Menu Close

Bukan salju, tapi jamu: saatnya kita melibatkan wawasan lokal dalam pembelajaran sains di Indonesia

(ANTARA FOTO/Wahyu Putro)

Sampai saat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi cenderung berkiblat pada dunia Barat. Pengaruh ini pun dapat kita rasakan dalam kurikulum pendidikan, termasuk dalam pembelajaran sains (Kimia, Fisika, dan Biologi) di sekolah maupun perguruan tinggi.

Dalam pembelajaran, seringkali contoh peristiwa atau fenomena sains diambil dari konteks dunia Barat.

Penggunaan contoh fenomena salju dalam pelajaran Kimia bisa jadi bukan cara terbaik untuk mengajarkan penurunan titik beku pada murid-murid di Indonesia. (Pexels/Karolina Grabowska), CC BY

Misalnya, dalam pelajaran Kimia, bidang yang saya ajar dan teliti, guru dan dosen kerap mengajarkan sifat koligatif larutan (terkait berubahnya titik didih dan beku) dengan mencontohkan aktivitas menabur garam ke jalanan ketika salju turun. Garam menyebabkan air atau salju membeku pada suhu yang lebih rendah sehingga akan lebih mudah mencair.

Aktivitas menaburkan garam ini tentu tidak akan terjadi di negara tropis seperti Indonesia. Alih-alih memberi contoh kontekstual, ini bisa membuat siswa semakin sulit membayangkan apa yang sedang mereka pelajari.

Permasalahan ini ternyata tak hanya terjadi di Indonesia atau negera-negara non-Barat. Di Amerika Serikat (AS) saja, sebagai negara yang multi-etnis, perspektif pembelajaran yang terlalu ‘kebaratan’ bisa menimbulkan kesulitan pada murid yang berlatar belakang non-Barat, sehingga tetap kesulitan menghubungkannya dengan budaya dan pengalaman hidup.

Beberapa penelitian telah mencoba mengintegrasikan budaya populer dalam pembelajaran kimia. Media seperti film, komik, K-pop, atau anime, tentu dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa atau mahasiswa. Mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran bisa membuatnya jadi menarik dan mudah dikenali (relatable).

Contohnya adalah materi kimia unsur atau sistem periodik unsur. Pada pembelajaran materi ini, siswa ditantang dengan pertanyaan tentang ‘vibranium’, unsur fiktif yang ada di komik dan film Marvel.

Tapi, bagaimana dengan budaya lokal? Bisakah ini diterapkan juga dalam pembelajaran?

Menempatkan ‘indigenous knowledge’ dalam pendidikan

Budaya lokal adalah keseharian para siswa. Mengintegrasikannya dalam pembelajaran akan membuat mereka lebih mudah mengaitkan materi di kelas dengan pengalaman hidup mereka. Pada akhirnya, ini akan membuat pembelajaran menjadi lebih kontekstual.

Sebenarnya, sudah ada banyak penelitian dan eksplorasi budaya lokal yang bisa dikaitkan dengan fenomena sains – kerangka ini kerap disebut ‘etnosains’. Hasil eksplorasi ini kemudian bisa kita terapkan di tingkat sekolah menengah maupun perguruan tinggi.

Etnosains (ethnoscience) berasal dari konsep ‘ethno’ (bangsa atau budaya bangsa) dan ‘science’ (pengetahuan). Kita bisa mengartikannya sebagai pengetahuan yang dimiliki suatu bangsa, suku bangsa, atau kelompok sosial tertentu sehingga menjadi bentuk kearifan lokal.

Etnosains mengacu pada sistem pengetahuan yang khas dari budaya tertentu yang sering kita sebut sebagai pengetahuan asli (indigenous knowledge).

Salah satu contoh pengetahuan asli masyarakat adalah pada berbagai pemanfaatan tanaman untuk pengobatan. Atau, pemanfaatan tanaman seperti umbi gadung, sambiloto, dan akar tuba, sebagai pestisida alami untuk pengendalian hama.

Selain itu, etnosains juga dapat kita temui pada pemanfaatan daun dan biji mimba (Azadirachta indica) sebagai pembasmi larva Aedes aegypti.

Setiap unsur aktivitas atau proses yang terjadi pada contoh-contoh budaya tersebut dapat kita eksplorasi dan kaitkan dengan konsep, prinsip, hukum, atau teori dalam sains. Selain membuat pembelajaran menjadi kontekstual, cara ini sekaligus melestarikan budaya yang ada di masyarakat kepada para siswa.

Beberapa riset pun telah menjelaskan manfaat integrasi etnosains dalam pembelajaran. Di antaranya, berperan dalam meningkatkan pemahaman budaya murid (cultural awareness) hingga penanaman kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan analitis, dan kontekstual.

Dari pembuatan jamu hingga pembersihan keris

Kebiasaan masyarakat, adat istiadat, atau budaya lokal dapat menjadi media belajar yang unik dan menyenangkan.

Dalam pembelajaran Kimia, pengetahuan asli masyarakat mulai banyak dikenalkan baik di sekolah menengah maupun di perguruan tinggi.

Misalnya, proses pembuatan jamu tradisional bisa menjadi contoh dalam pengajaran materi tentang pemisahan campuran. Pembuatan jamu melibatkan proses ekstraksi pelarut, penyaringan, atau pengendapan yang merupakan teknik-teknik dalam pemisahan campuran.

Proses pemisahan campuran dalam pembuatan jamu bisa jadi studi kasus pembelajaran Kimia bagi murid. (Shutterstock)

Murid dan mahasiswa dapat mengamati proses pembuatan jamu dan menganalisis penggunaan pelarut yang sesuai, guna mendapatkan ekstrak yang kaya akan bahan aktif atau ekstrak dengan rendemen (chemical yield) yang tinggi.

Contoh lain adalah pada pembelajaran mengenai zat aditif (bahan tambahan) makanan. Siswa dapat mengenal zat aditif alami dan buatan, sumber-sumber alami yang dapat dijadikan zat aditif, misalnya sebagai pewarna, penyedap, atau pengawet makanan.

Aktivitas jamasan atau pembersihan pusaka dalam budaya Jawa, juga dapat kita kaitkan dengan pengenalan konsep reduksi dan oksidasi (redoks). Konsep redoks dalam kimia muncul dalam proses pencucian keris yang terbuat dari logam dengan bahan-bahan alami. Misalnya, penggunaan air jeruk nipis yang bersifat asam untuk menghilangkan karat.

Proses jamasan juga menggunakan warangan, yaitu larutan yang mengandung arsenik, untuk memunculkan kembali pamor (motif) pada keris. Karena larutan ini beracun, mahasiswa bisa kita tantang untuk mencari pengganti arsenik pada prosesi jamasan.

Proses jamasan atau pembersihan pusaka melibatkan konsep reduksi dan oksidasi. (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)

Mulai mengajar dengan lebih kontekstual

Guru dan dosen bisa mulai menggunakan pendekatan ini dalam pembelajaran sains.

Untuk memulainya, guru terlebih dahulu mengeksplorasi dan merekonstruksi budaya yang ingin mereka terapkan. Dari sini, mereka bisa mengetahui konsep-konsep sains apa saja yang dapat muncul. Setelah itu, guru dapat menetapkannya untuk diintegrasikan pada pembelajaran yang terkait.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian, integrasi budaya lokal dalam pembelajaran dapat membantu mengkonstruksi konsep sains modern dengan tetap mempertahankan kearifan lokal.

Ada banyak hal dalam kebudayaan Indonesia yang bisa kita gunakan untuk membuat pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan menarik – tanpa harus mengandalkan fenomena salju atau semesta Marvel.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 182,300 academics and researchers from 4,942 institutions.

Register now