Melawan kampanye negatif yang menyerang jurnalis di internet: Belajar dari Maria Ressa

Aktivis hak asasi manusia Filipina mengadakan demonstrasi di depan kantor Biro Investigasi Nasional (NBI) di mana CEO dan Editor Eksekutif Media Online Rappler, Maria Ressa ditahan, di Manila, Filipina, 14 Februari 2019. EPA/ALECS ONGCAL

Melawan kampanye negatif yang menyerang jurnalis di internet: Belajar dari Maria Ressa

Dalam dekade terakhir, menurut UNESCO, lebih dari 800 wartawan telah tewas terbunuh ketika melakukan pekerjaannya, sementara ratusan lainnya diserang, dipenjara, atau dilecehkan.

Sifat ancaman berubah ketika dunia virtual memasuki dunia fisik. Pengalaman jurnalis Filipina Maria Ressa menunjukkan bagaimana wartawan sekarang menghadapi kampanye yang dirancang untuk mendiskreditkan dan membungkam mereka melalui internet.


Maria Ressa adalah mantan koresponden perang CNN, tetapi tidak ada pengalamannya di lapangan yang mempersiapkannya untuk menghadapi kampanye destruktif melalui internet yang melecehkan dirinya sejak terpilihnya Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada 2016.

“Saya telah dipanggil jelek, anjing, seekor ular, diancam akan diperkosa dan dibunuh,” katanya. Berapa kali dia menerima ancaman pembunuhan online? Dia bahkan tidak bisa lagi menghitungnya. “Astaga, ada begitu banyak!” ujarnya.

Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, Ressa adalah CEO dan Editor Eksekutif dari organisasi berita, Rappler, yang berbasis di Filipina.

Selain diancam akan diperkosa dan dibunuh, dia menjadi sasaran kampanye dengan tagar seperti #ArrestMariaRessa (#TangkapMariaRessa) dan #BringHerToTheSenate (#BawaDiakeParlmen). Tagar-tagar yang menarik perhatian massa ini dirancang untuk menyerang dan mendiskreditkan Ressa dan Rappler, dan mengabaikan pemberitaan Rappler.

Setiap jurnalis di Filipina yang mengeluarkan pemberitaan mengenai kepresidenan Duterte secara independen menjadi sasaran pelecehan secara online yang merajalela dan sangat terkoordinasi, ujar Maria Ressa. Terutama jika mereka perempuan.

Maria Ressa. Martin San Diego, Rappler, Author provided

“Ini awal kesenyapan yang parah. Siapa pun yang kritis atau mengajukan pertanyaan tentang pembunuhan di luar proses hukum (extrajudicial killings) diserang secara brutal. Perempuan seringkali menjadi korban yang paling parah, "katanya. "Dan kami menyadari bahwa sistem ini dibuat untuk membungkam perbedaan pendapat–yang dirancang untuk membuat jurnalis patuh. Kami tidak seharusnya mengajukan pertanyaan sulit, dan kami tentu tidak seharusnya kritis. ”

Serangan ini merupakan ancaman nyata terhadap keamanan psikologis, keamanan digital, dan bahkan keamanan fisik jurnalis, tambahnya. Namun dia menolak untuk diintimidasi oleh pasukan online “super troll”, yang dia yakini adalah bagian dari kampanye untuk mengacaukan demokrasi di Filipina.

Dia mengakui bahwa serangan konstan tersebut sering membuat dia berpikir dua kali ketika hendak mengeluarkan laporan yang dapat mengundang serangan. “Tapi kemudian saya tetap lakukan dan menulis pemberitaan yang lebih kritis lagi! Saya menolak untuk membiarkan intimidasi menang. ”

Jurnalisme investigasi sebagai alat perlawanan

Ressa menanggapi ancaman yang diterimanya dengan laporan investigasi tentang masalah pelecehan online, disinformasi, dan misinformasi. Dia percaya dengan melakukan ini dia “menyinari” pihak-pihak yang menyerangnya.

Tetapi setelah Rappler menerbitkan serangkaian reportase yang memetakan dampak negatif dari strategi politik pemerintah Filipina pada Oktober 2016, serangan dan ancaman kekerasan yang diterima oleh Ressa meningkat secara dramatis.

Rangkaian reportase tersebut menggunakan analisa “big data” yang menemukan bahwa terdapat jaringan yang terdiri dari 26 akun Facebook palsu yang dipakai untuk mempengaruhi hampir tiga juta akun lain yang berbasis di Filipina. Di belakang akun-akun palsu ini ada tiga “super troll”, jelas Ressa.

Tujuan mereka adalah untuk menyebarkan informasi yang salah dan memicu serangan balik. “Mereka akan menanam pesan dalam kelompok, memprovokasi kelompok yang kemudian akan menjadi gerombolan untuk menyerang target,” katanya

Setelah penerbitan laporan Rappler yang berjudul Propaganda War: Weaponising the Internet (Perang Propaganda: Mempersenjatai Internet), Maria Ressa menerima rata-rata 90 pesan kebencian per jam. Di antara pesan-pesan tersebut, ada yang dia gambarkan sebagai “ancaman kematian yang kredibel”.

Pesan-pesan tersebut dikirimkan selama berbulan-bulan. “Itu terjadi begitu cepat dengan frekuensi sesering itu, saya tidak menyadari betapa tidak wajarnya itu,” katanya. Pada awalnya, efeknya membuat Maria Ressa mengabaikan keseriusan ancaman yang diterimanya. “Saya benar-benar bergumul dengan apa yang nyata, apa yang tidak. Bagaimana saya sebaiknya merespons, haruskah saya menanggapi?” Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang lazim bagi jurnalis dan editor yang berjuang untuk memerangi pelecehan terhadap diri mereka yang dilakukan secara online.

Tetapi Ressa percaya bahwa berbicara dapat memberinya perlindungan dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang masalah ini.

Meminta bantuan dari pembaca loyal

Pada awal 2017, Ressa menerima ancaman lain yang mengejutkannya. Ancaman jenis ini akrab dijumpai oleh jurnalis perempuan: ancaman bahwa dia akan diperkosa beramai-ramai dan dibunuh. Seorang pria muda menulis di halaman Facebook Rappler:

Saya ingin Maria Ressa diperkosa berulang kali sampai mati, saya akan sangat senang jika itu terjadi ketika darurat militer diumumkan, itu akan membawa sukacita di hati saya.

Ressa merespons ancaman tersebut sebagaimana seorang jurnalis media digital yang tahu benar bagaimana menggunakan kekuatan pembacanya. Dia meminta komunitas online-nya untuk membantu mengidentifikasi orang yang membuat ancaman tersebut. Pengancam menggunakan akun Facebook dengan nama palsu. Dengan bantuan pendukungnya, Ressa dapat mengidentifikasi pria itu sebagai mahasiswa berusia 22 tahun. Ketika universitas tempat pengancam itu kuliah mengetahuinya, pria itu dipaksa untuk menelepon Ressa dan meminta maaf.

Demonstran Filipina menggelar demonstrasi yang dijuluki protes Black Friday untuk menandai bulan pertama deklarasi Darurat Militer di wilayah Mindanao di Manila, Filipina, 23 Juni 2017. EPA/FRANCIS R. MALASIG

Kemudian, muncul situs berita palsu yang mengutip Maria Ressa secara salah dan menyusun berita yang menyesatkan. Pemberitaan itu memunculkan serangan online lainnya yang dimotori oleh anggota militer Filipina, baik yang aktif dan sudah tidak aktif lagi.

Sekali lagi, Ressa mengandalkan komunitas daringnya sebagai tanggapan, dan seorang “warganet” menulis surat terbuka kepada kepala Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Eduardo Ano, dan memintanya untuk campur tangan.

Penggunaan jaringan komunitas Maria Ressa berhasil. Jenderal Ano kesal dengan kejadian itu lalu memerintahkan penyelidikan dan mengeluarkan permintaan maaf resmi: “Kami secara terbuka meminta maaf kepada Nona Maria Ressa atas kerugian emosional, kecemasan, dan penghinaan atas komentar yang tidak baik dan bertanggung jawab,” tulisnya.

Menguatkan keamanan online dan fisik

Ressa mulai menyadari bahwa ancaman untuk menyakiti jurnalis, atau hasutan untuk menyakiti jurnalis yang dilakukan di internet harus ditanggapi dengan serius. Mereka tidak bisa ditangani hanya dengan memblokir, mematikan suara (mute), melaporkan, menghapus, dan mengabaikan karena, “Anda tidak tahu kapan itu akan melompat keluar dari dunia virtual dan menyelinap ke dunia sebenarnya.”

Ressa memutuskan untuk meningkatkan keamanan di ruang berita Rappler dan memberikan perlindungan bagi para jurnalis yang menghadapi serangan online yang buruk. Dia menambahkan:

Itu sampai pada titik di mana saya mengkhawatirkan tentang keselamatan. Ketika ada orang-orang yang terbunuh setiap malam dalam perang narkoba dan Anda menerima ancaman-ancaman ini, Anda tidak punya pilihan sebagai perusahaan yang bertanggung jawab selain untuk meningkatkan keamanan bagi orang-orang yang bekerja untuk Anda.

Secara bersamaan, Maria Ressa memperkuat pertahanan keamanan digital. Namun, meski memberikan dukungan psikologis, dia tidak membebastugaskan jurnalisnya dari tugas pemberitaan, atau mengirim mereka ke luar negeri.

Dan dia tetap membuka opsi hukumnya. Banyaknya serangan yang diterimanya menandakan bahwa tidak mungkin untuk dirinya membalas setiap serangan, kata Ressa. Tetapi Rappler merekam setiap ancaman online dan menyimpan data untuk kemungkinan tindakan hukum di masa depan.

“Kami telah menerapkan protokol untuk menangani ancaman online”, katanya. “Kami mencari cara-cara yang dapat meminta pertanggungjawaban pelaku. Impunitas yang ada saat ini seharusnya tidak seperti ini. Kita membutuhkan solusi. ”

Meminta pertanggungjawaban platform

Halaman Facebook milik Ressa merupakan target dari sekitar 2.000 komentar “buruk” setiap harinya, ujarnya.

“Mesin propaganda menggunakannya (laman Facebook Ressa) untuk memicu kemarahan dan kemudian kita harus berurusan dengan orang-orang nyata yang mempercayai hal ini. Jadi itu membutuhkan banyak waktu, "katanya. "Ini seperti bermain whack-a-mole.”

Dia menolak gagasan bahwa tanggung jawab ada pada jurnalis untuk mengawasi media sosialnya dengan terus-menerus melaporkan ancaman yang diterima dengan: “Blokir, mute, laporkan … ketika Anda mendapatkan begitu banyak, itu memakan waktu terlalu banyak. Tidak ada cukup waktu dalam sehari. Kami juga memiliki pekerjaan yang harus dilakukan. ”

Presiden Filipina Rodrigo Duterte (dua dari kanan) terlihat dalam kunjungannya ke sebuah kamp militer di Kota Lapu-Lapu, Cebu, Filipina, 04 Juni 2017. EPA/PRESIDENTIAL PHOTOGRAPHERS DIVISION

Sementara dia mengakui besarnya tantangan yang dihadapi Facebook, Ressa bersikeras bahwa satu-satunya jalan ke depan adalah untuk perusahaan media sosial tersebut dapat ikut bertanggung jawab atas masalah tersebut dan menjalankan perannya dalam menyebarluaskan informasi.

Jadi dia telah secara terbuka meminta Facebook untuk melakukan intervensi. Dia juga telah menemui Facebook dengan data yang menunjukkan ukuran masalahnya.

Dalam jangka pendek, “satu-satunya kelompok yang memiliki kekuatan untuk mengembalikan rasa ketertiban dan kesopanan adalah Facebook … Untuk tidak melakukan apa-apa adalah melepaskan diri dari tanggung jawab.”

Dampak emosional dan psikologis

Jurnalis perempuan sering diminta untuk “kuat” atau “pura-pura tidak mendengar”, dan itu adalah respons umum bagi mereka yang mengalami pelecehan online berbasis gender. Tetapi, menurut Resa, efek kumulatif dari cemoohan terus-menerus–yang sering diterima melalui perangkat intim ponsel–harus diakui. Bukan hanya karena akibat dari pelecehan online tersebut mempengaruhi kesejahteraan emosional dan psikologis tetapi juga menurunkan tingkat kepercayaan diri:

Mereka menyerang tampilan fisik Anda, seksualitas Anda. Ketika Anda direndahkan, dan dilucuti dari martabat dengan cara ini, bagaimana Anda bisa mempertahankan kredibilitas Anda? Semua hal ini dilakukan untuk mencegah wartawan melakukan pekerjaan mereka.

Dia terkejut pada parahnya serangan yang ditujukan dan menawarkan konseling dan dukungan kepada jurnalis Rappler dan juga tim media sosial yang berada di garis depan pertempuran dan terkena dampaknya, karena: “Saya tidak ingin orang-orang kita pulang dengan perasaan tersebut.”

Ressa juga berupaya mendukung orang lain yang menderita pelecehan online meski bukan staf Rappler.

“Kami datang bersama untuk saling membantu. Kami tahu apa yang sedang terjadi–ini dilakukan untuk mengintimidasi kami. Kami saling menguatkan. Dan saya pikir kita akan melewatinya,” katanya. “Saya seorang yang optimis dan saya pikir, saat ini kita ditempa oleh api dan kita akan muncul lebih kuat.”


Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Ariza Muthia.

Versi bahasa Inggris artikel ini merupakan ekstrak yang diedit dari Serangan Pada Satu Adalah Serangan Pada Semua: Inisiatif yang berhasil untuk melindungi jurnalis dan melawan impunitas, diterbitkan oleh UNESCO dan diluncurkan pada konferensi PBB di Jenewa beberapa waktu yang lalu.

This article was originally published in English