Empat hal aneh yang terjadi saat rapat virtual

Kontak mata penting di dunia maya. Caroline Purser/Getty Images

Pandemi COVID-19 memaksa banyak kampus dan universitas di Amerika Serikat (AS) untuk memindahkan kegiatan belajar daring (online), sehingga kini bertatap muka lewat video online (daring) menjadi populer.

Keluarga, teman, tetangga, dan bahkan acara bincang-bincang (talk show) televisi sekarang melakukan pertemuan dan siaran dari rumah. Sementara itu, Microsoft, Google dan Zoom berusaha untuk memenuhi permintaan_layanan_konferensi_video.

Orang-orang telah lama memperhatikan, bahwa ada beberapa hal aneh telah terjadi dalam pertemuan virtual. Sebuah majalah menyebutkan ada “keintiman yang aneh” di situ. Jaron Lanier, yang dianggap sebagai “bapak realitas virtual”, pernah berkomentar bahwa pertemuan virtual tampaknya memang membuat“ komunikasi nonverbal membingungkan.

Sebagai seorang peneliti tekonologi pendidikan, saya telah mengeksplorasi fenomena dan elemen konferensi video lainnya yang tidak kasat mata tapi aneh. Saya melakukan ini melalui fenomenologi, studi tentang pengalaman yang dijalani dan dirasakan.

Saya berusaha memahami mengapa masalah tertentu muncul ketika teknologi diperkenalkan ke sistem pendidikan dan cara untuk menghadapinya.

Berikut adalah empat hal aneh yang terjadi ketika kita terlibat dalam rapat virtual video.

1. Kurangnya kontak mata

Pertama, dan ini mungkin yang paling jelas, pertemuan dengan video mengganggu kontak mata. Ini karena keterbatasan teknis yang sederhana: tidak ada cara untuk meletakkan kamera dan layar tampilan di tempat yang sama. Saat kita melihat kamera di perangkat, kita memberi kesan sedang menatap mata seseorang. Namun, ketika kita melihat mata mereka di layar, bagi lawan bicara, kita tampak memalingkan muka.

Fenomenologi dan psikologi keduanya menekankan pentingnya dan rumitnya kontak mata.

"Dalam kontak mata, kita tidak hanya mengamati mata orang lain,” demikian kata penulis dan profesor filsafat Beata Stawarska, tapi orang lain juga “memperhatikan perhatian yang kita berikan, dan sebaliknya.”

Ini meluas ke berbagai tingkatan kesadaran, sebagaimana filsuf Maurice Merleau-Ponty katakan: “Aku memandangnya. Dia tahu bahwa aku memandangnya. Aku tahu bahwa dia tahu aku memandang dia. Dia tahu bahwa aku tahu bahwa dia tahu”. Merleau-Ponty menambahkan bahwa sebagai hasilnya, “tidak ada lagi dua kesadaran” pada saat kontak mata terkunci, “tapi dua pandangan saling menyelimuti.”

Bagi Merlau-Ponty, pengalaman semacam ini adalah bagian dari apa yang ia sebut reversibilitas yang kita rasakan: Aku melihat, mendengar dan mengalami orang lain sebagaimana mereka melihat, mendengar, dan mengalami aku.

2. Terlihat serba salah

Berikut peringatan yang diberikan oleh sepasang peneliti tentang membuat presentasi video tamu di ruang kelas: “Bahkan jika … kita sedang tidak ‘aktif,’ kita tetap terlihat di layar, dan mungkin lebih besar dari ukuran aslinya. Jika kita diam-diam mengambil kotoran hidung, kemungkinan semua orang dapat melihatnya. ”

Duduk di depan webcam dan komputer, presenter melihat ruangan yang penuh dengan siswa. Tetapi di komputer mereka, para siswa melihat kepala yang berbicara di layar proyeksi, berikut setiap cacat atau ketidaksempurnaan yang ada di situ.

Alih-alih duduk atau berhadapan satu sama lain secara timbal balik - “bertatap muka” - kita mendapati diri kita memandang dari atas, dari bawah atau dari samping citra yang lebih-nyata-dari-gambar-aslinya dari orang-orang yang kita lihat dan ajak bicara secara online.

3. Merasa diawasi

Tanpa kontak mata dan timbal balik yang jelas, orang-orang yang melakukan pertemuan virtual video kadang-kadang dapat merasa diam-diam diteliti atau diawasi. Seseorang mungkin memikirkan: Seperti apa kamera menangkap saya untuk dilihat orang lain.

“Meskipun kita bisa berpura-pura melihat orang lain ketika kita FaceTime atau Zoom,” jurnalis Madeleine Aggeler mengamati, “Sesungguhnya kita hanya melihat diri kita sendiri - sibuk dengan rambut kita, secara halus menyesuaikan ekspresi wajah kita, mencoba menemukan sudut paling bagus untuk memegang telepon kita.”

Rapat virtual bisa terasa seperti pengalaman aneh berbicara sambil terus-menerus melirik diri kita sendiri dalam cermin.

4. Suara teredam

“Suara saya kedengaran, nggak?” adalah pertanyaan yang terkait dengan teknologi. Saat bertatap muka, kita dapat memonitor ucapan kita sebagai hasil dari proyeksi vokal kita sendiri dan lingkungan akustik. Dan kami melakukan ini berdasarkan asumsi reversibilitas akustik: bahwa orang lain mendengar dunia seperti kita.

Di online, fenomena ini belum tentu demikian. Suara-suara kita mungkin pecah karena dikompresi dan ditransmisikan, suara di latar belakang mungkin mengganggu kita, atau mikrofon kita mungkin masih “bisu.”

Secara alami, suara, tidak seperti penglihatan, relatif tidak terarah.

Dalam tatap muka, suara menyelimuti dan kita bagikan dengan lawan bicara. Gangguan dan interupsi online bisa sama tidak enaknya dengan mengobrol dengan seseorang yang tidak mau melakukan kontak mata.

Normal yang baru

Terlepas dari berbagai hal aneh yang terjadi dalam pertemuan virtual, sebagai sebuah masyarakat, kita akan menjadi lebih terbiasa dengan mode komunikasi seperti ini. Ada banyak website menawarkan tips tentang cara memanfaatkan konferensi video sebaik-baiknya.

Kiat-kiat ini antara lain menyarankan kita untuk menempatkan kamera setinggi mata agar kita tampak alami, menggunakan ruang yang bersih dan terang agar terlihat jelas, dan memakai headset untuk memaksimalkan kualitas audio.

Tetapi apa pun yang kita lakukan untuk memiliki pengalaman rapat virtual yang lancar, video tidak akan memiliki rasa “saling merangkul” yang, seperti dikatakan Merleau-Ponty, hadir dalam pertemuan fisik.

Agradhira Nandi Wardhana menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 109,200 academics and researchers from 3,582 institutions.

Register now