Menu Close

Kuliah bisa saja berlangsung di metaverse, tapi beberapa tantangan berikut harus diatasi terlebih dahulu

Bagaimana jadinya jika kuliah berlangsung di metaverse? (Getty Images/Iryna Veklich)

Pendidikan tinggi di Amerika Serikat (AS), tempat saya saat ini mengajar, tengah menghadapi masalah besar. Biaya kuliah yang semakin meroket dan juga adanya krisis pinjaman mahasiswa berpotensi membatasi akses pendidikan tinggi hanya untuk mereka yang kaya.

Sebagai upaya memangkas pengeluaran dan meredam kenaikan biaya kuliah, kampus AS semakin banyak mengandalkan dosen tidak tetap yang dibayar rendah, dilimpahi beban mengajar yang berat, dan kerap tidak diberi jaminan pekerjaan atau kesehatan.

Banyak institusi juga menambah kuota mahasiswa per kelas dan memindahkan pembelajaran ke ruang daring supaya hemat. Tentu mahasiswa tidak senang: online learning tidak sepopuler pembelajaran tatap muka, dan selama pandemi, ketidakpuasan terhadap gaya belajar ini terus meningkat.

Tak hanya itu, berbagai program juga banyak bermunculan, dari program-program magang yang menawarkan pengalaman kerja nyata (apprenticeship) hingga pelatihan intensif (boot-camp), yang mulai mempertanyakan apakah ijazah formal khas pendidikan tinggi benar-benar berhubungan dengan kesuksesan di dunia profesional.

Di sini, konsep metaverse – beragam teknologi realitas virtual (VR) maupun semi virtual (AR) yang menawarkan pengalaman yang lebih terasa “nyata” – bisa membantu kampus-kampus untuk mengatasi berbagai masalah ini dan merevolusi pembelajaran jarak jauh.

Tapi, tim kami di Pusat Etika Terapan UMass Boston, AS, menemukan dalam riset kami bahwa menyelesaikan masalah menggunakan kecerdasan buatan (AI) atau teknologi serupa justru kerap menciptakan masalah-masalah lain.

Kami menemukan bahwa AI punya potensi untuk melemahkan kapasitas manusia untuk membuat keputusan-keputusan sederhana, seperti memilih tontonan film, maupun keputusan yang lebih berat, seperti siapa yang layak mendapat promosi di tempat kerja. Kami juga menemukan bahwa AI bisa berujung meremehkan peran dan dampak positif dari “serendipity – kejadian-kejadian yang kebetulan dan tak terduga di dunia nyata – serta memudarkan kepercayaan masyarakat terhadap pentingnya hak asasi manusia (HAM).

Apakah metaverse akan membawa kabar baik bagi pendidikan tinggi? Bisa jadi. Tapi untuk membangun kampus-kampus unggul di dalam metaverse, para pakar dan insinyur komputer, pimpinan perguruan tinggi, serta pembuat kebijakan harus menyelesaikan beberapa tantangan terlebih dahulu.

Berikut merupakan lima aspek yang menurut saya perlu segera diselesaikan.

1. Kebebasan akademik

Kebebasan akademik – sejauh mana para dosen, peneliti, hingga mahasiswa bisa membahas dan mengkaji topik apa pun yang mereka anggap penting – selama ini belum tentu dijamin dalam platform privat/swasta. Jika pengajaran kampus dan interaksi intelektual akan berlangsung di suatu platform yang dimiliki perusahaan, bagaimana jadinya jika diskusi-diskusi ini nantinya memicu kontroversi?

Apakah platform seperti Meta dan Zoom akan berkomitmen untuk memfasilitasi kebebasan akademik, meski hal tersebut bisa jadi suatu saat berdampak buruk terhadap harga saham mereka?

Sejarah menunjukkan kemungkinan tidak. Misalnya, pada 2020, Zoom, Facebook, dan Youtube memblokir kuliah virtual yang dihelat oleh San Francisco State University dan menampilkan Laila Khales, seorang anggota Front Populer untuk Kebebasan Palestina (PFLP) yang terlibat dalam pembajakan dua pesawat pada akhir 1960an dan awal 1970an.

Universitas tidak boleh memberi perusahaan media sosial kemampuan veto atas topik apa saja yang boleh didiskusikan oleh mahasiswa dan staf kampus. Ini akan membunuh kebebasan akademik. Jika kita akan menyelenggarakan pendidikan tinggi di metaverse, problem ini wajib diselesaikan.

2. Fokus mahasiswa

Pembelajaran yang sukses mengharuskan mahasiswa atau murid untuk fokus pada apa yang terjadi dalam kelas – setidaknya selama sejam atau dua jam. Saat ini saja, berbagai gawai seperti smartphone dan laptop membuat mahasiswa sangat susah fokus kuliah.

Bagaimana caranya membuat lingkungan pembelajaran yang sepenuhnya virtual, tapi tetap bisa kondusif terhadap konsentrasi belajar?

Berbagai video promosi Facebook terkait metaverse, yang penuh dengan burung berdansa dan hewan warna-warni yang bikin pusing, semakin menunjukkan masalah ini.

Lalu, bagaimana para perancang bisa memastikan bahwa metaverse tidak akan memperburuk tantangan fokus di kelas yang sudah cukup parah? Ada kalanya, mau sejago apapun seorang dosen, perangkat teknologi dengan segudang manfaatnya bisa membuat mahasiswa terdistraksi di kelas.

Seseorang bisa saja berpikir bahwa hal ini mudah untuk diatasi. Bukankah tinggal buat saja fitur di metaverse untuk membatasi distraksi-distraksi ini?

Tapi, hal ini pun sebenarnya bisa juga diterapkan pada distraksi yang berasal dari smartphone dan komputer mahasiswa saat ini. Kenyataannya, tidak semudah itu untuk membatasi mahasiswa supaya tidak melihat gawai mereka. Kampus bisa jadi takut dianggap melanggar privasi jika melakukan hal tersebut.

Sekarang, bayangkan saja, seberapa menggiurkannya berbelanja secara 3D saat kelas berlangsung?

3. Komunikasi

Komunikasi antarmanusia sebagian besar terjadi secara nonverbal; ekspresi wajah dan bahasa tubuh mengungkap berbagai niatan dan perasaan kita. Apakah avatar – representasi diri kita dalam bentuk kartun atau grafis – mengutarakan ekspresi wajah dan bahasa tubuh dengan cara yang sama?

Ini penting karena sebagian besar pembelajaran dalam kuliah di universitas, terutama kelas yang penuh dengan diskusi khas mata pelajaran humaniora, sangat bergantung pada komunikasi yang hidup dan spontan. Komunikasi tersebut melibatkan kemampuan mengirimkan dan menerima sinyal nonverbal.

Perancang metaverse baru akhir-akhir ini memikirkan hal tersebut. Mereka harus bekerja lebih keras lagi sebelum masalah komunikasi nonverbal ini tuntas.

4. Rasa kebersamaan

Hal-hal yang mahasiswa banyak sukai tentang kampus – maupun sebagian besar hal yang mereka pelajari – terjadi di luar kelas.

Pengalaman kuliah yang terbaik haruslah membangun suatu rasa kebersamaan: mahasiswa bisa berkumpul secara informal, menjadi teman, saling belajar tentang satu sama lain, diri mereka sendiri, serta institusi politik yang mengatur kehidupan mereka.

Rasa kebersamaan yang penting ini bisa berawal dari dalam kelas, tapi biasanya berkembang bahkan di luarnya.

Adakah cara supaya pengalaman ini, yang merupakan salah satu daya jual kehidupan kampus, bisa tereplikasi di metaverse? Dengan kata lain, apakah kita bisa menciptakan komunitas yang bermakna antara mahasiswa dan dosen mereka, maupun antara sesama mahasiswa, tanpa kehadiran fisik dari semua pihak yang kemungkinan besar ada di rumah dan memakai perangkat digital masing-masing?

5. Kesenjangan digital

Terakhir, pembuat kebijakan dan pengajar perlu bertanya kepada diri mereka sendiri apakah pendidikan tinggi di metaverse benar-benar akan membuat bangku kuliah lebih aksesibel.

Apakah berbagai teknologi ini akan menyuguhkan suatu pengalaman pendidikan yang menarik dengan harga yang lebih murah, ataukah hanya akan menciptakan kesenjangan digital baru – saat mahasiswa dari keluarga kaya bisa membayar pendidikan tinggi di universitas fisik sementara mereka yang miskin hanya bisa kuliah secara virtual?

Atau, lebih peliknya, bagaimana jika para kampus virtual ini (sebutlah “metaversities”) malah menciptakan suatu sistem tiga lapis: kuliah tradisional untuk orang kaya, pendidikan tinggi di ruang virtual untuk kelas menengah, dan pembelajaran jarak jauh yang sederhana – seperti yang banyak berlangsung saat ini – untuk mereka yang tidak punya uang?

Meski saat ini kampus-kampus menghadapi banyak masalah, perguruan tinggi masih menjadi institusi sosial yang penting demi pengembangan ilmu pengetahuan, pengembangan personal para mahasiswa dan sarjana, hingga tempat berlangsungnya perdebatan akademik yang menantang.

Jika suatu saat metaverse makin populer, dan kemudian masalah-masalah di atas bisa diatasi, ruang virtual bisa jadi arena baru pendidikan tinggi.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 158,500 academics and researchers from 4,546 institutions.

Register now