Fenomena mabuk gawai lebih banyak terjadi di kamar tidur daripada saat bersama teman

Beberapa situasi sosial lebih kondusif untuk melakukan phubbing www.shutterstock.com

Fenomena mabuk gawai lebih banyak terjadi di kamar tidur daripada saat bersama teman

Pernahkah Anda berada di sekitar orang-orang yang menghabiskan lebih banyak waktu melihat ponsel mereka daripada kepada Anda? Jika iya, maka Anda menjadi korban mabuk gawai (phubbing) dan Anda mungkin juga pernah melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Phubbing adalah praktik memperhatikan ponsel Anda saat berada di hadapan orang lain. Dan karena ponsel pintar telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari, phubbing telah menjadi hal yang sangat umum sehingga banyak orang berpikir itu normal.

Orang-orang lebih memperhatikan ponsel mereka selama rapat kerja, atau saat bersosialisasi dengan teman-teman di kafe, sambil makan malam bersama keluarga, saat menghadiri ceramah dan bahkan saat di tempat tidur.

Namun seberapa umum praktik phubbing ini? Dan pada situasi sosial apa saja perilaku tersebut paling lazim?

Untuk mencari jawabannya, kami melakukan survei ke 385 orang di Australia dan menanyakan kepada mereka seberapa sering mereka melihat gawai saat sedang bertatap muka dengan orang lain. Jawaban mereka antara: tidak pernah, jarang, terkadang, sering, atau selalu.


Read more: Mengapa saat diet kita justru mengidamkan makanan tak sehat


Kita lebih cenderung melakukan phubbing terhadap keluarga daripada rekan kerja

Kami menemukan bahwa 62% dari responden survei melaporkan bahwa mereka menghabiskan waktu memperhatikan gawai mereka saat melakukan percakapan tatap muka dengan orang lain.

Gender tidak menentukan seberapa sering seseorang melakukan phubbing. Letak geografis juga bukan faktor penentu, orang-orang yang tinggal di kota dan di pinggiran sama seringnya melakukan phubbing. Namun, anak-anak muda lebih sering melakukan phubbing daripada orang-orang yang lebih tua sedangkan pasangan adalah orang-orang yang paling sering mengalami phubbing.

Riset kami juga menunjukkan bahwa para pengguna gawai lebih sering melakukan phubbing terhadap orang tua dan anak-anak mereka daripada rekan kerja, klien dan pelanggan. Temuan ini menggambarkan bahwa ada sikap profesional dalam penggunaan gawai di tempat kerja.

Kita lebih sering melakukan phubbing di tempat tidur daripada saat bersosialisasi

Beberapa situasi sosial tertentu lebih kondusif untuk melakukan phubbing.

Kami menemukan bahwa orang lebih sering melakukan phubbing saat dalam perjalanan menggunakan transportasi umum, minum kopi di kantor atau istirahat makan siang, beristirahat di tempat tidur bersama pasangan, bepergian bersama menggunakan transportasi pribadi dan saat bersosialisasi dengan teman.

Orang akan memiliki kemungkinan lebih kecil untuk melakukan phubbing dalam rapat, selama waktu makan dengan keluarga dan sepanjang kuliah serta kelas.


Read more: Apakah hak tinggi buruk bagi kesehatan? Dua ahli menelaah buktinya


Rasa bosan bukan alasan utama perilaku phubbing

Kami tertarik untuk mencari tahu apakah rasa bosan berperan dalam perilaku phubbing sehingga kami meminta para partisipan survei kami untuk mengisi delapan poin dengan menggunakan skala kerentanan kebosanan.

Salah satu contoh pertanyaannya adalah “Saya kesulitan menghibur diri sendiri” dan “Banyak hal yang harus saya lakukan repetitif dan monoton.”

Kami menemukan bahwa rasa bosan memang menjelaskan alasan mengapa orang melakukan phubbing, namun kebosanan memiliki pengaruh yang sangat kecil. Faktor lain seperti “fear of missing out” (FOMO) atau rasa takut akan ketinggalan berita, kurangnya pengendalian diri, dan ketergantungan terhadap internet bisa memiliki peran yang lebih penting untuk menjelaskan perilaku phubbing.

Dampak phubbing bergantung pada situasi

Memperhatikan gawai saat sedang berbincang dengan orang lain adalah fenomena yang relatif baru. Memutuskan apakah perilaku tersebut baik atau buruk bukan hal yang mudah.

Satu teori menunjukkan bahwa saat seseorang menjadi korban phubbing, mereka mungkin akan menilai perilaku tersebut tergantung pada seberapa penting kedudukan pelaku dalam hidupnya. Contohnya, phubbing antar teman mungkin lebih mudah diterima daripada saat seorang bawahan melakukan phubbing terhadap manajernya saat berada dalam rapat kerja.


Read more: Mamogram rutin bisa menyelamatkan nyawa, sains menjelaskan


Meskipun ini bisa jadi kabar baik bagi para pekerja, hal tersebut tidak bagus bagi hubungan-hubungan dekat. Phubbing terhadap pasangan kita dapat membuat mereka merasa tidak penting dan bisa menurunkan kepuasaan dalam hubungan. Untuk anak-anak, contohnya yang berada pada umur rentan, phubbing dapat membuat mereka merasa tidak disayangi sehingga berdampak buruk pada kesejahteraan mereka.

Penemuan kami dapat digunakan sebagai dasar pembentukan program, kebijakan dan kampanye yang bertujuan untuk mengatasi fenomena phubbing.

Dari studi kami, jelas bahwa para pengguna gawai pintar memiliki kemungkinan lebih besar untuk melakukan phubbing terhadap orang-orang yang dekat dengan mereka. Jadi, lain kali saat Anda mengalami phubbing, anggaplah sebagai suatu pujian-bisa jadi mereka justru menganggap Anda teman dekat.


Penelitian yang dibahas dalam artikel diterbitkan dalam Konferensi Internasional untuk Sistem Informasi.

Rizkina Aliya menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris

This article was originally published in English