Kota Anda mungkin menghasilkan polusi berbahaya. Ini penyebabnya

Polusi udara sering dipandang sebagai masalah lokal yang membutuhkan solusi lokal dan regional. Karachi, London, Lagos, Mexico City, dan Paris adalah beberapa kota di dunia yang bergulat dengan kualitas udara yang buruk.

Dengan semakin banyaknya penduduk kota yang diminta untuk meninggalkan mobil- terutama jika menggunakan bensin- dan menggunakan moda transportasi yang lebih ramah lingkungan, mudah terlupa bahwa udara juga bergerak.

Akibatnya, sangat sedikit perhatian yang diberikan pada dampak polusi udara lintas batas wilayah terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia.

Secara global, polusi udara yang disebabkan oleh partikel halus mikroskopis (PM₂.₅) membunuh 3,5 juta orang setiap tahunnya karena partikel ini mudah memasuki saluran pernapasan.

Polusi udara menempati ranking kelima setelah tekanan darah tinggi, merokok, dan diet, di seluruh dunia untuk risiko kesehatan.

Menghirup udara kotor dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, kanker paru-paru, stroke, dan memengaruhi kesehatan mental.

Saat ini terdapat 300 juta anak, kelompok yang paling rentan, menghirup udara beracun.

Polusi udara di dalam dan luar ruangan, ditambah dengan menghirup asap rokok, menyebabkan 570.000 kematian anak-anak balita setiap tahun karena infeksi pernafasan seperti pneumonia.

Kabut asap di Beijing. Shutterstock/Hung Chung Chih

Pergerakan polutan udara dari aktivitas transportasi dan pertanian di satu negara dapat memengaruhi kualitas udara di negara lain.

Seperti asap dari kebakaran hutan Indonesia yang menyebabkan kabut asap di Malaysia dan Singapura.

Contoh lain adalah awan coklat atmosferik- sebuah fenomena polusi udara lintas nasional yang mengandung aerosol seperti jelaga dan debu yang menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia dan keamanan pangan, terutama di Asia.

Mengeskpor emisi

Polusi udara lintas batas telah menjadi masalah berpuluh tahun: pada tahun 1970- dan 80-an, Inggris dijuluki “orang kotor Eropa” yang mengeluarkan emisi sulfur dari sektor industri, yang berkontribusi terhadap hujan asam di Eropa - sebuah fenomena yang ditakutkan oleh pecinta lingkungan akan kembali terjadi setelah Brexit.

Tetapi, baru-baru ini ada penelitian tentang skala dampak pencemaran udara dari perdagangan internasional. Salah satu penelitian menyatakan bahwa sekitar 400.000 kematian dini pada 2007 ada di wilayah yang berbeda dari lokasi polutan udara dikeluarkan.

Produksi barang dan jasa di satu wilayah untuk digunakan oleh wilayah lain bertanggung jawab atas 22% (762.400) kematian akibat polusi udara di seluruh dunia.

Secara khusus, partikel emisi China bertanggung jawab atas 64.800 kematian dini di wilayah lain, termasuk lebih dari 3.000 kematian di Eropa Barat dan AS. Sebaliknya, produk Cina yang dibeli di Eropa Barat dan AS berkaitan dengan lebih dari 100.000 kematian di Cina dalam satu tahun.

Perdagangan internasional telah melihat banyak negara maju mentransfer manufaktur mereka ke luar negeri, untuk mengambil untung dari tenaga kerja yang murah dan lemahnya standar lingkungan di negara-negara yang kurang kaya.

Dengan kata lain, polusi udara, termasuk emisi gas rumah kaca, telah diekspor ke negara-negara berkembang.

Membuat perubahan

Ketika pemandangan suram dari kabut berwarna abu-abu menyelimuti Beijing atau New Delhi membuat orang bertanya kenapa tidak ada tindakan, penting diingat bahwa kota-kota ini memikul beban manufaktur yang sangat besar, karena sebagian besar barang dan jasa dunia dialihkan ke Cina dan India.

Kini ada kebutuhan bagi pemerintah untuk beralih dari penghitungan emisi gas rumah kaca berdasarkan produksi yang didasarkan pada konsumsi barang dan jasa.

Hal ini berpengaruh terhadap kebijakan mitigasi iklim dan udara global karena sebanyak 20% hingga 25% dari keseluruhan emisi karbon dioksida berasal dari produksi barang dan jasa yang diperdagangkan secara internasional.

Datang dengan biaya risiko kesehatan. Shutterstock/Goran Bogicevic

Meskipun telah berhasil mencapai kualitas udara yang lebih baik selama enam dekade terakhir, masih banyak tantangan lingkungan global yang lebih besar.

Kota-kota bertanggung jawab atas sekitar 70% gas rumah kaca global.

Sementara karbon dioksida memengaruhi pemanasan iklim dalam jangka panjang, polutan iklim seperti karbon hitam (bagian utama dari suatu partikel), gas metana dan ozon memiliki pengaruh pada pemanasan iklim dalam jangka pendek.

Aksi lokal, seperti melarang mobil berbahan bakar bensin, mencoba mengatasi polutan udara sekaligus iklim.

Hal ini dapat berdampak langsung dengan mengurangi pemanasan jangka pendek dan meningkatkan tingkat kualitas udara.

Sudah ada beberapa konvensi internasional yang mengatur polusi udara dan masalah terkait. Namun, hingga kini belum ada kerangka hukum yang koheren yang bertujuan melindungi atmosfer.

Alhasil, Hukum Atmosfer yang baru dideklarasikan diharapkan agar bisa menjalin kerja sama yang efektif dalam polusi udara dan perubahan iklim di skala regional dan global.

Mengingat ketidakpercayaan terhadap perubahan iklim yang ditunjukkan oleh para pemimpin dunia, seperti Presiden Donald Trump dan Vladimir Putin, maka dukungan legal akan rendah.

Semua orang berhak akan udara yang bersih.

Tapi, polusi udara tidak memerlukan visa dan dampaknya dapat dirasakan bahkan jauh dari sumber.

Para pemimpin negara maju tidak lagi dapat menghindari kenyataan bahwa perilaku konsumtif dan pilihan gaya hidup warga negara mereka memiliki dampak yang signifikan terhadap orang-orang di belahan dunia lain.

Sebagai konsumen, kita memiliki kekuatan dan tanggung jawab untuk menuntut standar lingkungan dan sosial yang lebih baik - sehingga kita semua dapat menghirup kehidupan, di mana pun kita tinggal.

Fahri Nur Muharom menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.

This article was originally published in English