Kuliah menggunakan PowerPoint hanya buat mahasiswa makin bodoh dan dosen makin membosankan: Ayo larang penggunaannya

Apakah salindia berikutnya lebih menarik? Lecture via Matej Kastelic/www.shutterstock.com

Setiap dosen tentu tak bisa lupa tentang kegagalan-kegagalan yang dihadapi ketika memberi kuliah. Termasuk saya sendiri. Sejak awal saya merasa telah ditinggal mahasiswa: mereka tidak fokus mendengarkan kuliah, tampak lesu dan cemas.

Tapi tanpa malu-malu, saya justru lebih fokus pada presentasi PowerPoint saya untuk menyelamatkan muka. Bertahun-tahun kemudian, saya masih terngiang suara saya membaca keras-keras poin-poin presentasi—untuk kemudian memalingkan muka ke mahasiswa untuk menyampaikan poin-poin ini kepada mereka.

Untungnya saya tidak ingat lagi apa yang ada di pikiran mahasiswa pada hari itu. Tetapi saya ingat rasanya membuat diri saya menjadi seseorang yang membosankan.

Saat itu saya meyakinkan diri untuk mengubah cara mengajar. Dan itulah sebabnya saya melarang penggunaan PowerPoint dalam kuliah.

Ada sejumlah alasan mengapa perkuliahan berjalan kacau, misalnya akibat tiada perencanaan yang baik, persiapan tidak matang, suasana hati kurang bersemangat, hilangnya minat mahasiswa, jumlah mahasiswa terlalu banyak, dan sebagainya.

Semua hal di atas dapat ditambah satu lagi: PowerPoint.

Kuliah tatap muka secara fisik memungkinkan terjadinya interaksi yang kompleks dan terbuka antara mahasiswa, bahan bacaan, dosen, dan masalah berbasis kasus dan teori.

Kehadiran PowerPoint membatasi kuliah menjadi suatu bentuk pengajaran yang mengabaikan masukan apapun selain gagasan dosen sendiri yang disiapkan sehari sebelumnya.

Hal ini mengurangi kemungkinan improvisasi, dan kesempatan untuk menerima masukan dari siswa (tanpa menyimpang dari kurikulum).

Inilah yang biasanya membuat presentasi sangat membosankan. Di satu sisi, mahasiswa dengan cepat dapat mengetahui jelas arah pembicaraan dosen.

Tapi di sisi lain, dosen justru harus tetap menelusuri seluruh poin-poin yang ada. Mahasiswa hanya bisa berharap presentasi halaman berikutnya mungkin lebih menarik.

Tidak cocok untuk dosen

Agar kuliah tetap menarik dan relevan, para dosen perlu melemparkan pertanyaan dan bereksperimen, bukan memberikan solusi dan hasil.

Sayangnya, PowerPoint dirancang bukan untuk itu. Awalnya PowerPoint dirancang untuk Macintosh, perusahaan yang mendesainnya kemudian dibeli Microsoft. Setelah diluncurkan, perangkat lunak ini semakin dikhususkan bagi para profesional bisnis, terutama konsultan dan orang di bagian penjualan yang sibuk.

Namun selama tahun 1990-an PowerPoint diadopsi secara lebih umum oleh perusahaan karena menjadi bagian dari paket Microsoft Office. PowerPoint menjelaskan ringkasan eksekutif, dalam satu baris kalimat, dan rencana yang “mudah tersampaikan”.

Kehadirannya di dunia akademis kemudian didukung oleh meningkatnya tekanan dari fakultas untuk memberikan lebih banyak pengajaran dan meningkatnya permintaan populasi mahasiswa yang lebih beragam, yang membutuhkan bimbingan secara konkret.

Namun, PowerPoint tidak memberdayakan para akademisi. Masalah mendasarnya terletak pada fakta bahwa dosen bukanlah “penjual” pengetahuan dalam poin-poin kepada mahasiswa, melainkan “pembantu” mahasiswa dalam memecahkan masalah.

Proses pembelajaran seperti itu lambat dan sulit, dan tidak dapat disimpulkan dengan rapi. PowerPoint menghasilkan kebodohan, itulah sebabnya beberapa orang, seperti ahli statistik Amerika Edward Tufte mengatakan bahwa PowerPoint itu “jahat”.

Tentu saja, teknologi presentasi baru seperti Prezi, SlideRocket atau Impress menambahkan banyak fitur baru dan animasi 3D, namun saya justru berpendapat kalau hal-hal ini hanya memperburuk keadaan.

Poin-poin yang diperdebatkan tadi tidak lantas hilang hanya karena dibuat bergerak. Sesungguhnya PowerPoint sulit untuk diikuti dan jika Anda melewatkan satu poin saja, Anda akan mudah merasa ketinggalan.

Tidak ada yang melakukan penelaahan sejawat terhadap PowerPoint. Lex Photographic / flickr, CC BY-NC

Di atas semua ini muncul kerancuan dari apa yang terkandung dalam di poin-poin tersebut. Dalam presentasi saya, teks pada salindia benar-benar hanya merupakan pemikiran pribadi saya dan yang sering kali dengan tergesa-gesa dituliskan.

Tidak seperti karya saya yang diterbitkan dan ditelaah sejawat lainnya, tidak ada yang melihat atau mengkritik PowerPoint saya. Namun para mahasiswa menganggap poin-poin saya sebagai hal yang benar, dan mereka sering mengutipnya dalam tugas-tugas mereka alih-alih mencari jalan keluar dengan menemukan poin-poin tersebut dalam buku perkuliahan.

Terbebas dari PowerPoint

Ketika berhasil melarang Facebook dan penggunaan media sosial lain dalam program S2 kami di jurusan filsafat dan bisnis di Copenhagen Business School, di Denmark, kami juga baru-baru ini melarang dosen menggunakan PowerPoint.

Keputusan ini sejalan keputusan angkatan bersenjata Amerika Serikat. Brigadir Jenderal Herbert McMaster melarang penggunaan PowerPoint karena dianggap sebagai alat yang buruk untuk pengambilan keputusan.

Kami sepakat, meskipun kami masih mengizinkan dosen untuk menggunakannya untuk menampilkan gambar dan video serta kutipan dari penulis utama.

Tanpa menggunakan PowerPoint, kini para dosen menulis dengan kapur tulis di papan tulis (atau spidol). Bertolak belakang dengan apa yang dimungkinkan oleh PowerPoint, kapur tulis dan papan tulis memungkinkan kita mencatat poin dari siswa dan menghubungkan pada poin yang kita kembangkan sendiri.

Tetapi sebagian besar universitas sebenarnya menyuburkan monopoli Microsoft secara diam-diam, sebab mereka mengutamakan proyektor dan PowerPoint daripada teknologi lain seperti papan tulis.

Tentu saja, dengan tidak menggunakan PowerPoint, beban bagi dosen bertambah untuk perencanaan perkuliahan. Namun, pada program S2 kami, kami sebagai dosen memiliki rencana yang jelas bagi setiap menit di sesi kuliah, konten yang tepat harus tetap dapat dibuat berbeda dan terbuka.

Untuk mendukung interaksi, para siswa duduk dengan papan nama yang terlihat, juga diperkenalkan dalam kuliah pertama perkuliahan. Dengan cara ini, siswa yang kurang aktif dapat dipanggil untuk mengembangkan konsep dan koneksi yang tumbuh di papan tulis, baik dari kursi mereka atau dengan datang untuk menulis di papan tulis.

Dulu, ketika saya masih menggunakan PowerPoint dengan cara tradisional, mahasiswa kerap mengeluh karena tidak mendapatkan bahan sebelum kuliah.

Kini, para mahasiswa tidak meminta bahan PowerPoint sama sekali–mereka hanya meminta penyusunan yang lebih baik di papan tulis saya. Mereka benar, berbeda dengan presentasi PowerPoint, urutan papan tulis sebenarnya dapat diperbaiki secara langsung.

Tanpa keberadaan PowerPoint, dosen tidak memiliki apa-apa selain mahasiswa. Hal ini tampaknya jauh lebih menyenangkan.

Las Asimi Lumban Gaol menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris

This article was originally published in English