Orang magang di perusahaan: perlu dibayar atau tidak? Telaah hukum dan etika

Unjuk rasa mahasiswa CEGEP memprotes magang tidak dibayar di Montreal Kanada, 21 November 2018. THE CANADIAN PRESS/Ryan Remiorz

Orang magang di perusahaan: perlu dibayar atau tidak? Telaah hukum dan etika

Sejumlah mahasiswa di Quebec Kanada pada akhir November tahun lalu menuntut bahwa magang harus dibayar. Apakah mereka ada benarnya?

Beberapa orang menganggap magang tanpa bayaran adalah hal yang baik, khususnya mereka yang telah mendapatkan manfaat dari kontrak magang tersebut. Sedangkan beberapa orang lain menegaskan bahwa ada melupakan isu ketidakadilan jika kita menganggap pelajar bekerja dengan cuma-cuma adalah hal lumrah.

Sebagai contoh, artikel di Globe and Mail dari 2014 mendeskripsikan pengalaman seorang lulusan sarjana. Dia menerima tawaran magang tanpa bayaran di perusahaan rintisan yang kekurangan dana untuk mendapatkan pengalaman kerja yang dia butuhkan. Dia menyebutnya sebagai langkah awal yang membuatnya terus berada di jalur karirnya.

Pemilik perusahaan tersebut mengatakan perusahaan juga mendapatkan manfaat dari magang tanpa bayaran. Manfaat itu tidak akan mencapai sebanyak bila perusahaan “mempekerjakan beberapa orang secara acak…yang mereka temukan secara online.”

Perusahaan tersebut menilai magang sebagai alat atau jembatan perekrutan. Orang-orang yang mendapatkan manfaat dari magang tanpa bayaran tersebut tidak melihatnya sebagai suatu masalah.

Yang lain beranggapan bahwa magang harus dibayar. Darren Walker, kini Presiden Ford Foundation, pada 2016 menulis bahwa magang dengan bayaran memastikan adanya kesetaraan peluang.

Dia menekankan bahwa anak-anak muda yang berasal dari kelurga mampu, mampu magang magang selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan karena orang tua mereka mampu membiayai biaya hidup mereka. Gaji orang tua masih bisa membantu anaknya. Sedangkan orang tua mahasiswa dari keluarga yang kurang mampu tidak dapat membiayai mereka.

Para mahasiswa yang berunjuk rasa di Québec menyatakan mereka harus meninggalkan pekerjaan yang berbayar atau bekerja lembur selama magang tanpa dibayar.

Apapun untuk peluang kerja?

Perdebatan secara emosional ini tidak akan menjawab pertanyaan apakah mahasiswa memiliki hak untuk dibayar saat mereka magang. Kita perlu menelaahnya dari segi definisi, hukum, dan ekonomi.

Isu pertama yang mendasar: Apakah tujuan dari magang, dan bagaimana magang berbeda dengan pembelajaran di sekolah? Dalam sebuah analisis definisi, mahasiswa PhD dari Concordia University Ingy Bakir dan saya menemukan beberapa kesepakatan tentang tanggung jawab ketika magang.

Beberapa hal termasuk: Siapa yang magang (masih mahasiswa, sudah lulus kuliah)? Berapa lama magangnya (beberapa minggu, beberapa bulan)? Apa ruang lingkup kerja: Apakah cukup jelas apa saja tugasnya, atau dapatkah karyawan magang diharapkan untuk melakukan apa pun yang dibutuhkan?

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut definisi magang mengerucut pada satu hal: Magang memberikan pengalaman kerja yang klinis atau praktis yang dapat membantu pelajar untuk mengaplikasikan pembelajaran akademik ke dalam lingkungan kerja nyata. Magang adalah pengalaman kerja sekaligus belajar.

Meski ada berbagai macam aturan hukum di wilayah jurisdiksi yang berbeda, penjelasan hukum memberikan definisi yang lebih jelas dan lebih sederhana. Menurut konsultan hukum Gowling WLG, sebagian besar kode etik perburuhan mempertimbangkan karyawan magang sebagai pekerja jika mereka melakukan pekerjaan untuk perusahaan tersebut, mereka menerima perintah dari perusahaan; dan perusahaan mendapat keuntungan dari hasil pekerjaan tersebut.

Hanya satu pengecualian, (mereka tidak disebut pekerja) jika mahasiswa melakukan tugas magang mereka sebagai bagian dari program akademik. Sebagian besar kode etik perburuhan, termasuk di Québec, memasukkan perkecualian ini.

Orang kemudian dapat berargumen bahwa hukum memperbolehkan magang tanpa bayaran.

Persetujuan untuk kompensasi

Isu kedua adalah apakah semua pengalaman kerja mahasiswa tanpa bayaran. Jawabannya adalah tidak. Kompensasi finansial adalah bagian dari pendidikan yang koperatif yang merupakan suatu bentuk pengaturan belajar-kerja lainnya.

Dalam pengaturan ini, ketika siswa bekerja mereka ditempatkan pada posisi yang digaji.

Banyak mahasiswa magang yang juga digaji. Komponen yang paling populer di program yang saya ajar adalah magang. Karena permintaan untuk mahasiswa magang kami melampaui yang tersedia, hampir semua perusahaan membayar gaji. Dan seperti yang terjadi pada pasar tenaga kerja yang paling kompetitif, perusahaan yang tidak mau menggaji menerima sedikit atau menerima pelamar berkualitas rendah dan akhirnya menyetujui untuk memberikan kompensasi.

Mahasiswa CEGEP berunjung rasa memprotes magang tidak dibayar di Montreal Kanada, 21 November 2018. THE CANADIAN PRESS/Ryan Remiorz

Siapa yang diuntungkan?

Isu ketiga adalah apakah perusahaan diuntungkan dari hasil kerja magang. Jika dilihat dari tingkat individu, hal itu tergantung dari efektivitas anak magang dalam menjalankan pekerjaannya. Secara umum, bagaimana pun, jawabannya pasti ya, karena jika tidak perusahaan tidak akan mengambil anak magang.

Alasan utama menentang upah magang adalah perusahaan menanggung biaya pekerja magang tersebut. Beberapa perusahaan mengatakan bahwa magang adalah pelatihan. Karena itu mereka tidak dapat menanggung biaya pelatihan dan kompensasi sekaligus. Tapi masalah ini hanya relevan jika perusahaan harus berinvestasi secara signifikan untuk supervisi yang memakan waktu.

Ketidakmampuan untuk membayar pekerja magang mungkin adalah suatu pilihan. Hasil riset lembaga Conference Board of Canada menunjukkan bahwa pengusaha Kanada meningkat tingkat kepelitannya untuk investasi pelatihan, mengurangi investasi tahunan per pekerja dari $1,116 pada 1993 menjadi $889 pada 2017.

Pengusaha lainnya memandang magang sebagai biaya perekrutan. Setelah wawancara, mereka menguji pekerja mereka dengan tidak menggaji selama beberapa minggu dan bulan untuk melihat kinerja para pekerja. Tapi, apakah adil mengharapkan calon pekerja selama berminggu-minggu hidup tanpa digaji sehingga pengusaha dapat mengurangi biaya rekrutmen dan pelatihan? Dapatkah calon karyawan yang sudah pekerja tetap melakukan hal yang sama?

Dengan kata lain, ada benarnya yang dikatakan para mahasiswa.

Tentu saja perguruan tinggi dan universitas dapat mencegah perusahaan memasang pengumuman magang tanpa dibayar di kampus. Tapi beberapa profesi membutuhkan pendidikan klinis untuk mendapatkan surat izin. Perjanjian antara universitas-universitas dan pihak ketiga lainnya mengizinkan peluang-peluang magang tanpa digaji. Mengubah praktik itu akan lebih menantang.

Selain itu, inti masalahnya terletak pada celah dalam aturan ketenagakerjaan yang memungkinkan magang tanpa bayaran untuk mahasiswa.

Dan sah atau tidak, magang tanpa bayaran sepertinya akan berlanjut selama orang-orang mengalami hambatan untuk menerobos ketenagakerjaan dan beberapa pengusaha melihat peluang mendapat tenaga kerja gratis.

This article was originally published in English