Menu

Coronavirus mingguan: rasisme, COVID-19, dan ketimpangan yang memicu munculnya ‘pandemi’ paralel lainnya

Lazzaro/Alive Coverage/Sipa USA

Protes-protes terhadap rasisme sistemis dan kebrutalan polisi yang sedang melanda dunia menunjukkan adanya persinggungan antara dua pandemi: COVID-19 dan rasisme. Para peneliti telah mengatakan bahwa ketimpangan struktural membuat orang dengan kulit berwarna akan mendapatkan dampak yang lebih buruk dari coronavirus.

Para politisi juga khawatir jika protes-protes yang dilakukan dapat memicu peningkatan penyebaran COVID-19. Maka dari itu, para pakar kesehatan masyarakat memberikan beberapa tips agar protes dapat dilakukan dengan aman.

Selain itu, ketika banyak negara sedang berjuang menghadapi angka kasus COVID-19 yang kian meningkat, Selandia Baru mengumumkan bahwa mereka telah berhasil memberantas coronavirus, dan sekarang berfokus untuk tetap mempertahankan keberhasilan ini.

Dalam kompilasi artikel-artikel coronavirus dari berbagai peneliti di seluruh dunia, kami menjabarkan dampak-dampak yang kurang terekspos dari COVID-19, kesuksesan Selandia Baru, dan uji coba terbaru untuk obat coronavirus.


Ini adalah kumpulan informasi mingguan kami dari para ahli tentang coronavirus.
The Conversation, adalah sebuah kelompok nirlaba, bekerja dengan berbagai akademisi di seluruh jaringan globalnya. Bersama-sama kami menghasilkan analisis dan pandangan berbasis bukti. Artikel-artikel ini gratis untuk dibaca - tidak ada pembayaran apa pun - dan bisa diterbitkan ulang. Tetap perbarui informasi dengan riset terbaru dengan membaca nawala gratis kami.


Pandemi mengungkap ketimpangan

Pandemi di masa lalu telah mengekspos ketimpangan yang ada, dan pandemi yang ini juga tidak berbeda. Para ahli kami menjelaskan mengapa COVID-19 berdampak lebih besar bagi orang-orang kulit berwarna dan kelompok-kelompok terpinggirkan lainnya.

  • Dampak yang tidak seimbang. Di Amerika Serikat, angka kematian orang kulit hitam lebih tinggi 3 kali lipat dibanding orang kulit putih. Sedangkan di Inggris, orang kulit hitam 4 kali lipat lebih rentan meninggal akibat COVID-19, jika dibandingkan dengan warga negara berkulit putih. Sejarawan di bidang medis, Mark Honigsbaum, menulis tentang hubungan antara pandemi dan ketimpangan.

  • Keadilan sosial sangat penting di bidang kesehatan. Menurut sebuah tim interdisipliner yang terdiri dari peneliti-peneliti kesehatan di Amerika Serikat, rasisme sistemis telah mengakibatkan berbagai kelompok terpinggirkan mengalami kesulitan dalam mengakses berbagai fasilitas yang berpengaruh terhadap kesehatan mereka. menurut seorang peneliti dari Rwanda’s University of Global Health Equity, para dokter harus dilatih untuk mengerti penyebab masalah kesehatan karena problem sosial, agar dapat mengatasi berbagai masalah seperti COVID-19.

  • Melakukan protes dengan aman. Para ahli kesehatan masyarakat khawatir jika protes-protes yang sedang terjadi dapat meningkatkan penyebaran COVID-19. Seorang peneliti pada bidang pencegahan infeksi di Monash University memberikan beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penularan ketika sedang turun ke jalan.

  • “Ketakutan akan apa yang orang lain pikirkan ketika melihat orang kulit hitam menggunakan masker.” Walaupun penggunaan masker terbukti dapat meningkatkan keamanan di tengah pandemi ini, orang-orang kulit hitam dan kelompok-kelompok minoritas lainnya sering kali mengalami kekerasan berbasis rasisme dan diskriminasi ketika menggunakannya. Jasmin Zine seorang peneliti dari Wilfrid Laurier University menyelidiki aspek politik rasial dari penggunaan masker.

  • Kekurangan air bersih. Air bersih merupakan elemen penting dalam pengendalian infeksi, karena digunakan untuk menjaga kebersihan dan mencuci tangan. Namun, berdasarkan penelitian dari National University of Singapore dan University of Glasgow, masih banyak orang yang tidak dapat mengakses air berkualitas, terutama mereka yang tinggal di permukiman kumuh dan kamp-kamp pengungsi.

Banyak pemrotes merasakan adanya hubungan antara rasisme yang telah berakar sejak berabad-abad yang lalu, dan ketimpangan rasial yang baru terungkap sejak adanya COVID-19. Laurent Gillieron/EPA

Selandia Baru berhasil memberantas coronavirus

Selandia Baru telah mencapai sebuah tonggak sejarah baru. Saat ini, negara tersebut tidak memiliki kasus coronavirus aktif, dan telah mencabut hampir semua larangan-larangan yang berhubungan dengan coronavirus. Dua ahli kesehatan masyarakat terkemuka dibalik kesuksesan itu sekarang menjelaskan bahwa tantangannya adalah mempertahankan keberhasilan ini. Sementara itu, di seberang Laut Tasman, para ahli memetakan bagaimana perjalanan Australia dalam mengendalikan virus.

  • Melakukan perayaan dengan hati-hati. Selandia Baru telah berhasil memberantas COVID-19. Namun, pemberantasan virus bukanlah sebuah sesuatu yang jika berhasil dapat ditinggalkan begitu saja: pemberantasan virus merupakan tugas jangka panjang yang harus tetap dijalankan. Dua profesor di bidang kesehatan masyarakat dari University of Otago membahas 5 cara yang dapat dilakukan oleh Selandia Baru untuk mempertahankan keberhasilan ini dalam jangka panjang.

  • Kasus-kasus tanpa gejala. Berdasarkan sebuahmodel yang dibuat oleh tim peneliti interdisipliner, penghapusan larangan-larangan yang berkaitan dengan coronavirus di Selandia Baru meningkatkan terjadinya wabah baru sebesar 8%. Hal ini dapat terjadi karena adanya kasus-kasus tanpa gejala yang tersembunyi, yang tidak dapat terungkap tanpa adanya pengetesan.

  • Kesuksesan Australia. Di sisi lain perairan Tasman, respons Australia terhadap coronavirus merupakan salah satu respons yang paling sukses di seluruh dunia. Namun, beberapa wabah kecil masih tetap terjadi. Steven Duckett dan Anika Stobart dari Grattan Institute menjelaskan empat faktor dibalik kesuksesan Australia dalam menanggapi virus ini, dan juga empat cara yang menunjukkan respons Australia bisa lebih baik lagi.

  • Pengetesan adalah kunci. Berdasarkan seorang peneliti dari University of Sydney yang meneliti data di seluruh dunia, kesuksesan Selandia Baru dan Australia terletak pada tingginya jumlah pengetesan per seribu orang. Bahrain, Qatar, Lithuania dan Denmark merupakan negara-negara yang tingkat pengujian per seribu orang yang paling tinggi di dunia.

PM Selandia Baru, Jacinda Ardern telah mengangkat hampir seluruh larangan tentang coronavirus, setelah mengumumkan bahwa coronavirus telah berhasil diberantas. Daniel Hicks/AAP

Kabar terbaru mengenai uji coba obat, penyebaran virus, dan pelacakan kontak

Ketika dunia sedang menunggu vaksin coronavirus yang kemungkinan tidak dapat ditemukan dalam waktu yang dekat, penelitian intensif tetap dilakukan untuk mencari obat yang mungkin dapat mengobati COVID-19. Uji coba hidroksikloroquin, sebuah obat anti-malaria yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, masih tetap dianggap kontroversial hingga saat ini.

  • Sebuah studi ditarik kembali. Satu penelitian sebelumnya sempat menjadi berita utama dunia setelah penelitian tersebut menyimpulkan bahwa hidroksikloroquin dan obat lainnya yang berkaitan dengan klorokuin telah meningkatkan risiko kematian. Namun, penelitian ini telah ditarik kembali oleh sebuah jurnal medis bergengsi, The Lancet, karena keraguan atas data-data yang digunakan. Beberapa uji klinis telah dihentikan sementara, sedangkan beberapa penelitian masih berlanjut.

  • Sejarah uji klinis. Konsep uji klinis mungkin merupakan hal baru bagi banyak orang, namun, konsep ini faktanya memiliki sejarah kuno. Salah satu eksperimen uji coba klinis pertama kali dilakukan di Cina, hampir 1.000 tahun yang lalu, menurut tulisan oleh Adrian Esterman dari University of South Australia.

  • Apakah akan gagal?. Virus SARS akhirnya menghilang pada tahun 2004. Namun, Connor Bamford, seorang virolog dari Queen’s University Belfast mengatakan bahwa karena penyebaran coronavirus yang jauh lebih cepat dibanding SARS, COVID-19 sulit untuk sepenuhnya menghilang. Bahkan, ia mengatakan jika virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19, mungkin menjadi virus endemi yang mengendap pada populasi manusia.

  • Pelacakan kontak bukanlah hal yang baru. Pelacakan kontak telah menjadi salah satu sarana dalam mengendalikan COVID-19 yang digunakan oleh banyak negara. Dua orang peneliti dari University of Glasgow membahas sejarah dibalik ide ini, dan bagaimana pelacakan kontak juga digunakan untuk menangani wabah pes yang terjadi 500 tahun yang lalu.

  • Risiko pengembangan. Wanita hamil mengalami kecemasan dan gejala depresi yang lebih besar sejak adanya pandemi ini. Hal ini dapat memengaruhi perkembangan janin, tulis Berthelot Nicolas dari University of Quebec (dalam bahasa Prancis).

Kontroversi mengenai hidroksikloroquin memanas setelah The Lancet menarik kembali sebuah studi yang mengklaim bahwa obat anti malaria meningkatkan risiko kematian. Shutterstock

Sign up to The Conversation

Dapatkan berita terbaru dan nasehat untuk COVID-19, langsung dari para ahli di inbox Anda. Bergabunglah dengan ribuang orang yang telah mempercayai para ahli dengan mendaftar ke newsletter kami.


Artikel ini didukung oleh Judith Neilson Institute for Journalism and Ideas.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 113,300 academics and researchers from 3,693 institutions.

Register now