Menu
Angelo Carconi/EPA

Bagaimana memperbaiki hubungan kita dengan alam usai coronavirus

Di tengah krisis coronavirus, banyak dari kita kembali ke alam untuk meringankan stres, meningkatkan kesehatan mental, dan tetap aktif secara jasmani.

Walaupun demikian, interaksi manusia dengan alam dan ekosistem berkontribusi pada terjadinya pandemi ini. Jadi, apa pelajaran yang dapat kita ambil dari sini?

Tindakan manusia telah mengubah planet kita, dari darat hingga laut, dan telah menyebabkan hilangnya ekosistem.

Ada bukti kuat bahwa munculnya penyakit zoonosis -penyakit yang berpindah antara hewan- berhubungan dengan perubahan ekosistem dan campur tangan manusia terhadap habitat alam liar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini menghubungkan degradasi lingkungan dengan munculnya pandemi.

Ada 2 penjelasan bagaimana perilaku manusia terhadap lingkungan meningkatkan ancaman wabah seperti coronavirus.

Pertama, pertumbuhan pemukiman dan pembukaan lahan untuk pertanian menambah jumlah wilayah transisi dari ekosistem yang berbeda.

Hasilnya, spesies dari habitat berbeda bercampur dan berinteraksi dengan satu sama lain dengan cara-cara baru.

Kontak baru ini memberikan kesempatan baru bagi penyakit untuk berpindah antarspesies, seperti yang terjadi dengan coronavirus.

Ekspansi manusia ke habitat liar meningkatkan ancaman penyakit baru, seperti coronavirus. huyangshu/Shutterstock

Kedua, pemicu penyakit zoonosis adalah hilangnya keanekaragaman hayati.

Penurunan keanekaragaman hayati mendorong hewan pembawa dan penyebar patogen menular (vektor penyakit) untuk memangsa vertebrata ketimbang spesies lain yang tidak lagi berlimpah.

Spesies lain tersebut akhirnya menjadi tempat penampungan utama dari patogen.

Contohnya, meningkatnya risiko penyakit Lyme bagi warga yang tinggal di Amerika Utara.

Fragmentasi hutan dapat menyebabkan turunnya keberagaman vertebrata dan meningkatkan keberlimpahan beberapa spesies umum, seperti tikus putih.

Spesies ini kemudian menjadi penampung utama bagi bakteri yang menyebabkan penyakit Lyme.

Di sisi lain, keanekaragaman hayati yang tinggi dapat mengurangi risiko bagi kesehatan manusia.

Dasar mekanisme ini disebut sebagai “efek pengenceran” (the dillution effect).

Mekanisme ini mengurangi kepadatan relatif hewan yang berperan sebagai penampung alami bagi patogen dan kepadatan populasi vektor patogen (seperti kutu).

Artinya, pertemuan antara vektor dan hewan yang terinfeksi penyakit berkurang.

Manfaat dari alam

Dari perspektif kesehatan mental, kontak manusia dengan lingkungan merupakan salah satu bagian penting dalam merespons wabah.

Ada orang yang cukup beruntung tinggal di daerah yang masih memungkinkan untuk kegiatan luar ruangan, seperti jalan kaki, olahraga, dan menikmati keindahan sungai, ruang terbuka hijau dan hutan kota, sambil mematuhi peraturan jaga jarak dan jumlah kelompok.

Selama wabah, kita tidak bisa menghiraukan adanya kebutuhan-kebutuhan tersebut demi kesehatan diri.

Sains telah lama membuktikan bahwa akses ke ruang hijau kota seperti taman dan danau mempunyai dampak positif bagi kesehatan.

Hal ini disebabkan oleh kualitas udara yang lebih baik, kegiatan fisik, solidaritas sosial, dan mengurangi stres.

Bukti lain juga menunjukkan interaksi dengan alam membantu kita pulih lebih baik dari stres.

Berada di alam telah menjadi obat penting bagi beberapa orang di masa stres. Filip Singer/EPA

Menghijaukan kota tidak hanya mendukung kesehatan manusia, namun juga mendatangkan manfaat lain.

Penghijauan menguntungkan secara ekonomi, membantu mengurangi efek pulau panas di perkotaan atau heat island effect saat peningkatan suhu esktrem, dan memperbaiki kualitas udara.

Area hijau juga dapat membantu mengurangi risiko banjir karena air banyak terserap oleh lahan dan akhirnya mengurangi jumlah air berlebih saat hujan deras.

Terakhir, kota hijau dapat membuat habitat baru bagi spesies tanaman dan hewan.

Apa yang bisa kita lakukan ke depan

Harapan saya, pandemi coronavirus bisa mendesak aksi untuk mengatasi pemicu wabah ini, seperti degradasi ekosistem dan kehilangan keanekaragaman hayati.

Tantangan besar adalah untuk menjaga lingkungan terutama saat krisis iklim terjadi dengan cepat.

Hal ini bisa membuat orang merasa kewalahan dan merasa tidak bisa berkontribusi untuk perubahan.

Namun, pengalaman saat ini juga memperlihatkan kesempatan unik untuk keluar dari pandemi ini dan menjalin hubungan lebih baik dengan alam.

Setelah pandemi berakhir, kita harus tetap mengakui dan mendorong pentingnya keberadaan ruang terbuka hijau.

Apabila dikelola dengan tepat, ini bisa mendorong aksi komunitas untuk menjaga ekosistem dari kerusakan akibat tindakan manusia.

Di masa depan, pengembangan kota perlu memprioritaskan ruang hijau yang ada dan membangun ruang hijau yang baru dalam batas kota.

Ruang hijau dalam kota mendukung upaya menjadi sehat tanpa mengurangi keanekaragaman hayati wilayah lain.

Merasakan alam di luar wilayah kota akan tetap jadi hal yang penting untuk menjaga kesehatan manusia.

Tapi, ini mungkin dapat dirasakan dalam jangka panjang jika kita dapat menemukan keseimbangan yang sehat antara penggunaan sumber daya dan perlindungan alam.

Penegakan dan penguatan peraturan untuk melindungi atau mengembalikan wilayah keanekaragaman hayati juga vital.

Biaya pengelolaan kawasan untuk konservasi dan rekreasi keanekaragaman hayati akan lebih mudah dikomunikasikan jika berbagai manfaat menjadi pertimbangan, termasuk kontribusi mereka terhadap kesehatan manusia.

Strategi hijau yang membantu kita bangkit kembali setelah coronavirus dapat menunjang perkembangan berkelanjutan dalam banyak hal.

Ini penting tidak hanya untuk kesehatan fisik dan mental, namun juga untuk memastikan capaian global seperti memerangi perubahan iklim dan mengurangi risiko bencana alam.


Nadila Taufana Sahara menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 112,900 academics and researchers from 3,686 institutions.

Register now