shutterstock.

Jangan hanya bebani guru, pemerintah harus gandeng universitas dan orang tua untuk sukseskan online learning

Meskipun di beberapa negara sekolah telah dibuka kembali, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sendiri baru mengizinkan pelajar di zona hijau - daerah yang cenderung berhasil menekan angka penyebaran kasus - untuk kembali sekolah.

Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan ini berarti 94% pelajar lainnya - atau setara dengan setidaknya 42 juta pelajar - wajib untuk tetap belajar dari rumah untuk tahun akademik 2020/2021 yang dimulai 13 Juli.

Namun, pelaksanaan online learning di Indonesia masih menemui banyak tantangan dalam pelaksanaannya, seperti minimnya kompetensi digital guru hingga pelaksanaan kelas online yang minim diskusi interaktif.


Read more: Cara menciptakan kelas _online_ yang interaktif di tengah pandemi COVID-19: pelajaran dari Singapura


Studi yang saya lakukan menemukan bahwa salah satu penyebab terbesar hal tersebut adalah sistem pendidikan yang masih menjadikan guru sebagai satu-satunya aktor dalam pembelajaran daring.

Guru tidak diberikan panduan yang memadai terkait bagaimana mengadaptasi aspek-aspek penting dalam kurikulum pendidikan - seperti capaian pembelajaran - untuk diterapkan dalam online learning.

Seorang guru Bahasa Inggris, misalnya, akan kebingungan apakah sebaiknya mempertahankan target untuk mencapai keterampilan ‘menyusun’ teks argumentatif, atau diturunkan menjadi sekadar ‘memahami’ struktur teksnya saja.

Saya mengusulkan kepada pemerintah untuk menggandeng universitas untuk mendesain panduan bagi guru dalam mengadaptasi kurikulum online learning. Pemerintah juga bisa bekerja sama dengan universitas untuk melatih orang tua untuk lebih terlibat dalam proses pembelajaran sehingga meringankan beban guru.

Gandeng universitas untuk mengembangkan buku saku pembelajaran daring

Sebelum pandemi, forum seperti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dapat membantu memberikan panduan proses pembelajaran bagi guru dan menyelaraskan beragamnya interpretasi dari kurikulum.

Sejak dilakukan secara daring, forum MGMP menjadi cenderung berfungsi secara swadaya - mengadakan pertemuan via Whatsapp dan Google Meet. Namun banyak guru kesulitan berpartisipasi akibat hambatan akses internet maupun keterampilan digital.

Tim pendidikan pada Gugus Tugas Penanganan COVID-19 bentukan pemerintah pun selama ini lebih banyak memberikan perhatian untuk penyediaan layanan pembelajaran - misalnya melalui Televisi Edukasi.

COVID-19 membuat banyak aktivitas guru tiba-tiba dilakukan secara daring, mulai dari mengajar hingga membagikan rapot. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Padahal, Organisasi Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) merekomendasikan 25 kebijakan yang perlu dilakukan pemerintah untuk memudahkan peran guru dalam menjalankan pembelajaran daring. Salah satu poin utama yang belum dipenuhi pemerintah adalah perlunya kejelasan mekanisme dan ekspektasi capaian belajar untuk guru.

Satu hal yang bisa dilakukan adalah menggandeng universitas maupun Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk mendesain panduan khusus untuk guru, sebagaimana yang diterapkan oleh beberapa negara lain.

Misalnya, OECD bekerjasama dengan Graduate School of Education di Harvard University, Amerika Serikat untuk mengembangkan buku saku pembelajaran daring kepada tenaga pendidik.

Pemerintah Finlandia dan Myanmar juga melakukan hal serupa dengan bekerja sama dengan universitas setempat.

Buku saku pembelajaran daring untuk guru yang dikembangkan oleh OECD dan Harvard. (Organisation for Economic Cooperation and Development)

Buku tersebut dapat memuat praktik pengajaran yang efektif dilakukan di kelas virtual, panduan untuk menentukan capaian pembelajaran di mata kuliah tertentu, serta saran sumber materi digital yang ada di internet.

Di Indonesia, pemerintah dapat mendelegasikan peran ini kepada Dinas Pendidikan Provinsi untuk menggandeng Fakultas Pendidikan di beberapa universitas terbaik di setiap daerah.

Harapannya, riset yang lebih terlokalisasi dapat menghasilkan panduan yang mampu menjawab keberagaman tantangan yang dialami guru di masing-masing wilayah di Indonesia,

Pelatihan dan pendampingan orang tua murid

Ketika efektivitas pembelajaran menurun akibat kebingungan guru menjalankan online learning, orang tua sering menjadi terbebani sebagai satu-satunya fasilitator anak di rumah.

Padahal, riset menunjukkan adanya kesenjangan yang besar terkait kesiapan orang tua untuk membantu anaknya belajar dari rumah di daerah urban dengan di daerah rural.

Oleh karena itu, universitas juga bisa diperdayakan oleh pemerintah untuk membantu sekolah dalam memfasilitasi pelatihan kepada orang tua murid.

Seorang ibu mendampingi anaknya belajar secara online saat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Pekanbaru, Riau. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

Misalnya, sekolah dapat menciptakan suatu forum di mana mereka bisa memaparkan rencana pembelajaran daring mereka kepada orang tua murid.

Harapannya ini juga dapat menegaskan ekspektasi capaian pembelajaran secara lebih transparan antara guru dan orang tua di rumah.

Kemudian di forum yang sama, universitas dapat menyediakan pelatihan kepada orang tua murid terkait literasi digital, teknik pengajaran sederhana, hingga pendampingan psikologis sehingga mereka memahami cara yang tepat untuk menemani pembelajaran anak.

Apabila pembelajaran daring semua diserahkan kepada guru, tentu pelaksanaannya akan penuh tantangan.

Namun, dengan kolaborasi aktor-aktor penting dalam pendidikan - yaitu pemerintah, guru, sekolah, orang tua murid, dan universitas - maka adaptasi pembelajaran daring akan berjalan dengan lebih efektif.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 110,800 academics and researchers from 3,637 institutions.

Register now