Sains Sekitar Kita

Sains Sekitar Kita: Misteri kelelawar bagi kehidupan manusia

Sains Sekitar Kita: Misteri kelelawar bagi kehidupan manusia

Kelelawar membantu penyerbukan, tapi juga membawa penyakit.

Indonesia mempunyai 200 dari total 1.100 spesies kelelawar di dunia. Hampir seperlima ada di sini. Tapi dua di antaranya, spesies Otomops Johstonoi dari Alor Nusa Tenggara Timur dan Neoptenus Trostii di Sulawesi, nyaris punah.

Hewan ini luar bisa. Kelelawar ukuran besar sanggup terbang lebih dari 100 kilometer per hari dan bermigrasi rerata 1000 kilometer per musim. Kelelawar lain, segede jempol saja besarnya, bisa menyeberang lautan 600 kilometer dari Inggris ke Belanda!

Satu-satunya mamalia yang bisa terbang dan beraktivitas pada malam hari ini adalah penyerbuk paling tangguh dan ulung di jagat raya. Tanpa bantuannya, penyerbukan durian sulit terjadi. Mereka hidup di pedalaman hingga di kota-kota besar. Mereka hidup harmonis dengan manusia. Kuncinya satu: tidak saling mengganggu.

Kelelawar telah memberikan dunia imaji-imaji semacam Batman dan Vampir. Tokoh-tokoh khayali di film yang telah menghasilkan miliaran dolar. Tapi kelelawar juga bisa menjadi ancaman serius bagi manusia dengan segala virus yang mungkin dibawanya. Apa guna kelelawar buat manusia?

Srihadi Agung Priyono, Guru besar dan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor IPB, menjelaskan selain untuk penyerbukan, kelelawar juga membawa virus. Jika kelelawar sakit dan air liurnya mengandung virus, maka virus yang tertinggal akan menempel pada buah yang jatuh dan dimakan manusia.

Edisi ke-15 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Hilman Handoni dan narator Ibrahim. Selamat mendengarkan!

Support evidence-based journalism with a tax-deductible donation today.