Barisan personil kepolisian sedang menjaga ketat gerbang depan kompleks Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Senayan, Jakarta, sesaat sebelum kerusuhan. Luthfi Dzulfikar/The Conversation

Mengapa tindakan kekerasan polisi tidak efektif untuk menangani aksi protes mahasiswa?

Demonstrasi mahasiswa dan pelajar yang berlangsung beberapa waktu belakangan sempat direspons dengan pendekatan represif oleh aparat keamanan.

Aksi unjuk rasa yang berlangsung kemarin di Jakarta dikabarkan berakhir ricuh dan polisi harus menembakkan gas air mata.

Akibat tindakan represif polisi, dua mahasiswa tewas ketika melakukan berunjuk rasa di Kendari, Sulawesi Tenggara, minggu lalu.

Salah satu bentuk represi juga ditunjukkan lewat ancaman Menteri Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir terhadap rektor yang membiarkan mahasiswanya bergabung dalam aksi protes. Meskipun ada klarifikasi kemudian yang menyatakan bahwa tidak ada rektor yang dikenai sanksi, tapi kesan bahwa aparat negara menghadapi aksi protes dengan pendekatan represif telah ditangkap oleh publik.

Kajian psikologi sosial tentang tindakan kolektif menunjukkan bahwa pendekatan represif ini tidak efektif. Alih-alih menghentikan aksi demonstrasi, penggunaan kekerasan justru akan mendorong aksi-aksi tersebut semakin berkelanjutan.

Tidak efektif

Tindakan represif mengacu pada pendekatan yang mengedepankan kekuasaan dengan mengancam, menekan bahkan melukai pihak lain. Pendekatan ini seringkali dipilih oleh otoritas dalam menghentikan berbagai aksi protes atau demonstrasi.

Munculnya narasi-narasi represif maupun tindak kekerasan fisik aparat negara dapat meningkatkan persepsi atas risiko bagi para peserta aksi.. Situasi represif yang mengarahkan pada meningkatnya persepsi atas risiko ini juga diikuti dengan meningkatnya rasa tertindas dan juga perasaan takut..

Dari sudut pandang aparat, rasa takut inilah yang diharapkan mampu menghentikan intensi untuk berpartisipasi dalam aksi protes berikutnya.

Namun, tindakan represif juga mampu menguatkan bangunan identitas para demonstran. Pengalaman bersama mengalami penindasan akan meningkatkan ikatan kekeluargaan antarpeserta protes.

Ikatan antarsesama peserta aksi yang sebelumnya tidak terbangun secara kuat akan semakin menguat seiring dengan meningkatnya pengalaman tertindas yang dirasakan bersama-sama sebagai akibat pendekatan represif aparat.

Pengalaman ini juga mampu meningkatkan perasaan melebur terhadap sesama pelaku aksi. Sederhananya, ikatan yang sebelumnya hanya didasari oleh kesamaan tuntutan misalnya, berubah menjadi ikatan yang dapat digambarkan melalui ikatan keluarga.

Hal ini dibenarkan oleh ahli antropologi kognitif Harvey Whitehouse melalui kajiannya terhadap garda depan pasukan revolusioner Libya. Seiring dengan meningkatnya penderitaan yang dirasakan bersama-sama di medan tempur, ikatan kekeluargaan yang kuat tumbuh di antara mereka.

Ikatan ini mampu memunculkan agensi personal individu atas kelompoknya, yaitu adanya dorongan yang kuat dari setiap individu di dalam kelompok untuk melakukan sesuatu yang lebih untuk kelompoknya..

Secara sederhana, dapat digambarkan bahwa para pelaku aksi akan siap menjadi tameng satu sama lain.

Dalam konteks yang lebih ekstrem, ketika ikatan keluarga ini terbangun, dan ancaman yang riil terhadap kelompok muncul, maka dorongan untuk melakukan serangan balasan terhadap ancaman akan muncul.

Hal inilah yang mengarahkan sebuah aksi protes yang mulanya berlangsung damai, justru menjadi konflik keras sebagai akibat pendekatan represif yang dilakukan otoritas.

Tidak hanya di Indonesia

Tidak hanya di Indonesia, hal yang sama juga ditemukan dalam berbagai aksi protes di Mesir, Hong Kong, Turki, dan Ukraina.

Pertanyaannya kemudian, apakah pendekatan represif ini akan menurunkan tensi para aktivis dalam memobilisasi aksi protesnya? Alih-alih dapat bekerja secara efektif untuk menghentikan rangkaian aksi demonstrasi, pendekatan represif justru akan mendorong aksi-aksi kolektif tersebut semakin berkelanjutan.

Pola ini dapat disaksikan langsung dalam rangkaian aksi protes yang berlangsung di Hong Kong. Seiring dengan meningkatnya pendekatan represif yang dilakukan oleh aparat keamanan, solidaritas antarpeserta aksi justru semakin meningkat.

Individu-individu yang tidak saling mengenal secara pribadi, dalam rangkaian aksi yang direpresi tersebut, justru menjadi sau zuk (istilah Kanton untuk menggambarkan ikatan yang sangat kuat, secara etimologis berarti ‘tangan dan kaki’) satu sama lain.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 105,400 academics and researchers from 3,359 institutions.

Register now