Menonton video hiburan di platform Quibi selama konferensi pers di Pameran Elektronik Konsumen Internasional 2020 di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat awal tahun ini. Etienne Laurent/EPA

Riset menjawab mengapa kita bisa ketagihan menonton Netflix

Meningkatnya popularitas konten media global seperti acara serial televisi Amerika Serikat menjadi salah satu faktor penting yang dihubungkan dengan praktik binge-watching atau aktivitas menonton terus menerus dalam satu waktu.

Dengan ekspansi global dari layanan menonton seperti Netflix yang sudah memiliki lebih dari 154 juta akun di lebih dari 190 negara selama 2019, menonton secara terus menerus perlahan menjadi kebiasaan baru bagi banyak orang.

Tapi kebiasaan tersebut memiliki dampak negatif.

Survei yang dilakukan oleh organisasi nirlaba American Academy of Sleep Medicine (Akademi Amerika untuk Ilmu Kedokteran Tidur) pada 2019 menemukan 88% orang dewasa di Amerika mengalami kurang tidur karena tidak bisa berhenti menonton acara televisi atau film dari platform layanan penyedia hiburan lewat internet.

Menggunakan internet untuk menonton acara hiburan semakin umum dilakukan di seluruh dunia. Hal ini menyebabkan kebiasaan binge-watching juga bisa menjadi fenomena global.

Kegiatan binge-watching yang membuat seseorang tidak berhenti menonton sering disamakan dengan ketagihan atau adiksi menonton. Biasanya hal ini terjadi ketika penonton menikmati acara televisi. Misalnya, ketika seseorang menghabiskan waktu menonton beberapa episode terus menerus, seperti lima episode dalam satu waktu.

Lama kelamaan kebiasaan ini bisa memicu ketagihan menonton yang lebih parah.

Binge-watching bisa terjadi jika audiens, konten dan struktur mendukung secara bersamaan.

Gangguan dan pelarian

Pada 2013, saya terlibat dalam riset dengan mahasiswa di Ohio University di Amerika Serikat untuk mencari tahu mengapa orang melakukan praktik binge-watching. Kami menemukan setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi: 1. Alasan audiens menonton 2. Konten dengan jalan cerita yang bersambung 3. Struktur kanal media yang meluncurkan seluruh episode dalam satu seri secara bersamaan serta fungsi putar otomatis untuk episode selanjutnya.

Kami melihat alasan 34 pelajar Amerika berusia 18 dan 24 tahun saat mereka menonton acara televisi terus menerus dari layanan menonton seperti Netflix, Hulu, dan Amazon Prime.

Kami menemukan motif mereka beragam. Tapi alasan yang sering terucap adalah menonton sebagai distraksi dan pelarian. Mereka yang merasa sedang di bawah tekanan cenderung melakukan binge-watching untuk mendistraksi mereka dari pekerjaan.

Sedangkan kelompok lainnya menggunakan mekanisme yang sama untuk menolong mereka dari kebosanan, khususnya saat mereka tidak memiliki hal lain untuk dikerjakan. Inilah mengapa anak muda sering melakukan binge-watching di akhir pekan, bahkan sampai mengorbankan kehidupan sosial mereka.

Ketagihan drama

Berdasarkan riset saya, drama adalah genre yang paling menarik untuk ditonton terus menerus. Jalan cerita yang terus bersambung dengan akhir yang menarik membuat orang ingin menonton episode selanjutnya.

Mereka terbawa dalam dunia di cerita tersebut, pengalaman ini menjadi sangat menyenangkan hingga mereka tidak bisa berhenti menonton.

Struktur

Sebelum munculnya layanan tontonan streaming, orang harus menunggu satu minggu sebelum episode baru dari serial TV dirilis. Saat ini, platform streaming sering merilis seluruh rangkaian episode dalam satu waktu sekaligus. Secara otomatis, sistem mereka memainkan cuplikan episode berikutnya. Strategi ini mengubah cara orang menonton serial, mendorong mereka untuk terus menerus menonton.

Seperti yang terjadi pada 2019, Netflix meluncurkan enam episode drama zombi Korea, Kingdom bersamaan dalam satu waktu.

Acara ini sukses di tingkat global dan direkomendasikan sebagai salah satu dari 15 tontonan serial yang harus ditonton pada 2019.

Teori efek pewarisan (inheritance effect theory) menganggap audiens menjadi makhluk yang pasif dan tidak termotivasi untuk mengganti saluran televisi ke acara lain. Kepasifan tersebut muncul karena struktur dari media yang digunakan mempengaruhi mereka untuk tidak melakukannya. Kepasifan semacam ini semakin mendorong seseorang melakukan cenderung tetap menonton saluran yang sama.

Langkah selanjutnya

Kebiasaan menonton terus menerus bisa terjadi jika audiens memiliki waktu untuk menyaksikan konten yang mereka sukai melalui layanan hiburan seperti Netflix. Saya berpendapat ini mungkin menjadi praktik biasa dalam beberapa tahun ke depan karena meningkatnya jumlah platform layanan hiburan.

Industri konten juga memanfaatkan peluang besar ini.

Hubungan antara bagaimana pemain industri menghasilkan dan mendistribusikan konten mereka dengan pola konsumsi audiens akan berdampak pada budaya populer. Hal ini terutama terlihat pada fenomena binge-watching yang semakin marak dalam waktu dekat.

Tidak bisa dimungkiri, binge-watching sudah menjadi suatu hal biasa bagi audiens saat ini. Namun, dengan dampak kesehatan yang negatif yang dimilikinya, apakah kita bisa meninggalkannya?

Kita bisa mencobanya dengan menonton episode satu per satu tanpa terburu-buru.

Nashya Tamara menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 97,000 academics and researchers from 3,134 institutions.

Register now