Menu Close

Obat pembasmi kutu rambut Ivermectin sedang diuji coba sebagai obat coronavirus, tapi jangan membelinya sekarang

file d s.

Para peneliti yang menguji obat pembasmi kutu rambut Ivermectin sebagai obat yang mungkin dapat digunakan untuk menyembuhkan COVID-19 berhasil menemukan titik terang dalam uji klinis yang dilakukan di laboratorium.

Namun penelitian tersebut masih berada dalam tahap awal dan obat ini belum pernah diuji pada penderita COVID-19. Masih banyak hal yang belum kita ketahui, termasuk dosis yang tepat dan bagaimana memberikannya kepada mereka yang terjangkit coronavirus.

Jadi jika Anda berencana untuk membeli Ivermectin, pikirkan sekali lagi.


Read more: Coronavirus: how long does it take to get sick? How infectious is it? Will you always have a fever? COVID-19 basics explained


Apa kegunaan Ivermectin saat ini?

Ivermectin adalah agen antiparasit yang pada 1970-an diisolasi dari kaldu dari spesies bakteri bernama Streptomyces avermitilis yang difermentasi.

Obat ini telah digunakan sejak 1980-an untuk mengobati dan mencegah penyakit yang berkaitan dengan parasit pada tubuh manusia, hewan peliharaan dan hewan ternak, dan bekerja dengan melumpuhkan parasit invertebrata.

Di Australia, Ivermectin biasanya digunakan dalam bentuk krim dan losion untuk membasmi kutu rambut.

Obat ini juga diberikan dalam bentuk sebagai tablet untuk mengobati infeksi oleh cacing gelang dan sebagai obat lini kedua untuk kudis serta rosacea, penyakit yang mengakibatkan kemerahan dan pembuluh darah terlihat pada kulit wajah.

Ivermectin adalah obat kedua untuk kudis. Shutterstock

Perusahaan farmasi yang memproduksi Ivermectin, MSD, juga telah menyumbangkan obat tersebut pada negara-negara berkembang untuk mengobati kebutaan sungai dan kaki gajah selama 30 tahun terakhir.


Read more: How 2015 Nobel Prize drug might rid Africa of ancient scourges


Apa efek sampingnya dan potensi bahayanya?

Bila digunakan pada dosis yang sesuai, Ivermectin biasanya dapat ditoleransi.

Beberapa efek samping yang cukup sering terjadi di antaranya diare, mual, pusing, dan rasa kantuk.

Sementara efek samping lain yang tidak terlalu lumrah termasuk rasa letih, sakit perut, sembelit, muntah, tubuh gemetar, ruam, dan rasa gatal.

Ivermectin juga dapat berinteraksi dengan beberapa obat lain, seperti obat pengencer darah warfarin, maupun memperburuk kondisi-kondisi tertentu seperti asma.

Menelan Ivermectin yang ditemukan pada produk-produk untuk mengatasi masalah kutu rambut itu berbahaya. Di negara bagian News South Wales, Australia, orang yang menelan Ivermectin diminta segera menghubungi Poison Information Hotline.

Bagaimana Ivermectin dapat digunakan untuk mengobati COVID-19?

Data laboratorium terkini dari peneliti di Monash University dan Doherty Institute menunjukkan bahwa Ivermectin mampu menghentikan berlipatgandanya SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19.

Ivermectin juga berhasil menghentikan berlipatgandanya virus lain (seperti HIV, dengue, influenza, dan Zika), setidaknya di dalam laboratorium.

Para peneliti menemukan bahwa efek Ivermectin pada SARS-CoV-2 terlihat setelah paparan tunggal terhadap obat tersebut. Berlipatgandanya virus tersebut terhenti dalam kurun 24 hingga 48 jam.

Masih belum jelas bagaimana Ivermectin bekerja. Namun obat ini tampak berhasil menghentikan proses yang membuat protein dapat berpindah di dalam virus tersebut. Protein tersebut biasanya akan melemahkan respons kekebalan tubuh terhadap virus, yang mengakibatkan virus dapat berlipat ganda dan menyebabkan infeksi.

Apa tujuan penelitian Ivermectin sebagai obat coronavirus?

Penelitian pada Ivermectin dilakukan dalam kultur sel (sel yang ditumbuhkembangkan di dalam laboratorium) dan masih berada pada tahap sangat awal. Penelitian ini menjanjikan, tapi belum membuktikan Ivermectin sebagai obat yang efektif untuk pasien.

Percobaan klinis yang saksama pada orang yang memiliki atau terpapar COVID-19 diperlukan untuk menentukan apakah obat tersebut bekerja dan aman digunakan, dan berapa dosisnya. Kajian laboratorium terhadap Ivermectin menunjukkan bahwa konsentrasi obat yang lebih tinggi daripada yang dihasilkan oleh dosis standar obat tersebut mungkin diperlukan untuk menghasilkan dampak antivirus. Oleh karena itu, pengawasan keamanan menjadi penting.

Kajian di laboratorium menunjukkan konsentrasi yang lebih tinggi mungkin diperlukan untuk melawan COVID-19. Shutterstock

Jika Ivermectin terbukti bekerja pada orang yang menderita COVID-19, ia perlu dikaji sebagai obat potensial. Jadi para peneliti harus tahu: apakah ia mencegah penularan COVID-19, mengurangi tingkat keparahan penyakit terkait, ataukah mempercepat masa penyembuhan? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab sebelum Ivermectin menjadi obat untuk COVID-19.

Sisi baiknya, pengusulan obat yang sudah ada untuk penyakit lain seperti Ivermectin sebagai obat potensial untuk melawan COVID-19 adalah hal yang bagus karena proses selanjutnya dapat berjalan lebih cepat menuju percobaan uji percobaan klinis karena kita sudah tahu bahwa obat aman digunakan pada manusia pada dosis yang dianjurkan saat ini.


Read more: In the fight against coronavirus, antivirals are as important as a vaccine. Here's where the science is up to


Apakah sebaiknya saya membelinya untuk berjaga-jaga?

Tidak. Masih terlalu dini untuk mengetahui apakah hasil uji laboratorium tersebut akan menghasilkan obat yang aman dan efektif bagi pasien COVID-19.

Para peneliti sudah sangat jelas menegaskan bahwa Ivermectin sebaiknya tidak digunakan untuk mengobati COVID-19 hingga kajian lebih lanjut telah diselesaikan.

Kita sebaiknya tidak menimbun obat-obatan untuk digunakan di kemudian hari, apalagi jika kita belum mengetahui cara terbaik untuk menggunakan Ivermectin itu, termasuk dosis yang sesuai. Menimbun malah akan mengakibatkan kelangkaan obat bagi mereka yang memerlukannya untuk mengatasi penyakit serius yang disebabkan oleh parasit.

Bram Adimas Wasito menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

Jeffry Adiwidjaja turut membantu proses penerjemahan artikel ini dari bahasa Inggris

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 125,200 academics and researchers from 3,985 institutions.

Register now