Menu Close
Keping bitcoin dengan latar belakang tanah retak.

Empat mitos ramah lingkungan tentang mata uang kripto

Mata uang kripto, bitcoin, pernah mencapai harga US$50.000 (Rp 713,6 juta) per kepingnya, salah satu nilai tertinggi.

Sulit dipercaya bahwa 10 tahun yang lalu, 10.000 bitcoin hanya bisa membeli beberapa loyang piza.

Lebih sulit dicerna lagi ketika kita tahu bahwa mata uang ini hanya ada secara virtual.

Anda tidak dapat memegang mata uang tersebut, kecuali dalam hard disc komputer, dan tidak ada aset dasar.

Bitcoin dihasilkan atau ditambang lewat kekuatan komputer yang disebut sebagai “proof-of work”.

Ini sebenarnya bukan ide baru.

Batu Rai adalah salah satu bentuk uang pertama yang digunakan di Pulau Yap di Mikronesia.

Untuk mendapatkan Rai, Anda harus mendayung kano sejauh 500 kilometer atau lebih ke Palau dan memahat beberapa batu kapur lokal.

Kemudian, Anda membawa bongkahan batu selebar 3 meter itu kembali ke Pulau Yap tanpa tenggelam di lautan Pasifik.

Tidak ada yang mengetahui pasti awal terjadinya, tetapi praktik ini setidaknya sudah berusia beberapa abad.

Uang ini tidak memiliki nilai bawaan. Agar semua orang menghormati proof-of-work (bukti sudah bekerja), prosesnya sengaja dibuat tidak efisien dan membutuhkan banyak sumber daya, sama seperti bitcoin.

Alih-alih mengandalkan penjelajah pemberani, bitcoin menggunakan jaringan global komputer yang saling bersaing.

Seperti pembobol brankas di kontes safe-cracking, mesin penambang bitcoin ini menebak kombinasi ke suatu kunci digital (biasanya terdiri dari digit yang sangat panjang), dengan kombinasi benar untuk memenangkan beberapa bitcoin baru.

Kombinasi berubah setiap sepuluh menit, dan kontes terus berlanjut.

Ini semua mungkin terdengar seperti permainan bingo digital yang tidak berbahaya.

Tetapi, semakin banyak orang yang tertarik dengan imbalan tinggi, penambangan bitcoin selama beberapa hari mengeluarkan energi setara dengan negara Polandia dan menghasilkan 37 juta ton CO2 setiap tahun.

Investor baru, seperti produsen mobil, Tesla, mendongkrak harga aset sembari mengabaikan dampak perubahan iklim dari bitcoin yang berubah.

Dan, untuk menjaga bull market (kondisi harga aset tinggi dalam periode lama), para pendukung bekerja keras untuk memperdebatkan kredensial hijau dari bitcoin.

Seorang perempuan berjalan di depan layar televisi yang menampilkan harga bitcoin.
Harga bitcoin meningkat akibat ketertarikan perusahaan seperti Tesla. EPA-EFE/Kim Chul-Soo

Demi iklim yang stabil, mitos-mitos ini perlu dibantah.

Mitos 1 : penambangan bitcoin menjadi lebih efisien

Emisi karbon dari Bitcoin bukan satu-satunya rahasia kotor dari jaringan penambang.

Tahun 2011, penambang yang bersaing dapat memenangkan bitcoin dengan laptop biasa.

Saat ini, perlu investasi untuk memasang perangkat keras khusus yang dikenal sebagai Application Specific Integrated Circuits (ASIC).

Sebagian besar biaya penambangan berasal dari energi untuk menjalankan unit ini, maka penambang bitcoin selalu berhati-hati untuk menggunakan yang termurah.

Untuk menghindari pemborosan energi, kompetisi global untuk bitcoin mewajibakan penggantian ASIC dengan model lebih baru dan lebih efisien setiap tahun.

ASIC tidak dapat digunakan kembali untuk komputasi umum dengan mudah.

Unit yang berlebih menghasilkan sekitar 11.500 ton limbah elektronik berbahaya setiap tahun, sebagian besar dibuang ke kota-kota di negara-negara selatan.

Mitos 2 : bitcoin mendorong investasi dalam energi bersih

Pembangkit listrik tenaga air buatan Cina adalah tempat populer untuk penambangan bitcoin.

Sementara Cina melakukan penindakan keras pada industri, 61% penambangan bitcoin didukung oleh bahan bakar fosil.

Batu bara murah di Australia telah menemukan pembeli baru melalui bitcoin, karena tambang batubara bekas dibuka kembali untuk menggerakkan penambangan.

Penambang bersedia pindah ke mana saja untuk mendapatkan energi, meningkatkan profitabilitas gas alam di Siberia dan mendukung pengeboran minyak di Texas.

Penambang bitcoin di Taman Nasional Virunga, di Republik Demokratik Kongo, mendapatkan akses khusus ke energi bersih dan murah yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga air yang didanai Uni Eropa.

Pabrik ini dirancang untuk membantu penduduk setempat menemukan mata pencaharian, selain dari perburuan dan menghentikan mereka dari merambah taman nasional untuk kayu sebagai bahan bakar.

Penambang Bitcoin mempekerjakan pasukan server komputer, bukan mantan pejuang pabrik.

Seorang pekerja memeriksa mesin penambangan bitcoin.
Penambangan bitcoin mengonsumsi energi yang besar. EPA-EFE/Liu Xingzhe

Mitos 3 : bitcoin menggantikan kebutuhan akan penambangan emas

Penambangan emas adalah salah satu industri yang paling merusak di dunia.

Bitcoin, pada awalnya, dimaksudkan sebagai pengganti digital untuk emas yang juga merupakan alat pertukaran deflasi, yang mampu membuat bank dan regulator yang boros menjadi mubazir.

Tetapi, bagi banyak investor kelembagaan, emas dibeli untuk melindung nilai terhadap fluktuasi bitcoin.

Tesla menggelontorkan US$1,5 miliar (Rp 21 triliun) ke dalam bitcoin, tetapi juga menyatakan minat pada emas.

Sementara bitcoin saat ini mengalami harga tertinggi sepanjang masa, emas mencapai salah satu nilai tertinggi pada tahun 2020.

Bitcoin juga tidak menggantikan lembaga keuangan tradisional.

Bank-bank besar berlomba-lomba untuk mendapatkan miliarder yang berada di belakangnya.

Mitos 4 : pemain korporat akan meningkatkan pasar untuk ‘bitcoin hijau’

Beberapa berpendapat bahwa investor kelembagaan dapat mengubah bitcoin menjadi “hijau”.

Yves Bennaim, pendiri 2B4CH, think tank mata uang kripto asal Swiss, mengklaim bahwa ketika investor seperti Tesla mendorong kenaikan harga, “akan ada lebih banyak insentif untuk melakukan investasi di sumber energi terbarukan” untuk penambangan bitcoin.

Tetapi, penambang akan selalu menggunakan opsi termurah untuk memaksimalkan pengembalian.

Tidak mungkin mengalokasikan hadiah tambahan kepada penambang yang menggunakan energi terbarukan, karena sulit mengetahui siapa yang menggunakan energi terbarukan.

Sayangnya, saat ini tidak ada yang namanya “bitcoin hijau”.

Namun, tidak semua mata uang kripto membutuhkan banyak energi, seperti bitcoin. Ada alternatif untuk proof-of-work.

Proyek blockchain terbesar kedua, ethereum, beralih ke proof-of-stake, sistem baru menghilangkan kebutuhan penambangan dan pembaruan perangkat keras terus-menerus.

Bitcoin adalah hal yang kotor, tetapi menunjukkan hal ini kepada calon investor tidak berarti kita membuang blockchain karena kejelekan bitcoin.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 128,600 academics and researchers from 4,060 institutions.

Register now