Menu Close

Riset ungkap narasi film “Pengkhianatan G30S” tetap kuat - bagaimana literasi film bisa mengubahnya

Sejumlah warga menonton film penumpasan pengkhianatan G30S/PKI di markas Kodim 1304 Gorontalo, Gorontalo. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/kye/17

Riset terbaru kami menunjukkan bahwa film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI (selanjutnya disingkat “Pengkhianatan G30S”) yang diproduksi pada era Orde Baru masih tetap populer di kalangan masyarakat saat ini meski narasi yang mengagung-agungkan rezim Soeharto dan memojokkan gerakan komunisme di Indonesia semakin dipertanyakan sejak era Reformasi.

Kesimpulan ini kami dapatkan ketika kami mengamati konten video terkait peristiwa 1965 di YouTube tahun lalu.

Riset kami menemukan setidaknya 39 judul video yang mengangkat ulang topik pengkhianatan tersebut dan ditonton lebih dari 300.000 kali. Lebih dari dua pertiganya memperkuat narasi yang hadir pada film “Pengkhianatan G30S”. Banyak dari video-video tersebut merupakan hasil edit ulang film tersebut baik dengan tanpa melakukan perubahan maupun dengan sedikit modifikasi.

Makna riset

Popularitas film “Pengkhianatan G30S” hingga saat ini bisa diduga dari awal.

Film tersebut sempat menjadi tontonan wajib siswa-siswi sekolah pada Orde Baru. Sekarang memang tidak diwajibkan tapi kontroversinya selalu muncul setiap tahunnya terlebih pada September dan Oktober yang bertepatan dengan kejadian di film tersebut.

Puluhan siswa SMK Multi Karya bersama guru mengikuti nonton bareng film pengkhianatan G30S/PKI, di Medan, Sumatera Utara. ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi/foc/17

Pada September, beberapa pihak mencoba menayangkan film tersebut di sekolah-sekolah atau di televisi nasional. Pada bulan tersebut, banyak pula yang menggunggah sebagian konten film tersebut di YouTube dan tak jarang menjadi konten populer.

Alasan lainnya, sampai saat ini belum ada film lain yang merekonstruksikan adegan peristiwa dan tokoh yang terlibat pada hari-hari selama September-Oktober 1965 itu sendiri secara kronologis. Implikasinya, film “Pengkhianatan G30S” menjadi satu-satunya film rujukan untuk menggambarkan dan menjelaskan kronologi peristiwa yang masih penuh misteri itu.

Padahal, film-film berkaitan dengan peristiwa 1965 itu tidak hanya film “Pengkhianatan G30S”. Judul-judul lain di antaranya Puisi Tak Terkuburkan karya sutradara Garin Nugroho dan Air Mata di Ladang Tebu karya terbaru Dwidjo U Maksum.. Sayangnya, film-film alternatif itu masih jarang dibincangkan publik.

Pengaruh terbatas

Film alternatif di sini diartikan sebagai film yang menawarkan perspektif berbeda tentang peristiwa 1965-1966 seperti digambarkan oleh film “Pengkhianatan G30S”. Hasil wawancara dengan tujuh sineas dan tujuh aktivis sosial, juga penelusuran kami di media massa mengarah pada 34 film alternatif yang menawarkan perspektif berbeda tentang peristiwa 1965 kepada penonton.

Film-film tersebut terbagi menjadi dua genre yaitu dokumenter dan fiksi.

Film-film alternatif bergenre dokumenter banyak yang menampilkan kesaksian penyintas, penjagal, penggalian lokasi penguburan korban tragedi 1965, dan rekonsiliasi. Film-film fiksi banyak bertemakan trauma, percintaan, biografi tokoh, dan ketidakadilan.

Sebagian besar film alternatif ini hanya ditayangkan di festival-festival, baik festival internasional maupun lokal.

Hanya sebagian kecil saja yang diunggah secara utuh atau sebagian di YouTube. Sedikit dari film-film alternatif yang diunggah di YouTube itu memperoleh jumlah tontonan relatif tinggi misalnya Kami Hanya Menjalankan Perintah, Jenderal! atau film-filmnya Joshua Oppenheimer Senyap, Jagal. Sisanya hanya ditonton kurang dari 100.000 kali.

Para sineas yang kami wawancarai menjelaskan bahwa hal ini bisa terjadi karena film-film yang diproduksi selama dua dekade setelah Reformasi bukan untuk mendobrak ingatan publik tentang peristiwa 1965 yang sudah direkat sedemikian kuat oleh film “Pengkhianatan G30S”.

Film-film alternatif ini juga tidak mendapat perlakuan istimewa di masyarakat seperti layaknya film “Pengkhianatan G30S” yang diwajibkan ditonton oleh anak-anak sekolah.

Pentingnya literasi film

Masih populernya film G30S/PKI di YouTube menunjukkan pentingnya literasi film bagi masyarakat.

Meskipun berpengaruh hingga sekarang, belum banyak yang paham bahwa film “Pengkhianatan G30S” adalah film tentang sejarah yang merekonstruksi peristiwa beserta sosok masa lalu dengan menggunakan aktor-aktris dan tempat yang dibuat dalam bentuk drama. Fakta yang disajikan pun tergantung pada kepentingan si pembuat film. Film ini memiliki genre serupa dengan film tentang pahlawan emansipasi Indonesia, Kartini dan Pahlawan Proklamator, Soekarno Indonesia Merdeka.

Ahli sejarah dari California Institute of Technology, Amerika Serikat, Robert Rosenstone, mengungkapkan ada beberapa genre film sejarah yang dibedakan berdasarkan tingkat kefaktualannya. Yang paling faktual tentu saja film dokumenter.

Tanpa pemahaman literasi film, orang akan cenderung menganggap apa yang ditampilkan dalam film “Pengkhianatan G30S” itu “tidak perlu dipertanyakan lagi”. Padahal dari pembedaan genre tentang film sejarah di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa film berkaitan dengan peristiwa silam tidak selalu faktual.

Film “Pengkhianatan G30S” adalah film sejarah fiksi. Film tersebut memang mengisahkan peristiwa silam namun sang sutradara merekonstruksi alur, tokoh, dan tempat dari peristiwa asli.

Beda dari film Senyap yang menampilkan tokoh-tokoh yang terlibat langsung dalam peristiwa silam dan membahas peristiwa silam itu dari perspektif mereka.

Mengenali sejauh mana situasi sosial dan politik saat film dibuat, siapa yang diuntungkan oleh suatu film, dan peristiwa maupun pihak yang tak ditampilkan dalam film adalah bagian dari literasi film. Film “Pengkhianatan G30S” tidak menceritakan sisi para korban atau simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) atas tuduhan pembunuhan terhadap jenderal-jenderal itu.

Begitu banyak film alternatif terkait peristiwa 1965. Masing-masing menawarkan beragam suara dan sisi. Literasi film sejarah perlu digencarkan di ruang-ruang pendidikan maupun publik agar ingatan publik tentang peristiwa 1965 tidak hanya dipicu oleh film “Pengkhianatan G30S” tapi juga perspektif-perspektif lain yang disampaikan oleh film-film alternatif.

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 117,400 academics and researchers from 3,792 institutions.

Register now