Menu Close
Bagian belakang dan ekor binatang berbulu merah
Anjing menggunakan ekornya untuk berkomunikasi. Eastimages/Moment via Getty Images

Mengapa hewan memiliki ekor?

Mengapa hewan memiliki ekor? – Kristin M., umur 11, Kansas City, Missouri, Amerika Serikat


Para ilmuwan telah menemukan fosil hewan yang memiliki ekor sejak ratusan tahun lalu. Saat itu, ikan purba menggunakan ekor yang mirip kipas sebagai sirip untuk berenang melintasi lautan dan melarikan diri dari pemangsa.

Dengan berevolusinya ikan-ikan ini menjadi makhluk darat, ekor mereka juga mulai berubah.

Ekor memberi banyak kegunaan bagi hewan, baik reptil, serangga, burung, maupun mamalia. Hewan modern seperti yang saat ini sering kita menggunakan ekor untuk melakukan berbagai hal, dari mempertahankan keseimbangan hingga berkomunikasi dan menemukan pasangan.

Alat untuk keseimbangan dan pergerakan

Para ilmuwan percaya bahwa dinosaurus, termasuk Tyrannosaurus rex, mengayunkan ekor mereka dari satu sisi ke sisi lain untuk menyeimbangkan kepala dan tubuh mereka yang berat saat berjalan dengan dua kaki. Gerakan ini membantu mereka untuk berlari dengan cukup cepat untuk menangkap mangsanya.

Mirip dengan dinosaurus, kanguru saat ini menggunaakan ekornya untuk tetap seimbang ketika mereka melompat di tanah terbuka. Tidak hanya sebagai penyeimbang berat badan mereka, ekor kanguru juga berfungsi sebagai kaki ketiga yang kuat untuk membantu mendorong mereka di udara.

Kucing dan hewan lain yang memanjat sering kali memiliki ekor lebat atau panjang yang membantu mereka menyeimbangkan diri, seperti orang yang berjalan di atas tali dan memegang tongkat panjang.

Monyet menggunakan ekor panjangnya untuk menjaga keseimbangan ketika berayun di cabang-cabang pohon di hutan. Banyak monyet juga memiliki ekor yang bisa menggenggam dan bertindak sebagai tangan dan memungkinkan mereka untuk memegang dahan pohon.

Ekor ini sangat kuat sehingga dapat menopang hewan tersebut saat makan buah dan daun.

Tyrannosaurus rex dapat mengayunkan ekornya yang berat untuk menyeimbangkan diri saat berjalan..

Mekanisme pertahanan

Hewan lain memiliki ekor yang berevolusi menjadi senjata. Misalnya, ikan pari memiliki ekor penyengat ikonik yang dapat digunakan sebagai pertahanan saat pemangsa menyerang mereka.

Ular berbisa memiliki kancing kulit kering di ekornya yang menghasilkan suara bising ketika diguncangkan. Ekor ini memberi sinyal bagi hewan apapun yang mungkin mengancam ular derik bahwa hewan ini sedang bersiap untuk menyerang.

Banyak serangga juga memiliki ekor, tetapi mereka berevolusi secara terpisah dari hewan lain yang memiliki tulang belakang, seperti ikan dan mamalia. Kebanyakan serangga dengan ekor menggunakan ekornya untuk bertelur atau menyengat dan melumpuhkan inang atau mangsanya. Pada beberapa hewan, seperti tawon, ekornya dapat melakukan kedua hal ini. Ekor ini akan memudahkan tawon parasit tertentu untuk bertelur di dalam inangnya.

Hewan pemakan rumput, seperti bison di Amerika Utara, rusa kutub, dan jerapah di Afrika, memiliki ekor dengan kumpulan rambut panjang yang dapat dilambaikan untuk mengusir nyamuk dan serangga lain yang mungkin mengganggu mereka. Sapi dan kuda domestik juga memiliki ekor seperti ini.

Seekor ular derik coklat mengibaskan deriknya ke udara
Ular derik memiliki ekor yang berevolusi untuk membantu mereka bertahan. Paul Starosta/Stone via Getty Images

Alat komunikasi

Burung menggunakan ekornya yang berbulu untuk memberi keseimbangan saat mereka duduk di dahan pohon dan mengarahkan mereka dan mengurangi hambatan saat terbang. Beberapa burung juga menggunakan ekornya untuk ditunjukkan ketika musim kawin.

Tampilan visuan ini paling luar biasa pada spesies seperti kalkun dan burung merak. Kalkun dan burung merak jantan membentangkan bulu ekornya yang berwarna-warni untuk menarik pasangan betina.

Hewan yang hidup dan berburu dalam kelompok atau kawanan, seperti serigala, menggunakan berbagai posisi ekor mereka untuk menunjukkan status mereka dalam kelompoknya.

Anjing, yang merupakan keturunan serigala, juga menggunakan ekornya untuk berkomunikasi. Kamu mungkin pernah melihat anjing mengibaskan ekornya ketika mereka gembira.

Mengapa manusia tidak memiliki ekor

Meskipun manusia tidak memiliki ekor panjang yang dapat mencengkeram seperti ekor monyet atau ekor berbulu dengan warna cerah seperti ekor burung merak, nenek moyang kita sebenarnya memiliki ekor.

Para ilmuwan percaya bahwa ekor itu menghilang dari nenek moyang manusia sekitar 20 juta tahun yang lalu. Begitu mereka mulai berjalan tegak, mereka tidak lagi membutuhkan ekor yang membantu mereka untuk tetap seimbang.


Apakah kamu punya pertanyaan yang ingin ditanyakan ke ahli? Minta bantuan ke orang tua atau orang yang lebih dewasa untuk mengirim pertanyaanmu pada kami. Ketika mengirimkan pertanyaan, pastikan kamu sudah memasukkan nama pendek, umur, dan kota tempat tinggal. Kamu bisa:

  • mengirimkan email redaksi@theconversation.com

  • tweet ke kami @conversationIDN dengan tagar #curiouskids

  • DM melalui Instagram @conversationIDN


Zalfa Imani Trijatna dari Universitas Indonesia menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 185,300 academics and researchers from 4,982 institutions.

Register now