Dapatkah yoga membantu menyembuhkan gangguan mental?

yoga. Brenkee/Pixabay

Jika Anda telah berkesempatan mengunjungi suatu kota besar dalam 10 atau 20 tahun belakangan, Anda mungkin telah memperhatikan sebuah tren kesehatan: yoga. Praktik kesehatan dari India yang berusia ribuan tahun tersebut telah membuka jalan hingga ke berbagai pusat kebugaran, universitas-universitas, dan bahkan pusat keagamaan di seluruh penjuru dunia.

Menariknya, yoga tidak hanya dianggap sebagai kegiatan rekreasional tapi juga sebagai cara untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan: sebuah survei nasional menunjukan bahwa 31 juta orang dewasa di Amerika Serikat (lebih dari 13% dari populasinya) telah melakukan yoga untuk alasan kesehatan.

Dalam berbagai uji klinis, yoga juga dikenal dapat menyembuhkan rasa sakit dengan cara meregangkan otot dan menyelaraskan postur tubuh, untuk menurunkan tekanan darah dengan menyeimbangkan kembali sistem saraf otonom dan mengurangi peradangan dengan melakukan pengaturan stress kronik. Baru-baru ini, yoga semakin dikenal bukan hanya untuk mengurangi stres dan meningkatkan kebugaran fisik melainkan juga untuk mengatasi gangguan mental.

Hal ini seharusnya tidak mengagetkan: sejak 2000 tahun yang lalu orang bijak dari India bernama Patanjali, “kakek” yoga modern, menyatakan bahwa yoga sebagai “pengendali fluktuasi pikiran”. “Fluktuasi pikiran” atau pikiran menganggu yang berulang atau tidak dapat dikendalikan, merupakan gejala-gejala utama dari berbagai bentuk gangguan mental.

Potensi yoga untuk mengendalikan pikiran yang menganggu telah menempati waktu yang besar ketika mantan calon Presiden Amerika Serikat Hillary Clinton melaporkan bagaimana “alternatif pernafasan melalui lubang hidung,” atau (alternate nostril breathing), sebuah teknik pernapasan yoga klasik, telah membantunya untuk sembuh dari kekalahannya di pemilihan presiden – dan merelakan impian seumur hidupnya untuk menjadi presiden Amerika Serikat. Akan tetapi, di luar dari gosip dan bukti anekdotal, terdapat fakta ilmiah yang kuat dan mekanisme yang jelas yang membuktikan yoga dapat membantu berbagai gejala mental:

Gejala terkait trauma

Gangguan Stres Pascatrauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) merupakan masalah kesehatan utama di masyarakat yang telah mempengaruhi hingga 6% dari populasi dunia. PTSD muncul dari pengalaman-pengalaman traumatik yang substansial dan sejauh ini banyak terjadi di antara para veteran perang, orang yang selamat dari perang atau bencana alam dan juga korban kekerasan. Sindrom ini ditandai oleh adanya pengalaman yang berulang, pengelakan, dan perubahan gairah.

PTSD dikaitkan dengan struktur otak yang disebut amigdala yang menghubungkan memori dari beberapa pengalaman dengan emosi – dalam kasus PTSD amigdala amat aktif dan secara terus menerus menghasilkan gejala seperti yang disebutkan sebelumnya.

Dengan mengurangi stres, yoga dapat meningkatkan aktivitas parasimpatis, ini adalah respons relaksasi, dan dengan demikian dapat mengurangi aktivitas amigdala secara langsung. Tampaknya hal ini didorong oleh pelatihan pernapasan yoga seperti alternatif pernafasan melalui lubang hidung.

Dari sudut pandang psikologis, PTSD telah ditandai oleh paradoks bahwa para pasien merasakan kecemasan terhadap masa yang akan datang meski kejadian traumatis terjadi pada masa lalu. Hal ini sebagian besar didorong oleh generalisasi yang berlebihan dari pengalaman masa lalu dan penilaian negatif dari tindakannya sendiri, kemudian reaksi negatif oleh orang lain dan prospek hidup.

Yoga melibatkan aspek kesadaran yang penuh, hal ini melibatkan pemikiran yang tidak menghakimi dan pengakuan terhadap emosi dan memori yang tidak mengenakkan. Hal ini dapat meningkatkan pengendalian emosi dibandingkan pengelakkan. Perhatian kesadaran penuh dari sifat sementara yang diperoleh dari pengalaman fisik, sensorik, dan emosional selama mempraktikan yoga dianggap mengarah kepada perubahan dalam penilaian diri, sehingga dapat mengurangi gejala PTSD.

Sejalan dengan pemikiran dan teori tersebut, pengujian klinis telah menunjukan bahwa yoga benar-benar dapat mengurangi gejala PTSD: penelitian dari Amerika Utara dan Selatan dan juga Australia telah merekrut para veteran dan orang-orang dengan pengalaman traumatis dan secara acak mengarahkan mereka kepada intervensi yoga yang berlangsung beberapa minggu hingga bulan atau untuk mengontrol kelompok yang tidak diperlakukan sama sekali atau menerima konseling kesehatan yang tidak spesifik.

Dalam meta-analisis studi ini, penulis dan rekan-rekannya menunjukan bahwa para peserta yang berlatih yoga menunjukkan diri lebih kuat dan secara klinis relevan mengurangi gejala-gejala yang mereka alami - bahkan jika gaya yoga tidak dirancang khusus untuk peserta dengan PTSD.

Ketakutan dan kegelisahan

Penelitian lain telah memfokuskan kepada gangguan kegelisahan. Kegelisahan merupakan respon yang normal terhadap situasi atau kejadian tertentu. Tanpa kecemasan, manusia dipastikan tidak dapat bertahan. Bagaimana pun juga, rasa takut atau kecemasan yang berlebihan dapat berindikasi pada gangguan kecemasan. Dalam gangguan kecemasan umum atau generalized anxiety disorder (GAD) misalnya, peningkatan tingkat kecemasan, yang dihubungkan dengan kekhawatiran terhadap kesehatan, hubungan dengan orang lain, pekerjaan, dan masalah keuangan, mengarah kepada berbagai macam gejala fisik dan perubahan perilaku. Di AS, lebih dari 4% populasi diperkirakan mengidap GAD seorang diri.

Kegelisahan yang berlebihan juga memiliki implikasi terhadap kesehatan jangka panjang, dengan gejala kegelisahan, seperti palpitasi dan detak jantung yang tidak teratur, dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Menariknya, mengobati kecemasan adalah satu alasan utama seseorang memutuskan berlatih yoga. Lagi-lagi, kesadaran yang penuh tampaknya memainkan peranan kunci di sini: pasien dengan GAD telah terbukti kurang “sadar” daripada populasi umum, mengindikasikan bekerjanya kesadaran diri, pernapasan dan meditasi dapat membantu hal ini – mungkin melalui “mengatur fluktuasi pikiran”?

Menariknya, gangguan kecemasan lebih banyak menyerang penderita dengan gangguan pernapasan seperti asma atau penyakit paru kronik. Selain itu, pelatihan pernafasan berulang telah menjadi bagian penting dari banyak pendekatan terapi perilaku kognitif untuk gangguan kecemasan.

Terapi yoga di rumah sakit militer Amerika Serikat. US Navy/Juan Pinalez

Tidak mengherankan, pernapasan ala yoga seringkali dilihat sebagai bagian utama dalam praktik yoga ketika digunakan untuk mengobati gangguan mental, bukan postur yoga yang sudah terkenal. Efek yoga yang telah banyak diteliti terhadap beberapa bentuk gangguan kecemasan, termasuk GAD dan fobia.

Kami telah menganalisis penelitian ini dalam meta-analisis lebih lanjut. Meskipun hasilnya positif, sejumlah penelitian tersebut sudah cukup lama dan tidak memenuhi syarat ilmu pengetahuan modern, sehingga replikasi sangat dibutuhkan. Apa yang dimaksud dengan yoga jelas adalah menghilangkan gejala kecemasan pada individu yang sehat – baik itu ketakutan sehari-hari yang berkelanjutan, kegelisahan akan ujian atau kecemasan untuk tampil yang dialami oleh musisi.

Belum jelas apakah salah satu teknik yoga yang bernama alternate nostril breathing dapat benar-benar memperbaiki penderitaan mental. Yang pasti yoga dapat membantu gejala dan kecemasan yang berhubungan dengan trauma, dan bahwa pelatihan pernapasan merupakan mekanisme utama yang juga dapat dilakukan. Pasien dengan gangguan mental tidak semestinya harus mencoba yoga tanpa berkonsultasi dengan psikiater dan psikoterapis mereka. Untuk kecemasan ringan yang sering terjadi sehari-hari, teknik pernapasan yoga sederhana mungkin patut dicoba sebagai cara perawatan diri.

This article was originally published in French