Menu Close

Masyarakat miskin paling terdampak seiring dengan merebaknya COVID-19 di negara-negara miskin

Penjual koran memakai masker di Nairobi, Kenya. Simon Maina/AFP via Getty Images

Seiring dengan banyaknya penerbangan yang dibatalkan, perusahaan-perusahaan yang meminta karyawan mereka untuk tinggal di rumah, serta indeks saham yang jatuh, krisis kesehatan global saat ini perlahan menjelma sebagai krisis ekonomi global.

Dalam suatu krisis kesehatan, fokus utama kita (seharusnya) adalah pada mereka yang telah jatuh sakit. Lebih dari 6.400 orang di seluruh dunia telah meninggal dan lebih dari 164.000 kasus telah terkonfirmasi di 146 negara dan teritorial.

Dampak ekonomi dari pandemi ini memiliki efek dramatis pada kesejahteraan banyak keluarga dan masyarakat. Bagi keluarga yang rentan, hilangnya penghasilan akan berakibat pada meningkatnya kemiskinan, anak-anak yang akan mendapat asupan gizi lebih sedikit, dan berkurangnya akses kesehatan untuk hal-hal di luar COVID-19. Dengan terkonfirmasinya kasus-kasus di banyak negara berpendapatan rendah dan menengah, pandemi ini akan berdampak pada masyarakat paling rentan di dunia.

Dari mana saja dampak ekonomi akibat COVID-19 akan datang? Selain menghasilkan tragedi manusia, ada dampak ekonomi langsung akibat hilangnya nyawa dalam suatu pandemi. Keluarga dan orang-orang tersayang tidak hanya kehilangan penghasilan tapi kontribusi dalam bentuk lain seperti tidak adanya orang yang akan merawat anak mereka saat orang tua sang anak bekerja.

Meski kecenderungan meninggal akibat COVID-19 lebih rendah, banyak orang berusia kerja yang jatuh sakit dan keluarga mereka akan merasakan beban finansial akibat ketidakhadiran kerja selama beberapa hari atau pekan tersebut.

Perilaku menghindar

Kebanyakan dampak ekonomi akibat COVID-19 akan berasal dari “perilaku enggan”. Artinya tindakan yang diambil orang-orang untuk mencegah terjangkiti virus. Perilaku tersebut berasal dari tiga hal:

  1. Pemerintah melarang kegiatan-kegiatan tertentu, seperti ketika pemerintah Cina memerintahkan pabrik-pabrik untuk menghentikan operasi atau Italia menutup mayoritas toko di penjuru negara tersebut.

  2. Perusahaan-perusahaan dan institusi-institusi (termasuk sekolah swasta) mengambil langkah proaktif mencegah penularan. Penutupan usaha - baik akibat perintah pemerintah atau keputusan pengusaha yang bersangkutan - berdampak pada hilangnya upah bagi para pekerja, terutama bagi pekerja ekonomi informal, yang tidak memiliki hak mendapatkan upah selama cuti.

  3. Orang-orang mengurangi perjalanan - untuk berbelanja, berwisata, dinas, dan kegiatan sosial maupun kegiatan lainnya.

Tindakan-tindakan tersebut berdampak pada semua sektor ekonomi. Hal ini mengakibatkan menurunnya penghasilan baik dari sisi suplai (penurunan produksi mengakibatkan naiknya harga bagi para konsumen) maupun sisi permintaan (penurunan permintaan konsumen berdampak pada para pelaku usaha dan karyawan mereka).

Dampak ekonomi dalam jangka pendek ini dapat berdampak pada menurunnya tingkat pertumbuhan dalam jangka panjang. Dengan banyaknya sumber daya yang digunakan oleh sektor kesehatan dan orang-orang mengurangi kegiatan sosial mereka, negara-negara akan mengurangi investasi untuk infrastruktur fisik.

Dengan tutupnya sekolah, pelajar kehilangan kesempatan untuk belajar (semoga hanya untuk durasi singkat). Tapi bagi pelajar dari kalangan rentan bisa saja tidak kembali melanjutkan pendidikan mereka, mengakibatkan mereka tidak dapat meraih pendapatan yang lebih tinggi pada masa mendatang baik bagi mereka maupun keluarga mereka, serta menurunkan kualitas sumber daya manusia bagi negara yang bersangkutan.

Misalnya, kehamilan tak terencana meningkat tajam di Sierra Leone selama epidemi Ebola, kemungkinan besar diakibatkan oleh penutupan sekolah. Kemungkinan ibu berusia remaja kembali melanjutkan pendidikan lebih rendah, dan anak-anak mereka kemungkinan besar tidak mendapatkan akses kesehatan dan pendidikan yang optimal.

Selain itu, penyebaran dan kematian pada pekerja kesehatan di garda terdepan epidemi dapat berdampak pada kondisi kesehatan yang memburuk secara jangka panjang, misalnya pada figur kematian ibu dan anak. Semua ini memiliki dampak pada kemiskinan, selain tentunya dampak kemanusiaan.

Apa yang kita ketahui sejauh ini dan apa yang dapat kita harapkan

Estimasi dampak COVID-19 pada ekonomi global bervariasi. Tom Orlik dan orang-orang di Bloomberg mengestimasi kerugian sebesar US$2,7 triliun pada ekonomi global.

Sementara proyeksi Bank Pembangunan Asia berkisar antara US$77 miliar hingga US$347 miliar, dan sebuah laporan OECD menyiratkan ekonomi global akan menyusut menjadi separuh.

Beberapa analisis terbaru akan dampak ekonomi saat ini dan yang diproyeksikan memberikan gambaran yang konsisten. Di berbagai sektor di negara-negara Afrika, dampak ekonomi akan berasal dari perlambatan ekonomi Cina, dengan menurunnya permintaan akan sumber daya alam dari Cina. Analisis ini memproyeksikan akan ada penurunan investasi di sektor energi, pertambangan, dan berbagai sektor lainnya, serta menurunnya jumlah perjalanan dan pariwisata.

Sebuah analisis lain menyebutkan bahwa penutupan pabrik-pabrik di Cina sudah terasa pada konsumen Afrika. Di Zimbabwe dan Angola, ekspor ke Cina sudah turun tajam.

Sekitar seperempat produk impor di Uganda berasal dari Cina. Rantai pasok telah terganggu selama beberapa minggu karena pabrik-pabrik Cina menghentikan produksi. Pedagang kecil yang menjual tekstil, produk elektronik atau keperluan rumah tangga kini menghadapi masalah … Di Niger, ketersediaan barang-barang tertentu, termasuk pasokan makanan, dari Cina sudah sangat terdampak, mengakibatkan tingginya harga barang.

Kebanyakan data dan dampak yang didapat dari hasil pengamatan di negara-negara berkembang sejauh ini masih terpaut pada penghentian produksi dan ekspor dari Cina, dan estimasi tersebut tidak memasukkan memburuknya kondisi ekonomi Eropa dan Amerika Serikat ke dalam analisis. Namun seiring dengan melambatnya ekonomi negara-negara lain akibat penyebaran COVID-19, dampak yang sebenarnya akan tampak lebih jelas pada data ekonomi riil dan kemungkinan besar figurnya akan memburuk.

Apa yang harus dilakukan

Selain dari tiga saran stimulus dan likuiditas oleh Dana Keuangan Internasional (IMF), kami ingin menambahkan tiga rekomendasi lagi.

Pertama, batasi pandemi ini. Seperti yang kolega kami Jeremy Konydyk sebutkan,

Untuk menenangkan reaksi pasar terhadap pandemi ini, Anda harus menawarkan rencana yang realistis untuk menangkal penyebaran.

Selama virus ini terus menyebar, perilaku enggan adalah pilihan yang rasional dan bijak. Mengurung virus adalah langkah pertama untuk mengurangi tidak hanya dampak kesehatan dari COVID-19 tapi juga dampak ekonominya.

Kedua, perkuat jaring pengaman. Rumah tangga yang paling rentan adalah mereka yang kemungkinan besar akan paling terdampak secara ekonomi. Pekerja upah rendah biasanya adalah mereka yang akan kehilangan pekerjaan jika mereka tidak hadir kerja akibat cuti sakit yang berkepanjangan. Mereka biasanya adalah orang-orang yang paling tidak mampu bekerja secara jarak jauh untuk menghindari penyebaran virus. Dan mereka biasanya juga tidak memiliki uang simpanan untuk menghadapi kondisi ekonomi yang memburuk.

Menjamin adanya jaring pengaman ekonomi - transfer dana secara tunai, cuti sakit, layanan kesehatan bersubsidi - akan membantu mereka yang paling rentan untuk bertahan dan memberikan dukungan bagi pelaku usaha yang melayani kalangan tersebut.

Ketiga, ukur dampaknya. Data sistematis yang menjelaskan segmen populasi mana yang paling terdampak dan industri apa yang berada di ambang kepailitan diperlukan agar pemberian bantuan dapat dilakukan secara optimal.

Selama epidemi Ebola pada 2014-2015, peneliti menggunakan survei via telepon di Sierra Leone dan Liberia - menggunakan kerangka sampel dari survei-survei yang telah ada - untuk mengumpulkan informasi terkait dampak dari keadaan sakit dan perilaku enggan pada rumah tangga dan pelaku usaha di penjuru kedua negara tersebut.

Amina Mendez Acosta turut membantu dalam penelitian untuk penulisan artikel ini. Versi lain dari artikel ini telah diterbitkan terlebih dahulu oleh Center for Global Development.

Bram Adimas Wasito menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 125,200 academics and researchers from 3,985 institutions.

Register now