‘Brave new world’ perbukuan Indonesia

Kelesuan penjualan di gerai-gerai buku di tahun 2014 bisa jadi bukan soal penurunan produksi dan konsumsi buku tetapi menunjukkan perubahan pola. Shutterstock

Artikel ini adalah yang keempat dalam seri tulisan memperingati Hari Aksara Internasional yang jatuh pada tanggal 8 September.


Apakah Anda menyadari perubahan janggal pada gerai buku besar di sekeliling Anda? Bagaimana mereka kini lebih menyerupai toko alat tulis, perkakas, musik ketimbang toko buku itu sendiri?

Gerai-gerai buku besar itu, terutama Gramedia, tengah mencoba menata ulang dirinya di tengah peralihan dramatis habitus literasi di Indonesia.

Tahun 2014, tahun lesu

Pada tahun 2014, penjualan buku melalui gerai-gerai besar menurun cukup banyak.

Distributor dan penerbit yang saya temui mengeluhkan penurunan pendapatan yang sangat kentara. Saya, sebagai seseorang yang sempat giat bergelut di dunia penerbitan buku, ingat betul dengan masa itu. Tahun itu, judul-judul buku yang saya terbitkan saya taksir terjual setidaknya 500 eksemplar, tak sampai separuhnya. Saya memutuskan untuk menghentikan sementara penerbitan buku.

Penerbit saya, kendati demikian, bukan penerbit yang mengalami penurunan paling tajam. Imelda Akmal dari penerbit buku arsitektur, Imaji Publishing, menggambarkan, omset dari gerai buku besar yang jumlahnya Rp125 juta per bulan terus terpuruk sejak 2014 hingga kini tinggal tersisa Rp25 juta per bulan.

Informasi yang saya peroleh dari percetakan maupun penyalur, penerbit-penerbit yang jamak mendistribusikan 3.000 eksemplar buku per judul memangkas oplah mereka hingga 1.000-1.500 eksemplar. Penerbit-penerbit yang biasa mendistribusikan 500-1.000 eksemplar tak sedikit yang mati atau mati suri. Ada pula yang beralih menerbitkan buku-buku proyek dan pesanan.

Gramedia kini bukan hanya lebih banyak menjual produk-produk di luar buku. Penyeleksian buku yang mereka lakukan terhadap penerbit-penerbit kian ketat. Dari pengalaman penerbit saya, mereka hanya menerima buku dengan tampilan yang menarik, dan dapat dengan sigap menolak buku yang ditaksirnya tidak akan laris.

Perwakilan dari Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Candra Gautama, dalam bedah buku KPG di Universitas Islam Negeri Jakarta, 20 Maret 2017, mengatakan bahwa KPG kini bukan lagi sebatas penerbitan buku. Mereka juga menjadi perusahaan penyebar gagasan melalui berbagai media. Untuk melakukannya, mereka menyediakan tim yang piawai di bidang riset, pembuatan video, editorial, dan lain sebagainya.

Saya menangkap sebuah pengakuan bahwa usaha buku, yang menjadi kekuatan mereka sepanjang beberapa dekade, tak bisa lagi mereka andalkan untuk menyambung bisnisnya. Mereka harus mencoba peluang usaha lain untuk dapat selamat.

Apa yang menyebabkan anjloknya penjualan buku? Sebagian menyalahkan perlambatan ekonomi. Sebagian yang lain menganggap kepopuleran gawai dan internet penyebabnya.

Perubahan pola, bukan penurunan

Akan tetapi, adalah hal yang keliru untuk menganggap industri buku benar-benar mandek pada kurun ini. Data Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) menunjukkan bahwa jumlah ISBN (International Standard Book Number), deretan angka yang memberi identifikasi unik sebuah buku yang berlaku di seluruh dunia, yang terdaftar di perpustakaan nasional meningkat cukup banyak. Antara 2013 ke 2014, bertambah 7.703 judul atau meningkat 21%, kendati jumlah buku di Gramedia menurun 9% di tahun yang sama.

Dengan tafsir optimistis atas angka-angka ini, kelesuan yang dirasakan beberapa pihak di tahun 2014 bisa jadi bukan menandai penurunan pola produksi dan konsumsi buku, melainkan perubahan pola literasi Indonesia.

Perlu penelitian lebih mendalam untuk mendukung tafsir optimistis, tapi bukti-bukti juga tidak sedikit. Dalam kunjungan saya ke perpustakaan kampus serta instansi di sejumlah daerah beberapa tahun terakhir, saya rutin menemukan buku-buku dari penerbit yang sebelumnya tak saya dapati kabarnya lagi.

Penerbit seperti Ombak, yang menggiati buku sejarah, rupanya masih konsisten menerbitkan judul-judul baru, baik karya penulis dalam negeri maupun terjemahan buku sejarah monumental. Ketika berjumpa dengan orang yang bertanggung jawab untuk pemasaran buku-buku Ombak di sebuah pameran, ia menyampaikan, Ombak kini mengandalkan pemasaran langsung ke instansi-instansi pemerintah dan universitas.

Ombak sendiri adalah penerbit yang berdomisili di Yogyakarta. Model bisnis seperti ini cocok untuk penerbit Yogyakarta. Mereka dapat mencetak buku dengan oplah terbatas namun dengan biaya tidak terlalu mahal serta memiliki jaringan perkawanan yang dapat diberdayakan untuk membantu produksi dan distribusi buku. Mereka dapat mencetak 50 buku dengan biaya cetak satuan yang sama dengan biaya cetak satuan 500 buku di Jakarta.

Mereka, artinya, dapat berproduksi ketika ada permintaan untuk pengadaan, lelang, pameran, dan tak dibebani tuntutan menjual ratusan atau ribuan buku yang telah telanjur tercetak.

Gawai, media sosial, toko daring, yang menggerus gerai-gerai buku besar, juga membuka jalur-jalur baru pendistribusian buku dari penerbit ke pembaca.

Apa yang pertama dilakukan oleh Ombak ketika buku barunya terbit? Pemiliknya, dengan akun Facebook-nya yang sudah berjejaring dengan para peminat buku sejarah, mempromosikannya melalui laman tersebut. Strategi ini jamak dilakukan penerbit, penulis, dan kini gerai buku daring yang dikelola satu-dua orang yang memang menekuni dunia buku.

Buku-buku yang diminati dapat cepat terjual ludes melalui jalur ini. Satu gerai daring Berdikari Book, misalnya, dapat menjual 700-1.000 buku yang sangat diminati melalui akun-akun jejaring sosialnya. Buku Tidak Ada New York Hari Ini, di tangan akun Dema Buku sendiri, terjual sampai 2.500 eksemplar.

Peluang bagi buku ‘serius’

Kehadiran pola baru penyaluran dan perolehan buku ini, tentu saja, pada dirinya sendiri menarik. Namun, ada dua perubahan yang dipantik pola baru ini yang penting diperhatikan.

Pertama, melalui ruang-ruang daring ini, buku-buku sastra, humaniora, ilmu sosial memperoleh tempat yang lebih teperhatikan di antara para peminatnya.

Di gerai buku konvensional, buku-buku ini tak memperoleh ruang yang benar-benar teperhatikan karena ia harus beradu dengan buku-buku motivasi, manajemen, kiat-kiat yang laris manis, dan sering dikembalikan ke penerbit hanya dalam kurun tiga bulan.

Dikombinasikan dengan sistem produksi cetak kala ada permintaan, pola distribusi melalui jejaring sosial ini artinya berpotensi melecut pertumbuhan buku-buku serius, bernas, dan berkualitas.

Kedua, ia memangkas rantai yang selama ini paling mencekik dalam distribusi buku di Indonesia: jaringan toko buku raksasa. Untuk dapat menyalurkan buku ke Gramedia, sudah menjadi pengetahuan umum penerbit bahwa mereka harus merelakan 50-55% hasil dari setiap buku yang dijualnya kepada toko buku dan penyalur. Bila penerbit dapat memanfaatkan pola baru ini secara optimal, mereka dapat jauh lebih lega bernapas dalam berproduksi buku.

Perubahan yang terjadi di dunia buku saat ini, dengan demikian, mempunyai peluang untuk menjadi ranah yang lebih baik bagi penerbit dan pembaca. Namun, tentu saja, masih terlalu dini untuk memastikan kita akan memperoleh faedahnya belaka. Perkiraan-perkiraan pesimistis? Ada saja.

Saya, sebagai contoh, baru menyinggung perihal buku-buku humaniora serius. Kenyataannya, kita mesti bersiap-siap pula kalau-kalau situasi baru ini membuka keran untuk membanjirnya buku-buku bermuatan fitnah, ujaran kebencian, informasi palsu, atau jiplakan tak bertanggung jawab.

Kendati demikian, yang terpenting, kita punya alasan untuk optimistis. Satu hal ini, saya kira, cukup untuk menjadi suluh kita menapaki belantara belum terjamah masa depan literasi Indonesia.