Dukungan suami amat penting untuk memelihara performa kerja istri yang bekerja. www.shutterstock.com

Dilema WFH selama pandemi bagi suami dan istri: bagaimana mengatasinya

Diskursus mengenai dampak pandemi COVID-19 cenderung mengerucut pada aspek kesehatan dan ekonomi. Padahal dampak sekunder dari pandemi ini juga berkonsekuensi terhadap konflik nilai budaya. Salah satunya terkait kebijakan bekerja dari rumah yang lebih populer disebut dengan WFH (work from home), yang bagi sebagian besar masyarakat di Asia, termasuk di Indonesia, baru populer sejak pandemi ini.

Di Indonesia, karakteristik masyarakat yang masih memandang laki-laki sebagai pencari nafkah, sementara perempuan mengurus rumah tangga membuat pelaksanaan WFH menjadi tantangan sendiri.

WFH yang membuat batasan ruang dan waktu kabur menjadikan orang kesulitan untuk membagi peran yang proporsional dalam bekerja dan mengurus tugas rumah tangga. Dalam sistem masyarakat Indonesia, yang mengganggap posisi laki-laki lebih tinggi dari perempuan (patriarkal), perempuan menjadi korban karena beban kerja mereka harus bertambah, belum lagi jika ada anak, yang pengasuhannya dianggap di bawah tanggung jawab ibu sepenuhnya.

Tulisan ini mengulas bagaimana WFH menantang pemahaman tradisional masyarakat Indonesia tentang gender. Tulisan ini juga menawarkan solusi untuk mendorong transformasi peran gender tradisional dalam budaya patriarkal Indonesia.

Tantangan WFH

Studi di Indonesia menunjukkan bahwa lelaki cenderung memaknai kesetaraan gender dalam rumah tangga dalam bentuk menghargai pendapat istri atau mengambil keputusan di dalam keluarga, bukan secara langsung mengerjakan tugas-tugas domestik. Akibatnya, WFH pada pasangan bekerja berpotensi menimbulkan konflik rumah tangga karena ketidaksiapan suami untuk mendukung istri dalam mengerjakan tugas domestik dan mengasuh anak, sementara keduanya terbebani dengan tanggung jawab terkait pekerjaannya.

Karakteristik budaya di Indonesia yang kurang kompatibel dengan fitur yang ditawarkan oleh praktik WFH berpotensi menambah stres bagi pekerja, terlebih perempuan. Terbatasnya interaksi tatap muka dengan rekan kerja menimbulkan pekerja merasa kesepian ketika pekerjaan dilakukan di rumah. Dampak psikologis akibat kesepian ditengarai lebih intensif dialami pada perempuan daripada lelaki.

Dukungan suami amat penting untuk memelihara performa kerja istri yang bekerja. Sebuah studi bahkan menunjukkan bahwa partisipasi suami dalam tugas domestik efektif mengurangi keinginan bunuh dari pada istri yang bekerja.

Solusi: sinergi bukan mengganti

Peningkatan proporsi perempuan di bidang karier tentu menuntut transformasi terhadap peran gender tradisional yang ada di Indonesia.

Negosiasi dan pembagian tugas yang lebih fleksibel diperlukan untuk mengurangi konflik pada pasangan bekerja.

Mempertimbangkan profil budaya masyarakat Indonesia yang memandang penting nilai-nilai patriarkal, solusi terbaik bukanlah mengkonfrontasi nilai tersebut secara radikal melalui gerakan kesetaraan gender.

Cara yang lebih efektif ialah dengan mensinergikan keduanya sehingga terjadi praktik pembagian peran yang mengakomodasi kebutuhan kedua belah pihak. Solusi ini akan lebih mudah diterima karena tidak secara total menentang nilai budaya yang sudah ada.

Secara konkret, upaya sinergi ini dapat dilakukan dengan mengelaborasikan prinsip kesetaraan gender dalam nilai patriarkal.

Nilai patriarkal yang selama ini dianut cenderung meletakkan otoritas mutlak pada lelaki untuk memimpin dan memutuskan sesuai dengan kehendaknya, lalu mendapatkan rasa hormat dari yang dipimpin. Modifikasi perlu dilakukan dengan mentransformasi paradigma peran pemimpin yang egosentris ini menjadi lebih altruistik, dengan berfokus pada kebutuhan dan aspirasi orang yang dipimpin. Jenis kepemimpinan ini bisa dilihat dalam bentuk servant leadership, sebuah konsep kepemimpinan yang melayani.

Dengan tipe kepemimpinan yang melayani, lelaki menjamin hak dan aspirasi bagi perempuan yang dipimpinnya, yang nantinya akan menjadi dasar terpeliharanya rasa hormat kepada lelaki sebagai pemimpin. Jadi, kesetaraan gender terwujud dengan memberi ruang bagi perempuan maupun lelaki untuk berkarya di berbagai aspek, tanpa menghilangkan peran lelaki untuk memimpin.

Konsep mengenai peran gender kerap mengacu pada ajaran agama.

Ajaran agama sering dijadikan justifikasi untuk memelihara nilai patriarkal karena suami diposisikan sebagai imam atau kepala, setidaknya menurut agama Islam dan Kristen sebagai agama mayoritas di Indonesia. Namun, interpretasi agama yang lebih proporsional, baik Islam maupun Kristen, nyatanya mengapresiasi kesetaraan gender meski tetap memposisikan lelaki sebagai pemimpin. Jadi, peran pemimpin pada lelaki tidak merefleksikan jenjang otoritas, melainkan hanya perbedaan lingkup tugas.

Kesetaraan gender (equality) bukan berarti menyamakan (equity) gender. Upaya kesetaraan gender menekankan bahwa masing-masing gender dapat, atau dalam beberapa hal perlu, berkontribusi pada setiap aspek kehidupan rumah tangga, meski dengan cara yang berbeda. Untuk memenuhi tuntutan ekonomi yang semakin besar, misalnya, perempuan dimungkinkan untuk turut berkarier, tetapi dengan ekspektasi sebagai pencari nafkah tambahan, sehingga ia dapat tetap mengerjakan tuntutan peran gendernya dalam rumah tangga. Begitu pula dalam hal pengasuhan, peran ayah sama pentingnya dengan ibu dalam membesarkan anak, meski cara pemenuhannya berbeda. Jadi, kedua gender perlu hadir dalam setiap aspek, meski dalam wujud yang berbeda.

Secara konkret, upaya sinergi ini dapat dilakukan dengan mengelaborasikan prinsip kesetaraan gender dalam nilai patriarkal. www.unsplash.com/Pablo Heimplatz, CC BY

Dengan melakukan sosialisasi peran gender yang setara, lelaki yang mengerjakan tugas rumah tangga tidak lagi mempersepsikan diri secara negatif atau mendapat penilaian negatif.

Pentingnya peran media

Media berperan penting dalam mensosialisasikan perubahan nilai-nilai budaya, termasuk peran gender.

Studi yang dilakukan Patricia Owen, profesor di bidang psikologi perempuan dan gender dari St. Mary’s University of San Antonio, Amerika Serikat, secara khusus menunjukkan peran sentral perfilman dalam mensosialisasikan nilai dalam masyarakat.

Upaya sosialisasi peran gender yang tidak tradisional melalui film tampak di negara-negara Barat melalui serial televisi dengan plot cerita yang menonjolkan pertukaran peran gender, seperti Working Moms dan House Husbands.

Di Indonesia, figur wanita karier sudah cukup populer meramaikan industri perfilman, tetapi belum banyak yang menonjolkan peran lelaki dalam tugas-tugas rumah tangga.

Beberapa perubahan yang terjadi karena situasi pandemi diperkirakan dapat terus bertahan, termasuk mengenai kebijakan bekerja di rumah bagi sebagian pekerja. Oleh karenanya, pembaharuan persepsi peran gender penting untuk mengantisipasi konflik rumah tangga akibat tidak kompatibelnya peran gender dalam mengakomodasi dinamika sosial.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 105,300 academics and researchers from 3,358 institutions.

Register now