ribuan tanaman di Ambon


Sebuah gambar bernilai seribu kata

Salah satu alasan kuncinya sesederhana kita bisa melihat tim sepak bola Thailand tersebut. Kita menonton upaya penyelamatan berlangsung, dan kita dapat melihat emosi dari para anak laki-laki tersebut dan keluarga mereka.

Tentara Thailand sedang menggotong pipa saluran air menuju gua selama berlangsungnya operasi penyelamatan tim sepak bola anak-anak. RUNGROJ YONGRIT/AAP

Kita pernah melihat peliputan lengkap dan viral tentang insiden tragis ini seperti ini sebelumnya. Seperti misalnya, gambar-gambar mengerikan anak-anak bertahan hidup setelah serangan senjata kimia di Suriah tahun 2007. Atau gambar seorang gadis kecil Honduras menangis karena sang ibu ditahan oleh para petugas di perbatasan AS-Meksiko yang muncul pada Juni.

Sebaliknya, isu yang bisa dikatakan sama mengerikannya justru tidak selalu mendapatkan curahan perhatian dan simpati yang sama. Misalnya, ada lebih dari 200 anak-anak ditahan di Nauru dan di seluruh daratan Australia.

Ini tidak berarti bahwa pemerintah Australia seharusnya tidak membantu upaya penyelamatan internasional, tetapi Australia seharusnya memiliki keprihatinan yang sama dengan banyaknya jumlah anak yang ditahan tanpa ada batasan waktu di penjara Australia.

Faktanya, kita hanya punya akses yang sangat terbatas terhadap gambar-gambar anak-anak yang ada dalam tahanan, karena akses media ke pulau Manus dan Nauru sangat dibatasi. Wartawan menghadapi kendala besar jika mereka ingin mengunjungi tempat penahanan di lepas pantai Australia, dan pada 2016 pemerintah Australia mengancam pekerja kesehatan dengan pemenjaraan jika mereka berbicara tentang kondisi yang mereka temui di Nauru dan Manus.

Sederhananya, kita tidak diizinkan untuk melihat nasib para pengungsi anak-anak, dan sangat kecil kemungkinan kita untuk mengalami respon empatik jika kita tidak dapat melihatnya.

Protes keras yang terjadi baru-baru ini di Australia yang disebabkan rekaman dramatis di atas kapal ekspor ternak hidup menggambarkan fenomena ini secara sempurna. Sebagian besar dari kita akan menyadari bahwa ekspor ternak adalah praktik yang kejam. Namun, kita baru menciptakan momentum untuk membahas perubahan ketika kita dipaksa melihat kenyataan oleh rekaman tersebut.

Permasalahan waktu dan perspektif

Perspektif yang kita ambil juga membuat perbedaan besar. Jika kita dapat dengan mudah menarik perbandingan antara diri kita dengan mereka yang butuh pertolongan kita akan lebih dapat mencurahkan perhatian dan empati kita terhadap mereka.

Mengingat situasi geografi dan iklim di Australia, tidak terlalu sulit bagi orang Australia membayangkan anak-anak Australia terperangkap dalam bencana alam. Jauh lebih sulit bagi mereka membayangkan anak-anak Australia melarikan diri dari tanah kelahiran mereka dan mencari suaka ke negara asing.

Dan jauh lebih mudah untuk mencurahkan simpati terhadap suatu situasi yang akan mencapai suatu akhir atau dengan kata lain dapat diselesaikan.

Masalah kemanusiaan yang terus berlangsung seperti isu pencari suaka atau kekurangan makanan di benua Afrika terasa seperti tantangan besar yang sering kita kategorikan sebagai masalah yang terlalu sulit untuk diatasi. Oleh karena itu, masalah ini memudar dari pikiran kita sementara kita menghadapi masalah yang memiliki penyelesaian yang lebih jelas.


Read more: Psikologi bertahan hidup remaja pemain bola yang terjebak dalam gua di Thailand


Bahasa adalah hal yang penting

Label-label yang kita pakai juga penting dalam menentukan respon kita.

Misalnya, pada tahun 2016, ketika perdana menteri, Tony Abbot menyebut pencari suaka sebagai kekuatan yang menjajah .

Penggunaan bahasa semacam ini sangatlah merusak. Karena ketika kita mencoba untuk memahami ketidakadilan moral, maka dengan segera kita mencoba mengidentifikasi siapa korban dan penjahatnya. Penderitaan tanpa kehadiran penjahat tidak selalu masuk akal bagi kita–meski siapa yang kita sebut penjahat seringkali adalah pilihan subjektif.

Terdapat beberapa penelitian menarik yang membuktikan hal ini. Sebagai contoh, di AS, kepercayaan terhadap Tuhan paling tinggi di negara-negara di mana warganya mengalami penderitaan terbesar–kematian bayi, kematian akibat kanker, bencana alam. Hubungan ini berlaku setelah mengendalikan berbagai penjelasan alternatif, seperti pendapatan dan pendidikan. Tuhan juga dianggap sebagai “penjahat” yang bertanggung jawab atas semua penderitaan yang tidak masuk akal ini.


Read more: Mengapa gunung api meletus?


Tidak mungkin kita melabeli mereka yang menderita karena serangan kimia bukan sebagai korban. Namun, jika kita melihat pencari suaka sebagai pelaku yang melakukan kesalahan yang mencoba curang, kita akan lebih sulit memandang mereka sebagai korban yang membutuhkan welas asih, yang berarti jauh lebih mudah untuk melempar mereka keluar dari lingkaran moral kita.

Apakah kita memiliki tanggung jawab moral untuk berpikir secara berbeda?

Tentu saja kita harus bersimpati kepada tim sepak bola yang sempat terperangkap di dalam gua. Tapi ceritanya akan hilang dari layar kita karena krisis mendesak selanjutnya muncul.

Kita harus memastikan realitas masalah jangka panjang tidak menjadi korban dari kegagalan kognisi moral kita dan menghilang begitu saja dari pikiran kita.

This article was originally published in English

Support evidence-based journalism with a tax-deductible donation today.