Menu Close

Berlayar ke selatan: mengapa nelayan Indonesia mengambil risiko besar berlayar ke perairan Australia

James Fox
Perahu layar Lambo di Scott Reef. Author provided

Ini bukanlah tahun yang baik bagi para nelayan Indonesia, yang nenek moyangnya telah berlayar selama berabad-abad ke perairan Australia. COVID-19 berdampak negatif pada kehidupan mereka. Harga ikan menurun drastis, dan penyakit yang dikenal sebagai ais-ais muncul kembali di rumput laut yang mereka budidayakan sebagai sumber penghasilan tambahan.

Akibatnya, seperti diceritakan pada kami, para nelayan tidak punya banyak pilihan selain kembali berlayar ke selatan. Banyak nelayan Indonesia kembali berlayar ke perairan Australia, secara illegal. Karena itu, ini menjadi tahun pertama sejak 2008 dengan lebih dari 100 penangkapan.

Dahulu, di periode antara 2005 dan 2008, pemerintah Australia melakukan kampanye terpadu untuk mengurangi meningakatnya jumlah nelayan Indonesia yang menerobos perairan Australia. Pada tahun 2005-2006, ada 412 penangkapan, namun secara bertahap berkurang menjadi 147 pada 2007-2008. Pada saat itu, sebagian besar nelayan Indonesia yang menggunakan kapal motor kecil, yang dikenal sebagai bodi, menargetkan hiu untuk diambil siripnya di sepanjang perairan selatan hingga Rowley Shoals.

Sekarang, kebanyakan dari mereka berangkat dari Pulau Rote dan berlayar ke Rowley Shoals khusus untuk mencari teripang. Para nelayan melaporkan bahwa dengan menggunakan GPS sebagai pemandu, mereka dapat mencapai Rowley Shoals, sejauh 850 kilometer, dalam tiga hari tiga malam. Di lokasi ini, mereka dapat memenuhi perahu dengan teripang hanya dalam hitungan jam dan kemudian segera kembali.

Pasar pecinta kuliner

Harga teripang terus meningkat. Dan harga untuk spesies eksotik tertentu, khususnya ikan Koro Susu (H. fuscogilva), melonjak.

Perdagangan teripang melayani pasar pecinta kuliner yang berpusat di China. Ada perbedaan besar dalam kualitas kuliner dan harga dari berbagai jenis teripang.

Teripang disusun di atas geladak kapal penangkap ikan menurut spesiesnya. James Fox, Author provided (no reuse)

Selama beberapa dekade eksploitasi, perairan Indonesia telah kehilangan teripang dengan harga tertinggi dan kualitas terbaik, sementara terumbu di Australia utara menawarkan kelimpahan makhluk ini yang dapat dengan mudah dikumpulkan.

Para nelayan tahu risiko yang mereka ambil, tetapi timbal baliknya memanglah sangat menggiurkan. Jika berhasil, setiap anggota kru bisa mendapatkan jutaan rupiah untuk perjalanan seminggu. Sebagian besar bodi memiliki lima orang awak kapal dengan pengetahuan mumpuni tentang perairan Australia.

Area pelayaran

Area tangkapan mereka adalah perairan tempat para nelayan Indonesia telah berlayar selama ratusan tahun. Setiap terumbu utama yang menjadi rumah bagi sekawanan teripang memiliki nama Indonesianya sendiri: Ashmore adalah Pulau Pasir, Cartier adalah Pulau Baru, Scott Reef adalah Pulau Dato, dan Rowley Shoals dikenal sebagai Pulau Bawah Angin.

Map of maritime boundaries
Berdasarkan MoU tahun 1974 antara pemerintah Australia dan Indonesia, ‘nelayan tradisional’ diberi akses ke ‘zona penangkapan ikan tertentu yang diumumkan’ yang mencangkup karang-karang tertentu di sebelah selatan Pulau Rote. Author provided

Sebagian besar nelayan ini berasal dari beberapa desa nelayan tertentu di Pulau Rote. Yang terbesar dari desa-desa ini adalah pemukiman muslim Papela di ujung timur pulau. Lokasi ini telah menjadi tempat berkumpulnya para nelayan selama lebih dari 100 tahun.

Di dalam sebuah nota kesepahaman (MoU) antara pemerintah Australia dan Indonesia yang ditandatangani pada tahun 1974, “nelayan tradisional” diberi akses ke “zona penangkapan ikan tertentu yang diumumkan” yang mencakup beberapa terumbu khusus di selatan Rote. Pemerintah Australia tidak pernah mendefinisikan siapa “nelayan tradisional” ini kecuali dengan metode yang mereka gunakan: oleh karena itu persyaratan untuk mengakses area yang disebut “Kotak MOU” adalah bahwa perahu yang digunakan hanya boleh menggunakan tenaga layar.

Peraturan ini berlanjut hingga saat ini. Setiap tahun armada kecil perahu layar yang dikenal sebagai lambo berangkat dari desa Oelaba untuk mengumpulkan teripang dan trochus di Scott Reef. Armada ini telah berlayar dan kembali tahun ini.

Karena ekspedisi pengumpulan semacam ini telah berlangsung selama beberapa dekade, tangkapan tahunan telah berkurang, dan armada layar juga berkurang. Hal ini menimbulkan godaan untuk mengumpulkan teripang di tempat lain baik di Ashmore Reef, yang dilarang bagi nelayan Indonesia sejak tahun 1989 ketika dinyatakan sebagai cagar alam nasional, atau di Rowley Shoals, yang tidak pernah dimasukkan dalam MoU.

Saat ini, nelayan juga diperbolehkan berlayar ke dalam Kotak MoU untuk menangkap sirip hiu. Beberapa perahu dari Papela terus melakukannya. Tapi ini bukan daerah terbaik untuk menangkap ikan hiu, dan tren di Papela adalah mengganti kapal layar tradisional dengan bodi bermotor yang lebih kecil.

Pendekatan yang lebih baik

Para nelayan mengatakan bahwa ketika ditangkap, teripang hasil tangkapan dan peralatan mereka disita dan difoto bersama dengan perahunya. Nelayan menggambarkan hal ini sebagai ‘dicap’ –dimasukkan dalam daftar kuning. Mereka diperingatkan jika ditangkap untuk kedua kalinya, perahunya akan disita dan dibakar.

Meskipun beberapa nelayan telah mengecat ulang perahu mereka sebelum melakukan perjalanan kedua, siasat ini tidak berhasil. Seiring berjalannya musim, semakin banyak kapal yang dibakar dan awaknya dipindahkan ke kapal lain dan dikirim kembali.

Pemerintah Australia tampaknya telah memilih pencegahan dan penangkapan daripada bantuan dan pembinaan.

Apa yang telah sepenuhnya dilupakan adalah komitmen Australia dalam MoU tahun 1974 yang secara eksplisit ditegaskan kembali pada tahun 1989: “untuk membuat pengaturan kerja sama dalam mengembangkan proyek pendapatan alternatif di Indonesia Timur bagi nelayan tradisional yang secara tradisional terlibat dalam penangkapan ikan di bawah MoU”.

Pemerintah Indonesia dan Australia harus memperbaharui kerja sama mereka dalam membantu masyarakat nelayan miskin di Pulau Rote. Lebih penting lagi, untuk memenuhi permintaan pasar kuliner yang kaya di Cina, pemerintah Indonesia harus mempromosikan restorasi teripang di daerah-daerah di mana mereka pernah berkembang biak. Ini akan menjadi sumber keuntungan bagi para nelayan di seluruh Indonesia bagian timur.


Rachel Noorajavi menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 156,300 academics and researchers from 4,519 institutions.

Register now