Menu Close
Photo by Braňo on Unsplash, CC BY

Riset: literasi keuangan tidak hanya membuat kaya tapi juga berpotensi memperpanjang umur

Banyak peneliti telah menyerukan pentingnya meningkatkan literasi keuangan yang merujuk pada seperangkat pengetahuan dan keterampilan untuk membuat keputusan finansial.

Salah satu manfaat yang paling sering dikemukakan adalah bagaimana literasi keuangan bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi seseorang.

Berbagai penelitian telah menunjukkan literasi keuangan dapat mengembangkan karier dan meningkatkan kompensasi lebih cepat, menghindari konflik keuangan, memiliki nilai portofolio investasi yang lebih baik, tidak terjebak utang, dan lebih aktif dan berhasil dalam berwirausaha.

Namun, studi literatur terkini yang saya lakukan menunjukkan bahwa literasi keuangan ternyata juga bisa menyelamatkan jiwa manusia.

Bagaimana bisa?

Berbagai temuan

Sebuah studi di Iran menemukan pasien kanker yang berliterasi keuangan lebih tinggi memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi.

Kualitas hidup di sini ialah terkait fisik, emosional, fungsional, dan sosial. Mereka lebih mampu dalam mengelola biaya penyakit kronis dan tidak peduli status ekonominya, mereka mengalami stres keuangan yang lebih rendah.

Sebuah penelitan di Amerika Serikat dengan rata-rata responden berusia 83 tahun, menunjukkan bahwa tingginya tingkat literasi keuangan mendorong status kesehatan fisik dan mental yang lebih baik.

Bahkan sebuah studi lain di Amerika Serikat juga menunjukkan bukti bahwa lansia yang berliterasi keuangan lebih tinggi memiliki risiko dirawat di rumah sakit yang lebih rendah! Hal ini karena orang-orang yang literasi keuangannya tinggi biasanya lebih mampu menerapkan perilaku hidup sehat.

Pemahaman terhadap konsep keuangan yang mendasar, yang juga diperkuat dengan akumulasi pengalaman hidup, dapat membuat seseorang lebih cermat dalam menentukan kebiasaan sehat mereka. Misalnya jika jatuh sakit, “Berapa pendapatan yang hilang karena tidak bisa bekerja, dan berapa biaya hingga sembuh?”

Rekomendasi

Kita harus semakin meningkatkan literasi keuangan saat pandemi.

Memiliki manajemen aset yang baik, seperti tabungan darurat dan alokasi investasi menjadi penting saat ini.

Baru-baru ini pemerintah Rusia mengumumkan mulai 2022, siswa sekolah diwajibkan untuk belajar literasi keuangan di jenjang dasar maupun menengah.

Separuh Amerika Serikat juga mewajibkannya untuk anak SMA.

Survei nasional di Indonesia menunjukkan tingkat literasi keuangan masyarakat meningkat dari 21,84% pada 2013 menjadi 38,03% pada 2019.

Masih banyak upaya perbaikan yang perlu dilakukan. Sebagai pembanding, sebuah survei global pada 2014 menunjukkan 32% orang dewasa Indonesia melek keuangan. Angka ini di bawah negara tetangga Singapura yang hampir 60% warganya melek literasi keuangan, dan Denmark, Norwegia, dan Finlandia yang angkanya melebihi 70%.

Laporan terkait pendidikan menunjukkan 70% siswa Indonesia senang atau berminat membicarakan masalah keuangan, tertinggi di antara 20 negara yang disurvei. Namun mayoritas siswa Indonesia berpikir pendek dalam hal keuangan, dan mendapat skor literasi keuangan terendah dibanding yang lain. Hal ini menunjukkan peluang besar untuk perbaikan.

Untuk meningkatkan literasi keuangan, setiap orang harus memperolehnya melalui edukasi keuangan. Tidak hanya siswa; orangtua dan guru juga dapat turut mengambil andil.

Otorisasi Jasa Keuangan (OJK) harus memimpin pemberian edukasi keuangan kepada masyarakat, berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, serta pelaku industri jasa keuangan.

Salah satu program yang digodok oleh pemerintah ialah mata pelajaran Perpajakan di sekolah.

Pajak hanyalah satu bagian kecil dari edukasi keuangan secara menyeluruh, namun ini adalah sinyal positif upaya mencerdaskan kemampuan finansial masyarakat.

Luaran utama yang diharapkan bukan hanya sekadar mematuhi aturan, tapi juga memiliki kepercayaan diri dan kemampuan untuk membuat keputusan keuangan yang terbaik untuk setiap individu.

Intinya, Indonesia memerlukan upaya berbagai pihak agar dapat mewujudkan perilaku keuangan yang lebih bijaksana. Mari kita terus tingkatkan literasi keuangan: karena barangkali bisa menyelamatkan hidup Anda.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 156,100 academics and researchers from 4,515 institutions.

Register now