Mampukah milenial sebagai “new sandwich generation” bertahan ketika pandemi?

Karyawan melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta, Senin (8/6/2020). Pekan kedua masa pembatasan sosial berskala berskala besar (PSBB) transisi, Pemprov DKI Jakarta mulai memperbolehkan karyawan di perkantoran kembali bekerja dengan kapasitas karyawan hanya dibolehkan sebanyak 50 persen dari jumlah karyawan dalam satu ruangan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/hp. Antara Foto

Generasi milenial, atau orang yang lahir pada tahun 1980 sampai 2000, adalah salah satu yang terdampak oleh pandemi COVID-19.

Generasi milenial bahkan bisa mendapat tantangan yang lebih berat mengingat status mereka sebagai generasi sandwich yang baru.

Generasi sandwich adalah orang-orang usia dewasa atau paruh baya yang terhimpit (sandwiched) dalam memenuhi kebutuhan finansial dan kesehatan orang tuanya yang lansia dan juga keturunannya.

Generasi sandwich harus mengeluarkan duit lebih tidak hanya untuk mengurus anak, tapi juga merawat orang tuanya yang bisa saja sakit dan membutuhkan pengobatan hal ini karena merawat orang tua memang budaya Indonesia yang kental.

Padahal di tengah kondisi pandemi yang serba tidak menentu ini, banyak perusahaan yang harus memotong gaji bahkan merumahkan karyawannya, serta tak sedikit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang merugi karena minimnya transaksi jual beli.

Data dari Direktorat Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa hingga bulan Mei 2020 tercatat sudah 2,9 juta pekerja yang dirumahkan Tentu pada situasi ini, hampir semua kalangan memiliki beban finansial, terutama kalangan yang berada dalam usia produktif antara 15 sampai dengan 64 tahun.

Dilema generasi sandwich pada pandemi

COVID-19 membuat pengeluaran menjadi lebih besar daripada pendapatan, karena bukan hanya pemenuhan kebutuhan mendasar yang harus diprioritaskan selama pandemi.

Banyak kebutuhan ‘ekstra’ seperti layanan jaminan kesehatan yang memadai bagi orangtua yang rentan akan COVID-19, kebutuhan akan pendidikan anak yang sekarang lebih banyak menggunakan fasilitas daring, serta keharusan memiliki dana darurat di tengah ketidakpastian ini membuat kaum sandwich ‘baru’ menjadi sulit dalam menata emosi dan mencari penghasilan tambahan.

Hampir 68% kalangan muda yang terjebak dalam lingkaran sandwich mengaku mengalami penurunan pendapatan sejak pandemi merebak, dan 25% diantaranya harus menjual sebagian besar asetnya untuk tetap bertahan hidup sembari menopang keluarganya.

Fenomena ini menjadi indikasi buruk bagi kondisi finansial mereka di masa mendatang, serta butuh perbaikan segera agar benar-benar tidak terjerat menjadi generasi sandwich yang baru.

Pekerja berjalan di atas JPO Dukuh Atas, Jakarta, Senin (4/5/2020). Kementerian Ketenagakerjaan per 20 April 2020 lalu merilis sebanyak 2,8 juta warga menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan akibat pandemi COVID-19, sementara Wakil Ketua umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bidang UMKM, Suryani Motik menyebut warga yang menjadi korban PHK akibat pandemi bisa mencapai 15 juta jiwa. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/pras. Antara Foto

Apakah mereka mampu bertahan dan bagaimana solusinya?

Bertahan dan beradaptasi seiring pandemi bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan. Apalagi milenial adalah generasi tahan banting yang akrab dengan dinamika global, tentu mereka bisa bertahan dalam menghadapi krisis ini.

Sebuah riset menemukan bahwa milenial Indonesia adalah generasi yang kreatif dan informatif, serta memiliki pola pikir yang berbeda. Milenial dinilai mempunyai pikiran yang terbuka, menjunjung tinggi kebebasan, kritis dan berani.

Jika milenial gagal dari jeratan generasi sandiwich, maka mereka akan jadi generasi yang sibuk menutupi kebutuhan dengan cara berhutang, dan pada akhirnya terancam menjadi miskin.

Untuk itu manajemen keuangan diperlukan agar tidak semakin terjebak dalam keterjepitan. Agar milenial juga bisa menyelamatkan generasi berikutnya dari kejadian serupa.

Untuk milenial yang masih memiliki penghasilan yang cukup, maka ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • pertama; menghitung dengan cermat biaya hidup sehari-hari. Seperti metode yang pernah dicetuskan oleh senator Amerika Serikat Elizabeth Warren, menghitung pengeluaran bulanan dengan menggunakan metode 50/20/30, yakni 50% untuk needs (kebutuhan), 20% untuk savings (tabungan), serta 30% untuk wants (keinginan).

  • kedua; menyiapkan generasi bawah (anak-anak) untuk hidup sederhana dan mengesampingkan kebutuhan sekunder dan tersier, seperti ponsel pintar dan jam tangan yang mahal.

  • ketiga; menabung untuk menyiapkan dana darurat. Poin ketiga ini bisa dilakukan dengan cara mengasah kreativitas dan hobi, semisal memasak dan menjual hasilnya melalui media sosial, berjualan hasil kerajinan tangan di lapak-lapak e-commerce, hingga membuka sesi pelatihan komersil via online (yoga, fotografi atau menulis).

Menjadi generasi sandwich ‘baru’ memang bukan pilihan baik, namun hal ini bisa disiasati agar tidak terperosok menjadi ‘miskin’ dan membawa generasi berikutnya mengalami kondisi serupa.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 109,100 academics and researchers from 3,580 institutions.

Register now