Menu Close
Relik Santo Valentinus dari Terni di basilika Saint Mary di Cosmedin. Dnalor 01 (Own work) , CC BY-SA

Santo Valentinus yang ‘asli’ bukanlah pelindung cinta

Setiap tanggal 14 Februari, banyak pasangan dari segala umur akan saling bertukar kartu ucapan, bunga, cokelat, dan hadiah-hadiah lainnya atas nama Santo Valentinus.

Namun, sebagai sejarawan Kristen, saya bisa mengatakan bahwa perayaan modern ini hanyalah cerita karangan yang indah, karena Santo Valentinus bukanlah seorang pecinta atau pelindung cinta.

Faktanya, Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang berawal dari sebuah perayaan keagamaan untuk memperingati tragedi pemenggalan kepala satu atau mungkin dua orang martir Kristen pada Abad ke-3.

Lalu, bagaimana dari pemenggalan kepala berubah menjadi perayaan kasih sayang pada Hari Valentine?

Asal mula Santo Valentinus

Sumber-sumber kuno menguak bahwa ada beberapa Santo Valentinus yang meninggal pada 14 Februari.

Dua di antaranya dieksekusi pada masa pemerintahan Kaisar Roma Claudius Gothicus pada tahun 269-270 Masehi, ketika persekusi terhadap pengikut Kristen lazim terjadi.

Dari mana kita tahu?

Ini karena sebuah ordo beranggotakan biarawan asal Belgia menghabiskan tiga abad untuk mengumpulkan bukti-bukti atas kehidupan para orang suci dari manuskrip terkenal di seluruh dunia.

Mereka disebut sebagai “Bollandist”, diambil dari nama Jean Bolland, seorang akademisi dari ordo Jesuit yang menerbitkan 68 jilid Acta Sanctorum atau “Kehidupan Para Orang Suci,” pada awal 1643.

Sejak itu, para biarawan melanjutkan penulisan hingga jilid terakhir yang terbit pada tahun 1940.

Mereka menggali setiap informasi terkait para orang suci dalam kalender keagamaan Kristen dan mencetak teks berdasarkan urutan hari raya mereka.

Para martir Valentine

Dalam bab yang mencakup tanggal 14 Februari, terdapat kisah-kisah “Valentini,” termasuk tiga santo pertama yang meninggal di abad ketiga.

Santo Valentinus memberkati penderita epilepsi. Wellcome Images, CC BY

Santo Valentinus paling awal disebutkan meninggal di Afrika, bersama dengan 24 tentara.

Sayangnya, para Bollandist tidak bisa menemukan informasi apa pun terkait Santo Valentinus ini.

Terkadang, informasi yang didapatkan hanya sebuah nama dan hari kematian.

Kita pun hanya mengetahui sedikit tentang dua Santo Valentinus yang lain.

Menurut legenda Abad Pertengahan yang dicetak ulang dalam “Acta”, yang juga mencantumkan kritik dari Bollandist terkait nilai historisnya, seorang biarawan Roma bernama Valentinus ditangkap saat pemerintahan Kaisar Gothicus dan berada dalam pengawasan seorang aristokrat bernama Asterius.

Diceritakan, Asterius membuat kesalahan dengan membiarkan Valentinus berkhotbah.

Pastor Valentinus lalu berbicara tentang bagaimana Yesus membimbing para pengikut Pagan keluar dari kegelapan menuju cahaya kebenaran dan penyelamatan.

Asterius lalu memberikan tawaran untuk Valentinus: Jika orang Kristen bisa menyembuhkan anak angkat Asterius dari kebutaan, dia akan memeluk agama Kristen.

Valentinus menumpangkan tangan ke mata anak perempuan itu dan berdoa:

“Tuhan Yesus Kristus, buka mata hamba-Mu, karena Engkau-lah Tuhan, Cahaya Sejati.”

Setelah doa sederhana itu, mata anak perempuan itu bisa melihat. Ini cerita menurut legenda abad pertengahan.

Akhirnya, Asterius dan seluruh keluarganya dibaptis.

Sayangnya, Kaisar Gothicus mendengar kabar tersebut dan memerintahkan semua orang yang terlibat dieksekusi. Valentinus satu-satunya yang mendapatkan hukuman dipenggal.

Namun, seorang janda yang sangat taat berhasil membawa tubuh Valentinus dan menguburkannya di situs kemartirannya di Via Flaminia, jalan raya kuno yang membentang dari Roma ke Rimini. Sebuah kapel dibangun di atas jenazah Santo Valentinus.

Santo Valentinus bukan orang yang romantis

Santo Valentinus yang ketiga pada Abad ke-3 adalah seorang uskup di Terni, provinsi Umbria, Italia.

Santo Valentinus berlutut. David Teniers III

Masih menurut cerita legenda yang juga samar, Uskup Terni terperangkap di dalam situasi yang mirip dengan Valentinus sebelumnya, yaitu berdebat dengan orang dan mengajak orang itu memeluk Kristen, kemudian menyembuhkan anak laki-laki orang itu.

Kisah ini juga berakhir serupa: ia dipenggal atas perintah Kaisar Gothicus dan tubuhnya dikubur di Via Flaminia.

Ada kemungkinan, seperti dikemukakan oleh para Bollandist, sebenarnya bukannya ada dua Valentinus yang dipenggal, tetapi dua versi cerita yang berbeda yang muncul di Roma dan Terni.

Terlepas apakah itu Valentinus Afrika, Roma, atau Umbria, tidak satupun dari mereka yang terlihat romantis.

Legenda abad pertengahan, diulang di media modern, menyebarkan cerita bahwa Santo Valentinus melakukan ritual pernikahan Kristen atau mengirimkan pesan di antara pasangan Kristen yang dipenjara oleh Gothicus.

Kisah lainnya menceritakan Valentinus terlibat hubungan romantis dengan perempuan buta yang dia sembuhkan.

Namun, tidak ada satu pun dari kisah Abad Pertengahan yang memiliki dasar dalam sejarah Abad ke-3, seperti yang diungkapkan oleh Bollandist.

Santo Valentinus sedang membaptis Santa Lucilla. Jacopo Bassano (Jacopo da Ponte)

Akurasi sejarah tidak terlalu penting bagi orang-orang Kristen Abad Pertengahan.

Yang penting bagi mereka adalah tentang kisah-kisah mukjizat dan kemartiran, dan sisa-sisa fisik atau relik dari para santo.

Banyak gereja dan biara berbeda pada Eropa Abad Pertengahan mengklaim bahwa mereka memiliki bagian dari tengkorak Santo Valentinus.

Gereja Santa Maria di Cosmedin di Roma, contohnya, masih memamerkan tengkorak utuh Santo Valentinus.

Menurut Bollandist, gereja-gereja lainnya di Eropa juga mengklaim memiliki irisan dan potongan dari salah satu atau bagian tubuh Santo Valentinus lainnya: sebagai contoh, Gereja San Anton di Madrid, Spanyol; Gereja Whitefriar Street di Dublin, Irlandia; Gereja Santo Peter dan Paul di Praha, Ceko; Saint Mary’s Assumption di Chelmno, Polandia; dan juga gereja-gereja di Malta, Birmingham, Glasgow, dan di pulau Lesbos, Yunani.

Bagi pemeluk agama Kristen, adanya relik para martir berarti para orang suci hadir di antara mereka.

Di Inggris abad ke-11, contohnya, seorang uskup menggunakan apa yang diklaim sebagai kepala Valentinus untuk menghentikan kebakaran, mencegah epidemi, dan menyembuhkan semua jenis penyakit, termasuk kerasukan setan.

Namun, sejauh yang kami tahu, sisa tulang santo itu tidak memiliki pengaruh istimewa bagi para pasangan yang sedang jatuh cinta.

Bukan berawal dari pagan

Banyak akademisi telah melakukan dekonstruksi terhadap Valentinus dan perayaan harinya dalam buku, artikel, dan unggahan blog.

Beberapa menyatakan bahwa perayaan modern ini upaya orang Kristen menutupi perayaan kuno Romawi, Lupercalia, pada pertengahan Februari.

Lupercalia berawal dari ritual dalam kultus maskulin pedesaan yang menyembelih kambing dan anjing, dan kemudian berkembang menjadi sebuah karnival urban.

Selama perayaan, laki-laki muda setengah telanjang belari melewati jalan-jalan di Roma, melecut-lecutkan cambuk dibuat dari kulit kambing yang baru saja dikorbankan.

Perempuan hamil menganggap ini akan membuat mereka melahirkan bayi yang sehat.

Namun, pada tahun 496 Masehi, Paus Gelasius diduga melarang festival gaduh tersebut.

Meski demikian, tidak ada bukti bahwa paus sengaja menggantikan Lupercalia dengan pemujaan pada martir Santo Valentinus yang lebih tenang atau perayaan Kristen lainnya.

Chaucer dan pasangan burung mesra

Kaitan dengan cinta mungkin muncul ribuan tahun setelah kematian martir, ketika Geoffrey Chaucer, penulis “The Canterbury Tales”, yang menyebutkan perayaan Februari dari Santo Valentinus sebagai musim kawin burung.

Ia menulis dalam “Parlement of Foules”:

For this was on seynt Volantynys day. Whan euery bryd comyth there to chese his make_.”

Nampaknya, bagi Chaucer, burung-burung Inggris terbang berpasangan untuk menghasilkan telur pada bulan Februari.

Tak lama, bangsawan Eropa yang menyukai alam mulai mengirimkan surat cinta ketika musim burung kawin.

Sebagai contoh, Duke of Orleans asal Prancis, yang ditahan di Menara London, menulis kepada istrinya pada Februari 1415 bahwa dia “sudah sakit karena cinta” (yang dia maksud adalah mabuk cinta).

Dan dia memanggil istrinya sebagai “Valentine-nya yang sangat lembut”.

Orang Inggris kemudian menyukai konsep perkawinan di bulan Februari.

Dalam drama Shakespeare, Ophelia yang sedang mabuk cinta mengatakan dirinya sebagai Valentine bagi Hamlet.

Pada abad-abad berikutnya, laki-laki dan perempuan Inggris mulai menggunakan 14 Februari sebagai alasan untuk menulis puisi cinta kepada pujaan hati mereka.

Industrialisasi mempermudah ini dengan memproduksi massal kartu-kartu ilustrasi dengan puisi-puisi pujian.

Lalu, muncul Cadbury, Hershey’s, dan pabrik-pabrik coklat lainnya memasarkan produk-produk manis pada Hari Kasih Sayang.

Coklat-coklat untuk Hari Kasih Sayang. GillianVann/Shutterstock.com

Saat ini, toko-toko di Inggris dan AS menghias jendela dengan gambar-gambar hati dan spanduk mengumumkan Hari Kasih Sayang tahunan.

Para pedagang mengisi rak-rak mereka dengan makanan manis, perhiasan, dan pernak-pernik yang berhubungan dengan Cupid, bertuliskan “Jadilah Valentine-ku”.

Bagi sebagian besar pasangan kekasih, ajakan ini tidak memerlukan penggal kepala.

Valentine yang tak terlihat

Tampaknya santo yang ada di balik hari perayaan cinta tetap sulit diketahui layaknya cinta itu sendiri.

Namun, seperti yang dikatakan Santo Agustinus, teolog dan filsuf terkenal di Abad ke-5, lewat argumen dalam Faith in Invisible Things: seseorang tidak harus berdiri di depan mata kita untuk bisa kita cintai.

Dan seperti cinta itu sendiri, Santo Valentinus dan reputasinya sebagai santo pelindung cinta bukanlah masalah sejarah yang dapat diverifikasi, tetapi tentang keyakinan hati.


Ignatius Raditya menerjemahkan ini dari Bahasa Inggris.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 122,100 academics and researchers from 3,916 institutions.

Register now