Menu

Kenapa demo kerap berakhir bentrok dan kerusuhan?

SOPA Images/AAP

Beberapa minggu terakhir kita telah melihat protes terjadi di Amerika Serikat (AS) atas kematian orang kulit hitam George Floyd karena dianiaya oleh seorang polisi berkulit putih.

Walau ribuan orang telah berkumpul untuk mengekspresikan kemarahan mereka secara damai, beberapa demonstran telah menoda upaya ini dengan vandalisme dan bentrokan dengan polisi.


Read more: Polisi yang menyerang petugas medis saat kerusuhan harus dihukum karena langgar HAM dan ancam nyawa banyak orang


Penelitian telah menunjukkan bahwa orang umumnya melihat protes yang konfrontatif sebagai tindakan yang tidak berdasar dan tidak efektif.

Lalu mengapa beberapa protes berubah menjadi kekerasan? Dan apa yang mendorong orang turun ke jalan?

Mengapa sebagian protes berubah menjadi kekerasan?

Penelitian menunjukan orang-orang yang siap menggunakan kekerasan dalam konfrontasi kemungkinan berbeda secara psikologis dari mereka yang tidak.

Orang-orang yang siap menggunakan kekerasan lebih cenderung untuk mengungkapkan perasaan marah pada orang-orang yang berbeda pandangan politik dengan mereka, yang mereka anggap bertanggung jawab atas suatu kegagalan.

Orang-orang yang menggunakan kekerasan selama unjuk rasa lebih cenderung merasa marah terhadap otoritas yang mereka anggap bertanggung jawab. TNS/AAP

Di AS, beberapa pengamat mengatakan bahwa kekerasan di jalan-jalan berakar dari rasa putus asa yang dalam dan rasa ketidakberdayaan karena perubahan tidak kunjung terjadi.

Penelitian psikologis menawarkan beberapa bukti untuk analisis ini. Saat orang-orang tidak yakin bahwa aspirasi mereka kepada pihak berwenang akan didengar, mereka mungkin lebih cenderung menggunakan metode protes yang keras.

Dalam keadaan ini, orang menjadi “nekad”.

Tindakan represif dapat menyebabkan kekerasan

Namun, ada elemen kunci lain. Perasaan marah dan tidak berdaya tidak muncul begitu saja; perasaan ini muncul dari interaksi nyata orang-orang dan kelompok.

Kita tahu dari penelitian selama puluhan tahun tentang cara-cara polisi dan kerumunan bahwa kekerasan dan perlakuan kasar dari polisi adalah penyebab utama adanya kekerasan dalam protes.

Pengalaman semacam itu membuat orang mengubah pemahaman mereka terhadap tujuan berunjuk rasa.


Read more: 'Demonstran tidak tahu isu': apa yang sebenarnya mendorong individu berpartisipasi dalam unjuk rasa?


Selama sepekan terakhir, orang-orang AS yang awalnya menggunakan hak konstitusional mereka untuk melakukan protes secara damai telah menyadari bahwa mereka sekarang menjadi musuh negara dan pembangkang di negara sendiri.

Dalam situasi ini, tindakan berunjuk rasa tiba-tiba memiliki makna yang jauh lebih luas.

Para pengunjuk rasa dapat mengubah taktik mereka

Orang akan merasa marah bila keselamatan dan keyakinan mereka diabaikan.

Tindakan represif dari polisi dapat menjadi penyebab terjadinya kekerasan. TNS/AAP

Jadi, meski orang cenderung berpikir bahwa unjuk rasa protes itu tidak berguna, penelitian kami di pada pengunjuk rasa di Australia pada 2012 menunjukan bahwa pendapat terhadap kegunaan berunjuk rasa bisa berubah ketika orang-orang melihat adanya figur otoritas yang korup dan tidak bermoral yang terlibat.

Dengan kata lain, pengunjuk rasa biasa mungkin akan melihat tindak kekerasan lebih dapat diterima jika negara menanggapi dengan cara-cara yang tampaknya tidak adil dan tidak proporsional.

Mengapa orang memutuskan untuk protes?

Siapa yang bisa membayangkan bahwa kita akan menyaksikan gerakan solidaritas global berskala besar di tengah pandemi yang mematikan?

Peristiwa-peristiwa tertentu berfungsi sebagai titik kritis dalam gerakan sosial.

Aktivis AS Rosa Parks, yang terkenal karena menolak untuk memberikan tempat duduk kepada seorang kulit putih di sebuah bus pada 1955, menginspirasi perlawanan massa terhadap kebijakan rasis saat itu.

Orang-orang protes karena mereka yakin bisa membuat perbedaan dengan bertindak bersama . Alive Coverage/AAP

Di Tunisia, penjual buah Mohamed Bouazizi membakar dirinya sebagai reaksi atas korupsi dan pelecehan polisi pada Desember 2010; tindakannya disiarkan ke seluruh dunia, menjadi pemicu protes massal yang menyebabkan Arab Spring.

Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang memutuskan berunjuk rasa karena mereka merasa marah atas ketidakadilan yang dilakukan terhadap kelompok yang penting bagi mereka dan karena yakin bahwa mereka dapat membuat perbedaan dengan bertindak secara kolektif.

Lebih penting lagi, pada abad ke-21 ini, peristiwa tertentu dan reaksi kita terhadap peristiwa itu dapat disiarkan secara daring dan dibagikan pada jutaan orang di seluruh dunia dalam hitungan jam.

Interaksi online dapat menghasilkan kemarahan dan tujuan bersama

Interaksi online ini lebih dari sekadar omongan kosong. Penelitian menunjukkan interaksi online tentang ketidakadilan dapat menjadi sarana membangun dan mempertahankan niat untuk berunjuk rasa.

Seiring orang-orang berinteraksi secara online, mereka menghasilkan rasa kemarahan bersama, serta keyakinan bahwa jika “kita” bertindak bersama, kita bisa membuat perubahan.

Penelitian telah secara khusus menunjukkan bahwa orang yang berinteraksi secara online tentang pembunuhan polisi terhadap orang kulit hitam lebih mungkin untuk ikut unjuk rasa, terutama jika mereka tinggal di daerah dengan tingkat pembunuhan polisi terhadap orang kulit hitam tinggi.

Pihak berwenang harus memperhatikan: reaksi keras dari polisi dapat memancing respons yang lebih keras dari para pengunjuk rasa yang damai.


Read more: Membandingkan gerakan Black Lives Matter di Amerika dan Papuan Lives Matter di Indonesia: apa yang sama, apa yang beda?


Artikel ini diterjemahkan oleh Agradhira Nandi Wardhana dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 113,300 academics and researchers from 3,693 institutions.

Register now