Menu Close

Digital ‘native’ atau ‘naive’? Generasi Z di Indonesia cenderung percaya info dari pemerintah, tapi kesulitan mendeteksi hoaks

(Unsplash/Robin Worral), CC BY

Tulisan ini kami terbitkan dalam rangka Hari Literasi Internasional yang jatuh pada 8 September.


Memasuki era digital dan maraknya misinformasi, literasi digital semakin menjadi kemampuan penting bagi generasi muda – terutama Generasi Z.

Gen Z (lahir sekitar tahun 1996-2014), misalnya, mencakup 23% dari total penduduk di dunia dan terus bertambah. Mereka dikenal sebagai generasi asli digital (‘digital natives’) yang sangat terbiasa berinteraksi, berkomunikasi, dan mengelola informasi di ruang maya dan media sosial.

Meski demikian, hasil riset tentang kemampuan Gen Z dalam mendeteksi hoaks masih belum konklusif. Bahkan berbagai riset yang ada masih banyak fokus pada Gen Z di negara maju seperti Amerika Serikat (AS).

Riset yang kami lakukan berupaya mengisi kekosongan kurangnya studi tentang Gen Z di Indonesia.

Pada tahun 2021-2022, kami terlibat dalam kolaborasi internasional antara Departemen Teknik Mesin dan Industri di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Deakin University di Australia untuk menganalisis tingkat kepercayaan dan kemampuan Gen Z di Indonesia dalam mengenali hoaks.

Berbeda dengan banyak riset sosial yang menggunakan metode kualitatif seperti focus group discussion (FGD), riset kami menggunakan metode kuantitatif melalui survei daring kepada 647 responden Gen Z di seluruh Indonesia.

Hasil sementara riset kami menemukan bahwa di satu sisi, mayoritas Gen Z percaya informasi dari sumber yang cenderung otoritatif, seperti lembaga kesehatan dan institusi pemerintah lain. Di sisi lain, mereka kesulitan membedakan antara informasi yang benar dengan yang hoaks.


Read more: Bagaimana mendeteksi berita bohong—panduan ahli untuk anak muda


Percaya sumber otoritatif tapi gagal deteksi hoaks

Dalam analisis, kami melakukan pendekatan ‘ergonomika kognitif’ (studi tentang respons kognitif manusia terhadap sekitarnya) yang khas dalam ilmu Teknik Industri.

Pertama, kami memberikan beberapa informasi dan skenario terkait kondisi COVID-19 di Indonesia dari berbagai sumber. Lalu, kami meminta responden Gen Z untuk memberikan skor berdasarkan kepercayaan mereka terhadap sumber tersebut.

Melalui teori komunikasi risiko atau Situational Judgement Theory (SJT), kami kemudian mengelompokkan partisipan ke dalam empat kategori berdasarkan respons mereka – yakni fatalist, individualist, hierarchy, dan egalitarian.

Kategori fatalist merupakan masyarakat yang menerima takdir dan pasrah saja dengan segala informasi yang mereka dapat. Sementara, kategori individualist cenderung lebih bebas dan lebih percaya pada kemampuan mereka sendiri untuk merespons informasi.

Kategori hierarchy cenderung tunduk pada informasi dari otoritas seperti pemerintah dan pemangku kebijakan. Terakhir, kategori egalitarian adalah masyarakat yang cenderung mengikuti perilaku lingkungan sekitarnya dan lebih mudah dipengaruhi tatanan sosial.

Dari tes pertama ini, hasil riset menunjukkan bahwa mayoritas partisipan Gen Z (62%) termasuk dalam kategori hierarchy.

Sedangkan 23% responden tergolong individualist, 11% responden tergolong fatalist, dan hanya 5% responden tergolong sebagai egalitarian.

Artinya, Gen Z cenderung menaruh kepercayaan lebih tinggi pada informasi, aturan, dan regulasi dari sumber otoritatif seperti lembaga pemerintah yang berwenang, ketimbang sumber lain seperti mencari info sendiri atau mengikuti desas-desus yang beredar di lingkungan keluarga.

Hasil asesmen Situational Judgement Theory (SJT): persentase partisipan berdasarkan kategori kepercayaan.

Kedua, kami juga menggunakan teori pemrosesan informasi atau Signal Detection Theory (SDT) untuk mengetahui kemampuan partisipan dalam mendeteksi hoaks.

Pada tahap ini, partisipan kami minta mendeteksi hoaks terkait COVID-19 dalam 30 berita – campuran informasi yang benar maupun hoaks – yang telah beredar di Facebook, Instagram, Twitter, Whatsapp, dan portal berita lain.

Kami menemukan bahwa dari 647 Gen Z yang berpartisipasi, 83% dari Gen Z cenderung menganggap informasi yang diberikan sebagai berita yang benar meskipun sebenarnya hoaks (kami sebut ‘konservatif’). Sementara, 71 orang atau sekitar 11%, cenderung menganggap informasi yang diberikan sebagai hoaks meski sebenarnya berita benar (kami sebut ‘liberal’).

Hanya 42 orang atau sekitar 6% yang dapat membedakan berita benar dan berita palsu dengan tepat dan akurat (kami sebut ‘ideal’).

Hasil pengolahan Signal Detection Theory (SDT) terkait kemampuan Gen Z mendeteksi hoaks.

Mencari strategi pengutan literasi digital

Dari temuan kami, dapat disimpulkan bahwa Gen Z di Indonesia bisa mengidentifikasi sumber informasi mana yang kredibel (misalnya lembaga kesehatan negara), tapi mayoritas dari mereka masih kesulitan mendeteksi berita hoaks yang beredar di media sosial.

Meski riset kami hanya fokus pada Gen Z dan belum bisa membandingkannya dengan generasi lain di Indonesia, temuan ini tetap mengkhawatirkan mengingat Gen Z sering dipuja sebagai generasi yang ‘melek digital’.

Gen Z dalam riset kami, misalnya, terindikasi cenderung hanya mau membaca judul artikel berita baik asli maupun hoaks, dan enggan untuk membaca artikel secara penuh dan memverifikasi kebenarannya.

Temuan kami ini sejalan dengan sebuah penelitian dari Stanford University di AS yang menemukan bahwa meski Gen Z merupakan ‘digital natives’, mereka juga bisa bersikap ‘digital naive’.

Berdasarkan penelitian ini, 82% partisipan Gen Z bahkan gagal membedakan berita dan iklan.

Di Indonesia, masih lemahnya kemampuan Gen Z dalam mendeteksi hoaks bisa jadi disebabkan oleh masih kurangnya kemampuan literasi digital yang mereka miliki. Berbagai akademisi mengamati banyaknya celah dalam edukasi literasi digital di berbagai jenjang pendidikan Indonesia.


Read more: Masih ada banyak celah dalam pengajaran literasi media digital di level sekolah


Namun, sekadar meningkatkan kemampuan literasi digital di antara generasi muda tidaklah cukup.

Berdasarkan studi, literasi digital memang akan membantu seseorang mengidentifikasi hoaks dengan lebih baik. Tapi, hal ini tidak meningkatkan kesediaan mereka untuk turut menyebarkan berita yang benar atau mengoreksi hoaks yang beredar.

Dengan kata lain, kaum muda yang punya literasi digital tinggi akan jago dalam memilah berita hoaks – tapi malas untuk menindaklanjutinya.

Sehingga, selain meningkatkan pendidikan literasi digital, kita juga perlu meningkatkan partisipasi generasi muda untuk mau membagikan informasi yang benar atau membenarkan informasi yang salah.

Seluruh pemangku kepentingan – dari dunia akademik hingga pemerintah – perlu terus merancang strategi-strategi baru untuk memperkuat ketahanan masyarakat dan kaum muda dalam meredam misinformasi.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 179,000 academics and researchers from 4,895 institutions.

Register now