Menu Close

Memahami asmara secara akademik: mengapa jiwa ilmiah selalu berdebar untuk Kajian Cinta

Hubungan asmara adalah topik studi yang semakin populer di dunia akademik karena mengeksplorasi banyak isu, mulai dari bagaimana teknologi mengubah hubungan hingga maskulinitas yang digambarkan di dalam buku dan film. Summit Entertainment, Temple Hill Entertainment, Maverick Films.

Kita harus menemukan … kekuatan cinta untuk menyelamatkan segalanya. Dan ketika kita menemukannya, kita akan membuat seluruh dunia ini menjadi dunia baru. Cinta adalah satu-satunya jalan hidup.

Melalui pidato penuh semangat pada pernikahan Pangeran Harry dan Meghan Markle pada 2018, Uskup Amerika Serikat (AS) Michael Curry, Primat Gereja Episkopal, mengutip kata-kata di atas dari Dr Martin Luther King.

Dr Curry kemudian lanjut menjelaskan kekuatan cinta untuk mendorong perubahan dalam kehidupan manusia: “Pikirkan dan bayangkan suatu dunia di mana cinta adalah jalan hidup kita,” katanya kepada jemaat.

Di berbagai universitas di seluruh dunia, para akademisi sedang melakukannya. ‘Kajian Cinta’ (‘Love Studies’), bidang yang baru muncul dalam beberapa dekade terakhir, menjadi bidang yang penelitian dan aplikasinya semakin memiliki peran signifikan.

Ada berbagai jurnal dan konferensi terkait Kajian Cinta, situs bahasan akademik terkait romansa populer seperti Teach Me Tonight juga banyak bermunculan, dan jumlah lulusan dalam bidang ini pun semakin banyak.

Namun, sebenarnya apa yang dibahas dalam bidang studi ini?

Kajian Cinta muncul dari diskursus dan analisis dalam studi terkait romansa, budaya, dan gender populer. Pada awalnya, kajian ini mencoba untuk mengevaluasi ulang dan memahami lebih dalam kompleksitas dan kerumitan cinta, khususnya perasaan cinta asmara, dan bagaimana hal tersebut membentuk kehidupan dan pengetahuan kita.

Seperti yang dinyatakan oleh akademisi Virginia Blum ketika menulis tentang bidang studi ini:

Walaupun seks memang ‘menjual’, cinta tampaknya selalu melebihi seks setiap kali membicarakan tentang sifat alamiah dari kebebasan dan kebahagiaan individual.

Perlahan-lahan, ide tentang cinta yang romantis mulai dieksplorasi dalam berbagai bidang yang lain: filsafat, hukum, studi bahasa dan literatur, politik, antropologi dan ilmu sosial.

Kajian Cinta mengamati tentang hasrat, hubungan intim, gender, dan kuasa sembari mempertahankan suatu kesadaran kritis tentang beban dari perasaan cinta bagi perempuan. Sementara itu, dalam psikologi, ada suatu pembaruan fokus pada kebahagiaan dan rasa cinta kasih.


Read more: Bagaimana orang bisa jatuh cinta?


Saat ini, Kajian Cinta semakin menjadi lebih terdefinisi dan berkembang. Tahun lalu, The Journal of Popular Romance Studies (Jurnal Kajian Romansa Populer) menerbitkan edisi khusus tentang Kajian Cinta Kritis. Edisi ini mengamati hal-hal seperti perbandingan romansa populer dan teori queer, pasangan yang melakukan hubungan jarak jauh melalui Skype, hubungan asmara antara laki-laki dalam fiksi romansa Jepang, serta isu maskulinitas dalam novel Twilight karya Stephnie Meyer.

Teknologi mengubah hubungan asmara. shutterstock

Sementara itu, terdapat konferensi global tahunan dengan nama LOVE, ETC yang diadakan di Denmark. Pada 2018, misalnya, konferensi ini membahas cinta sebagai topik panas baru di akademi, termasuk isu-isu seperti bagaimana cinta berubah pada masa kencan online dan tantangan norma gender dan seksualitas.

Bagaimana perubahan cinta akan mengubah teknologi masa depan? (Apakah kita akan bisa mencintai robot?) Apa perbedaan antara cinta dan peduli?

Pada waktu yang bersamaan, tren kelas online tentang romansa populer sedang tumbuh secara global dan koleksi penelitian hubungan asmara di berbagai perpustakaan juga semakin banyak.

Beberapa akademisi menyatakan bahwa pada abad ke-21, cinta adalah salah satu tujuan eksistensial dalam hidup kita. Cinta bisa bersifat mendobrak norma atau dimaknai secara tradisional, tergantung dari sudut pandang yang kita gunakan.


Read more: Alasan mengapa kita mencari pasangan yang suka dan bisa membuat kita tertawa


Cinta asmara memang bukan bahasan yang mudah, serta merupakan garis depan tempat hati, pikiran, dan tubuh kita bersatu.

Untuk beberapa orang, cinta adalah pertempuran. Pornografi balas dendam. Kekerasan terhadap pasangan. Pemerkosaan dalam kencan. Pelecehan seksual. Perundungan online. Hubungan yang kasar. Ada banyak rasa sakit yang bisa timbul ketika manusia semakin dekat dan personal dengan satu sama lain.

Beberapa orang mungkin menyebut kajian tentang cinta sebagai sesuatu yang dangkal, terlalu manis, dan komersial - sedikit mirip dengan perayaan Hari Valentine. Meskipun selama ini ada stigma dan cemoohan bahwa bidang ini kurang memiliki daya tarik, bagi beberapa akademisi, bidang ini adalah titik yang pas.

Sebagai penulis novel romansa, Kajian Cinta membantu saya memikirkan berbagai masalah dalam tulisan saya sendiri.

Lebih dari itu, sebagai akademisi, saya bekerja dengan kolega-kolega di bidang psikologi, ilmu seks, dan studi budaya, untuk mengeksplorasi isu tentang persetujuan dan hubungan konsensual pasca gerakan #MeToo dan bagaimana “hak sipil” bisa ditegakkan di dalam kamar tidur, tanpa menekan hasrat dalam berhubungan.

Cinta bukanlah suatu tujuan tersendiri, suatu akhir yang bahagia, melainkan suatu proses kreatif yang membuka kesempatan tak terbatas untuk berpikir dan berimajinasi. Kita masih menanti apakah cinta bisa benar-benar membentuk dunia baru seperti yang diimpikan oleh Martin Luther King.


Ignatius Raditya Nugraha menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

CATATAN EDITOR: Kami mengubah judul yang sebelumnya mengandung “hati ilmiah” menjadi “jiwa ilmiah”.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 125,000 academics and researchers from 3,979 institutions.

Register now