Menu Close
Sepuluh bendera negara-negara anggota ASEAN. pixabay

Ketika hubungan AS-Cina semakin tegang: saatnya Indonesia dan negara-negara ASEAN cari mitra baru

Seiring dengan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Cina yang kembali menguat, negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, harus memikirkan ulang bagaimana kebijakan hubungan diplomatik dan ekonomi yang harus mereka jalin dengan dua negara adidaya tersebut.

Satu hal yang pasti adalah, mengurangi ketergantungan terhadap keduanya menjadi jalan tengah yang paling aman.

Apabila dibandingkan dengan kawasan regional lain, ketegangan antara AS dan Cina telah membawa dampak politik dan ekonomi yang cukup signifikan terhadap negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Oleh karena itu, memperkuat jalinan hubungan yang baik dengan mitra non-tradisional, seperti negara-negara Teluk dan Amerika Latin merupakan sebuah langkah strategis yang patut diperhatikan.

Ketegangan AS-Cina

Ketegangan antara kedua negara menguat setelah AS mengambil keputusan untuk menutup konsulat Cina di Houston minggu lalu. Tak berselang lama, Cina membalas perlakuan tersebut dengan menutup konsulat AS di Chengdu.

Padahal pada Januari, AS dan Cina telah sepakat menandatangani perjanjian perdagangan yang diharapkan akan mengakhiri perang dagang yang telah berlangsung selama kurun waktu dua tahun terakhir. Namun para ahli meragukan kesepakatan itu akan berimbas pada redanya ketegangan tersebut.

Pandemi COVID-19 yang sedang dihadapi di seluruh dunia tampaknya semakin memperburuk hubungan keduanya. Washington dan Beijing saling memberikan tuduhan sebagai negara asal virus dan adanya upaya menutup-nutupi penyebaran coronavirus.

Hal ini diperparah dengan keputusan AS baru-baru ini untuk membeli persenjataan militer dalam jumlah besar dalam upaya untuk menantang klaim Cina di Laut Cina Selatan.

Faktor Politik

Dilihat dari sudut pandang politik, negara-negara ASEAN harus segera mengambil langkah dengan mengurangi ketergantungan mereka terhadap Cina dan AS dengan melihat meningkatnya keagresifan Cina di Laut Cina Selatan dan adanya ketidakpercayaan negara-negara Asia Tenggara terhadap AS sebagai mitra yang menjaga keamanan kawasan.

Meski kawasan ini ingin terus menikmati akses pangsa pasar yang besar dan suntikan investasi dari Cina, beberapa kebijakan Negeri Tirai Bambu ini tidak bisa lagi ditoleransi karena telah mengancam kedaulatan negara-negara Asia Tenggara.

Sejarah sentimen anti-Cina meningkat di beberapa negara ASEAN. Sentimen muncul akibat ketakutan mereka atas kekuatan Cina yang dominan.

Hal yang serupa juga berlaku untuk AS.

Meski negara-negara Asia Tenggara ingin mendapatkan keuntungan dari perlindungan AS, mereka khawatir bahwa komitmen AS sebagai mitra yang mampu menjaga keamanan kawasan mungkin tidak bersifat jangka panjang.

Masih berbekas dalam memori para pemimpin negara-negara ASEAN bagaimana Presiden Donald Trump telah melewatkan beberapa kali pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN.

Seorang pakar keamanan Asia, Shahriman Lockman, dari Institute of Strategic and International Studies di Malaysia, mengatakan negara-negara ASEAN menganggap kehadiran AS di kawasan Asia Tenggara sebagai pedang bermata dua: kehadiran AS berpotensi mengurangi ketegangan ASEAN dengan Cina, namun pada saat yang sama juga berpotensi dapat memperkeruh situasi. Hal tersebut terjadi ketika perhatian AS terdistraksi atas permasalahannya dengan negara-negara Timur Tengah, sementara negara-negara ASEAN membutuhkannya untuk mengatasi dominasi Cina di perairan Laut Cina Selatan.

Keputusan Washington untuk mengurangi pasukannya di Afghanistan, Irak, dan Suriah yang sedikit banyak dipengaruhi oleh opini publik dapat menandakan kebijakan luar negeri AS yang tidak dapat diprediksi.

Sementara itu, AS, yang kini adalah negara dengan jumlah orang terinfeksi COVID-19 terbanyak, tengah mengalami banyak implikasi negatif pada sektor kesehatan dan ekonominya. Kondisi ini bisa menjadi pemicu bagi AS untuk lebih memprioritaskan permasalahan yang sedang mendera negaranya sendiri dibandingkan ikut terlibat dalam sengketa ASEAN dan Cina.

Ketika AS tidak dapat banyak membantu karena masih disibukkan dengan masalah domestiknya, negara-negara di kawasan Asia Tenggara menjadi khawatir bahwa Cina akan menjadi lebih agresif di Laut Cina Selatan dalam waktu dekat.

Survei terbaru yang diterbitkan oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura menunjukkan kekhawatiran tersebut. Survei tersebut menunjukkan berkembangnya persepsi negara-negara Asia Tenggara akan turunnya pengaruh AS di kawasan Asia Tenggara selama kepemimpinan Presiden Trump.

Oleh karena itu, solusi yang paling masuk akal bagi ASEAN adalah berupaya memperkuat kemitraan dengan negara lain agar dapat meminimalkan kekhawatiran tersebut.

Faktor Ekonomi

Meningkatnya ketegangan AS-Cina juga berdampak pada perekonomian global. Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memperkirakan bahwa jika konfrontasi terus berlanjut antara keduanya, maka pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global akan mengalami perlambatan sebesar 1,8%.

Ketegangan yang tak kunjung surut juga dapat mengakibatkan hubungan ekonomi antara Cina dan AS akan benar-benar terputus.

Terputusnya hubungan ekonomi Cina dan AS akan membuat masing-masing negara memasang tarif yang lebih tinggi pada lawannya. Seperti yang dikemukakan oleh beberapa ahli, proteksionisme yang meningkat di antara kedua negara itu juga akan mengganggu akses negara-negara ASEAN ke pasar AS.

Terputusannya hubungan ekonomi Cina dan AS juga dapat menciptakan dua blok perdagangan yang berbeda; satu dipimpin oleh Cina dan satu lagi dipimpin oleh AS.

Prospek tersebut dapat mempersulit keberlangsungan operasi perusahaan-perusahaan Asia Tenggara dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, termasuk dalam menjalin kerja sama investasi, baik dengan Cina, maupun AS, termasuk mempertimbangkan faktor-faktor politik.

Di lain pihak, realitas itu akan semakin menuntut negara-negara Asia Tenggara untuk beralih mencari negara mitra yang lebih aman.

Beberapa pihak berpendapat bahwa negara-negara Asia Tenggara diuntungkan dengan adanya ketegangan antara Cina-AS. Hal ini karena banyak perusahaan perdagangan dan manufaktur yang memindahkan pabriknya dari Cina ke negara-negara ASEAN.

Akan tetapi, pandangan seperti itu tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan karena bagaimana pun ASEAN juga berhadapan dengan berbagai tantangan dan potensi penurunan ekonomi dengan adanya konflik Cina-AS.

Agar negara-negara ASEAN benar-benar dapat meraup keuntungan dari perang dagang Cina-AS, ada beberapa upaya signifikan yang perlu dilakukan. Upaya tersebut di antaranya menanam investasi pada bidang manufaktur, meningkatkan kualitas infrastruktur dan kapasitas produksi, serta mengintegrasikan rantai pasokan terutama di kawasan regional ASEAN.

Upaya tersebut tidak hanya mahal, namun juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Opsi negara-negara Timur Tengah dan Amerika Latin

Berdasarkan dua faktor di atas, negara-negara Asia Tenggara perlu memperluas hubungan mereka dengan mitra non-tradisional.

Negara-negara Teluk dan Amerika Latin bisa menjadi pilihan yang potensial. Beberapa dari negara ini juga telah mencoba untuk menembus pasar Asia Tenggara di bawah payung kebijakan “Melihat ke Timur” (Look East).

Selain memiliki pasokan sumber daya alam yang melimpah dan peluang investasi yang menguntungkan, dua opsi kawasan alternatif ini juga dapat memberikan Indonesia peluang untuk mengakses pasar tujuan ekspor baru.

Negara-negara Teluk, misalnya, bisa berfungsi sebagai jalur untuk melakukan ekspansi ekonomi ke kawasan Timur Tengah yang lebih luas.

Selain itu, memperkuat hubungan dengan negara-negara di kawasan ini tidak akan menimbulkan sentimen negatif terkait ideologi. Berbeda dengan sentimen anti-Cina dan anti-AS yang mempunyai sejarah panjang di beberapa negara.

Kawasan Teluk juga memiliki visi politik yang serupa dengan negara-negara Muslim di Asia Tenggara, seperti Indonesia dan Malaysia, yang berkeinginan untuk menjauhkan diri dari kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat yang kian kontroversial.

Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara yang juga berpenduduk Muslim terbesar di dunia, tidak hanya memiliki latar belakang kepentingan agama yang sama dengan negara-negara Timur Tengah, tapi juga memiliki posisi politik yang sama, khususnya untuk isu-isu strategis, seperti kasus Palestina.

Kesamaan-kesamaan nilai itu juga dapat mengurangi sentimen negatif yang mungkin muncul dari masyarakat jika Indonesia kian merapatkan hubungan dengan negara-negara Teluk. Pasalnya sentimen asing di Indonesia telah lazim terjadi, seperti pada kasus dengan Cina dan AS yang pernah terjadi.

Sebagai satu-satunya lembaga antarnegara di regional Asia Tenggara, ASEAN dapat memfasilitasi terwujudnya jalinan hubungan yang lebuh erat dengan negara-negara Teluk dan memperkuat kerangka kerja sama yang sudah ada, seperti ASEAN-Gulf Cooperation Council Ministerial Meetings dan The ASEAN–Pacific Alliance Framework for Cooperation.

Selanjutnya sebagai langkah strategis untuk memperkuat hubungan ekonomi, ASEAN juga harus berupaya lebih keras dan lebih serius dalam menuntaskan perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara di kawasan Teluk dan Amerika Latin.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 128,700 academics and researchers from 4,063 institutions.

Register now