Sanitasi di pinggir Kali Ciliwung, Kampung Melayu, Jakarta, 2008. Joachim Affeldt/Shutterstock

Benarkah tak ada kasus kolera di Indonesia atau tersamarkan dengan sebutan diare?

Laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) terbaru menyebut tak ada kasus kolera di Indonesia dalam peta kasus kolera periode 2010-2014.

Sampai 2018 pun tidak ada (data tak tersedia) kasus kolera di negeri ini, sementara kasus penyakit menular ini masih ditemukan di negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan.

Di sisi lain, banyak ditemukan kasus diare di negeri ini dan tingkat perilaku hidup bersih dan sehat hanya 32,3%. Maka muncul pertanyaan: benarkah kasus diare kolera benar-benar telah hilang dari bumi Indonesia ataukah terdapat kasus tapi tidak dilaporkan atau tersamarkan sebagai diare?

Lebih penting lagi, apakah ada yang salah dalam sistem untuk mengidentifikasi penyakit yang bisa menyebabkan kematian dan berpotensi wabah ini?

Menular dan mematikan

Kolera merupakan salah satu penyakit menular yang harus dipantau terus menerus oleh petugas kesehatan dari tingkat daerah sampai pusat, karena penyakit ini berpotensi menimbulkan wabah dan berdampak masalah kesehatan.

Pada 1995-2005 WHO melaporkan lebih dari 1,8 juta orang terjangkit kolera di beberapa negara dan membunuh 56.000 jiwa. Pada periode 2006 hingga 2016 tercatat lebih dari 2,6 juta kasus kolera dengan kematian 46.881 jiwa.

Diare dapat disebabkan oleh bakteri, virus, dan parasit. Penyakit kolera merupakan penyakit diare yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae. Makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri tersebut dapat menyebabkan kolera. Bakteri kolera dapat ditemukan pada penderita yang terinfeksi kolera, tapi dapat juga ditemukan di alam bebas. Bahkan kini bakteri ini juga dapat ditemukan binatang laut seperti kepiting, kerang, tiram dan remis.

Orang yang terinfeksi bakteri kolera akan mengalami gejala muntah, buang air besar seperti air cucian beras dalam jumlah banyak (1 liter per jam) sehingga mengalami dehidrasi, kehilangan elektrolit dan keasaman darahnya naik.

Pada kasus yang berat, penderita kehilangan cairan dan elektrolit dengan cepat dan banyak sehingga terjadi renjatan keasaman metabolik. Bila tidak diobati akan menyebabkan kematian. Penularan dan penyebaran kolera terjadi karena kontaminasi sumber air minum atau makanan yang dimasak tidak matang.

Faktor risiko paling dominan terjadinya penyakit kolera adalah kondisi sanitasi dan higiene yang buruk seperti tidak ada sarana ketersediaan air bersih, tidak ada jamban yang memadai, perilaku tidak cuci tangan, tak menjaga kebersihan badan, dan buang air besar sembarangan.

Kasus kolera di Indonesia

Dalam laporan terakhir periode 2017-2018, WHO melaporkan kasus kolera di beberapa negara Afrika, termasuk Yaman, tapi kasus dari Indonesia tidak ada di laporan tersebut.

Data WHO biasanya merujuk pada data resmi kementerian kesehatan masing-masing negara. Namun data kasus kolera di Indonesia tidak terlapor secara kumulatif di pusat data dan informasi kesehatan Kementerian Kesehatan. Bahkan pada 2015 data kolera dari negara Bangladesh, Bhutan, dan Indonesia tidak tersedia di WHO.

Data yang tersedia saat ini di Indonesia hanya data diare yang bersifat umum. Artinya diare yang terdokumentasi itu disebabkan oleh banyak hal dan tidak spesifik. Data tersebut juga hanya didasarkan pada gejala klinis atau keterangan melalui proses wawancara tanpa penunjang diagnostik laboratorium. Beberapa kasus diare massal juga dilaporkan media massa seperti tahun lalu di Depok.

Meski demikian, karena kolera pernah terjadi di Indonesia sehingga agen kolera pada penderita diare masih ada dan akan selalu ada serta potensial mengancam wilayah ketika faktor risiko kejadian kolera terpenuhi.

Pada 2008, kolera menyebabkan 105 orang meninggal di kabupaten Paniai dan Nabire Papua. Kasus kolera lainnya ditemukan di beberapa provinsi seperti Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Banten antara 2009 dan 2011.

Sebelumnya kasus kolera pernah dilaporkan di beberapa tempat Indonesia pada periode 1993–1999 berdasarkan penelitian yang berbasis rumah sakit di tujuh provinsi . Dari 6882 sampel yang diduga diare didapat 589 (9%) sampel positif terkena kolera.

Tersamarkan dengan sebutan diare?

Dalam keadaan kondisi yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan kolera, bakteri kolera dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dengan cara dorman. Bakteri ini akan berkembang kembali ketika suasananya mendukung. Dalam kondisi apa pun bakteri kolera masih ada di lingkungan sambil menunggu dan siap menyebabkan penyakit.

Faktor risiko kolera ada di Indonesia karena indikator perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di Indonesia masih rendah, 32,3%. Di Papua tingkat indikator perilaku bersih dan sehat (PHBS) terendah di Indonesia, yaitu hanya 16,4%. Meski faktor risiko ada, tidak terdengar adanya kasus kolera di Papua sampai awal 2019.

Ada kemungkinan bahwa kasus-kasus kolera dimasukkan ke data diare dengan definisi yang bersifat umum. Terkadang data tersebut tidak disertai diagnosis laboratorium sehingga kasus kolera tidak terlacak. Jadi, mungkin ada kasusnya tapi diklasifikasikan sebagai kasus diare, bukan kasus kolera.

Apa yang harus dilakukan pemerintah?

Dengan melihat kondisi tersebut maka Kementerian Kesehatan perlu memperbaiki sistem penemuan kasus, pelaporan, dan penegakan diagnosis kolera.

Kementerian kesehatan perlu membuat ruang tersendiri dalam bentuk laporan, bisa berupa sistem data base diare kolera online tersendiri (datanya jangan digabung dengan diare) yang bisa di-input dari tingkat Puskesmas sampai ke pusat. Bila perlu gejala diare yang mengarah ke kolera menjadi perhatian serius dengan melakukan diagnosis laboratorium.

Kementerian perlu menyampaikan laporan kasus secara terbuka. Kasus kolera di suatu negara dapat menjadi travel warning bagi negara-negara yang akan berkunjung. Hal ini jangan menghalangi pemerintah untuk menyampaikan temuan kasus kolera kepada publik. Sampaikan setiap laporan kejadian kolera secara berjenjang sesuai kesepakatan International Health Regulation (IHR) 2005.

Kementerian perlu memfasilitasi diagnosis dengan melengkapi pemeriksaan kolera di laboratorium sampai tingkat pusat kesehatan masyarakat.

Pendeknya, situasi dan kondisi negara Indonesia saat menunjukkan adanya faktor risiko timbulnya kasus kolera. Namun karena definisi diare, pelaporan, penemuan, dan deteksi kasus kolera yang kurang maksimal, kasus kolera di Indonesia menjadi tidak terlacak.