Pembatasan fisik ketat karena pandemi di Wuhan, Cina, bantu turunkan polutan udara. www.shutterstok.com

Pembatasan fisik akibat pandemi turunkan polutan udara, bebaskan gerak satwa dan tumbuhan

Artikel ini merupakan bagian untuk merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni.


Virus Sars-CoV-2 telah menginfeksi lebih dari enam juta orang karena penularannya yang sangat cepat.

Banyak negara yang melakukan lockdown–membatasi pergerakan warga, mengurangi kegiatan perindustrian, transportasi dan menutup tempat wisata–untuk mencegah penularan yang lebih luas.

Ini memberikan dampak langsung secara ekonomi dan sosial, terutama bagi masyarakat miskin dan terpinggirkan, yang rentan dengan risiko kehilangan penghasilan.

Namun, dari segi lingkungan, penelitian yang dilakukan di kota Wuhan di Cina, sebagai negara pertama yang terkena pandemi COVID-19 dan menerapkan kebijakan lockdown secara ketat menunjukkan adanya penurunan kadar polutan udara, seperti SO₂ (sulfur dioksida) dan NO₂ (nitrogen dioksida) yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil dari aktivitas rumah tangga, transportasi, dan industri.

Penurunan kadar polutan udara tidak hanya terjadi di Cina, namun juga diikuti oleh India, Italia, Prancis,dan Amerika Serikat..

Menurunnya kadar polutan udara ini berdampak kepada keberlangsungan hidup satwa dan tumbuhan liar.

Dampak pembatasan fisik bagi lingkungan

Hingga kini, penurunan polusi udara belum terjadi di Indonesia selama pembatasan sosial berskala besar atau PSBB diterapkan. Walaupun sumber polusi dari aktivitas transportasi menurun, namun konsumsi energi dari sumber tak bergerak seperti PLTU dan pabrik-pabrik masih terus berjalan.

Namun, di Cina, selama lockdown terjadi penurunan kadar polutan udara (SO₂ dan NO₂) dan PM2.5 (partikel udara sangat halus dengan ukuran 2,5 mikrometer) hingga 25% menurut temuan awal para peneliti Hong Kong.

Gambar 1. Perbandingan penurunan polutan NO2 (A) di Wuhan antara awal tahun 2019 dengan awal tahun 2020 (selama lockdown) (sumber: foto satelit NASA) dan (B) di seluruh Cina antara sebelum dan selama lockdown. Warna jingga menggambarkan semakin tingginya kadar NO2 di udara. (sumber: penelitian Air Pollution Reduction and Mortality Benefit during the COVID-19 Outbreak in China, oleh Kai Chen, Meng Wang, Conghong Huang, Patrick L. Kinney, dan Anastas T. Paul).

Polutan SO2 (sulfur dioksida) dan NO2 (nitrogen dioksida) mempengaruhi keseimbangan ekosistem di permukaan dan dalam tanah. Karena polutan tersebut menghasilkan hujan asam ketika hujan turun.

Hujan asam mengandung nitrogen yang tinggi. Kadar nitrogen yang berlebihan akan menurunkan laju pertumbuhan tumbuhan di permukaan tanah dan mampu membunuh banyak jenis cacing di dalam tanah. Cacing memiliki peran penting dalam ekosistem, yaitu sebagai penggembur tanah.

Di Skandinavia, hanya tiga jenis cacing yang mampu bertahan di kondisi tanah yang asam.

Tahun 1995, organisasi pembela lingkungan global, WWF menerbitkan buku Acid Rain and Nature Conservation in Europe: A Preliminary Study of Protected Areas at Risk from Acidification yang menyebutkan bahwa polutan yang terbawa ke tanah dan air tersebut berdampak kepada 11 jenis mamalia, 29 jenis burung, 10 jenis amfibi, 398 jenis tumbuhan, 305 jenis jamur, 238 jenis lumut, dan 65 jenis invertebrata (hewan tidak bertulang belakang).

Dampak yang terjadi kepada satwa dapat berupa menurunnya laju reproduksi dan meningkatnya kematian satwa yang tidak tahan terhadap polutan.

Dampak lainnya adalah pengurangan keanekaragaman hayati hewan dan tumbuhan.

Salah satu penelitian di Swedia oleh Eva Engblom dan Pär-Erik Lingdell pada tahun 1991 menunjukkan bahwa terdapat pengurangan keragaman fauna bentos (satwa yang hidup di wilayah bentik atau dasar perairan seperti danau, sungai atau estuari) sebanyak 40% setiap penurunan satu unit pH.

Pengurangan fauna bentos di perairan juga berakibat kepada berkurangnya sumber makanan bagi ikan dan hilangnya indikator perairan, karena bentos bisa menjadi indikator perairan bersih dan tercemar.

Pada tumbuhan, terdapat pengurangan diversitas hingga 25% pada kondisi yang sama. Pengurangan ini merupakan kerugian besar bagi manusia, karena hilangnya sumber daya alam yang kemungkinan belum diketahui potensinya bagi manusia.

Polusi udara juga berdampak besar kepada serangga hama.

Sebagai contoh, hama kutu daun (aphid) yang terpapar gas SO2 dan NO2 akan berkembang lebih cepat dan sulit dikendalikan.

Perkembangan hama ini akan berdampak pada berkurangnya produksi pertanian dan mengakibatkan kerugian secara ekonomi.

Hal ini karena pengendalian hama biasanya menggunakan insektisida.

Pemakaian insektisida secara berlebihan menyebabkan resistensi pada hama dan menimbulkan residu di lingkungan. Residu insektisida juga akan menjadi polutan di tanah dan air yang menyebabkan masalah baru terhadap satwa dan tumbuhan lainnya.

Bumi memulihkan diri

Ketika lockdown di kota-kota besar di dunia tidak lagi diberlakukan, manusia harus mempertimbangkan gaya hidup sebelum wabah COVID-19 yang mempunyai jejak emisi yang besar.

Manusia perlu mengurangi gaya hidup yang berlebihan menjadi lebih efektif dan efisien, sehingga kita bisa memberi Bumi waktu untuk memperbaiki dirinya sendiri dari kerusakan yang telah ditimbulkan.

Antara Banerjee, peneliti ozon dari University of Colorado menyatakan bahwa berkurangnya emisi akan semakin membantu ozon untuk terus memperbaiki diri.

Gambar 2. Lubang ozon di atas langit antartika terus memperbaiki dirinya (Sumber foto: NASA)

Setelah pandemi, kita bisa menerapkan pola hidup yang lebih berpihak kepada lingkungan seperti mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, menggunakan kendaraan yang mempunyai emisi rendah atau bahkan tanpa emisi, dan mengonsumsi buah dan sayuran lokal.

Keberlanjutan dan kelestarian Bumi tergantung kepada manusia sebagai spesies dominan. Bisa jadi suatu saat setelah pandemi, satwa liar bisa hidup berdampingan dengan manusia di lingkungan urban atau biasa disebut dengan urban wildlife.

Contoh urban wildlife di dunia sekarang ini seperti rusa sika di Taman Nara Jepang, macan tutul di Mumbai India, alap-alap kawah (peregrine falcon) di London, Chacma baboon di Cape Town, dan banyak binatang lainnya.


Dapatkan kumpulan berita lingkungan hidup yang perlu Anda tahu dalam sepekan. Daftar di sini.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 110,700 academics and researchers from 3,634 institutions.

Register now