Blog

Setahun The Conversation Indonesia: Apa kata pembaca, akademisi, dan wartawan

Diskusi “Hear The Experts” yang membahas rencana masuknya universitas asing ke Indonesia, September 2018. Gracesillya Febriani, Author provided

Beberapa waktu lalu kami merayakan ulang tahun yang pertama dan membuat survei untuk memahami khalayak kami lebih baik lagi. Kami ingin memanfaatkan momentum ulang tahun untuk belajar dari apa yang telah kami lakukan dan mencari tahu apa dampak dari kerja kami.

Ini penting karena tujuan kehadiran kami adalah untuk mengangkat hasil riset dan pengetahuan dari universitas dan pusat penelitian ke publik dalam bahasa yang dipahami masyarakat awam.

Ini bagian dari upaya menghadirkan jurnalisme berbasis bukti ke ranah publik, sehingga perdebatan publik yang terjadi di berbagai forum–baik di media sosial, kantor pemerintahan, ruang kelas, hingga meja makan-berkualitas dan dapat menggerakkan masyarakat mencari solusi permasalahan bersama.

Survei yang diikuti 448 responden yang terdiri dari pembaca, penulis/akademisi, serta wartawan, menunjukkan pembaca memanfaatkan konten The Conversation tidak hanya untuk mendapatkan informasi atau memperkaya khazanah pengetahuan tapi juga menggunakannya dalam tataran praktis kehidupan sehari-hari dan dalam lingkup pekerjaan mereka.

Survei ini diikuti 191 laki-laki dan 92 perempuan. Hampir 95% responden berada di Indonesia. Responden yang berada di Indonesia tersebar di 26 provinsi, termasuk Papua dan Papua Barat, serta Nusa Tenggara Timur dan Barat. Mayoritas responden berada di Jakata, Jawa Barat, dan Yogyakarta.

Mayoritas responden berusia 25-34 tahun (105 orang), 18-24 tahun (78 orang) dan 35-44 tahun (67 orang).

“Menambah keyakinan hidup tinggal di Indonesia”

Dari rekaman data khalayak kami dari Google Analytics, mayoritas pembaca kami laki-laki muda. Saat ini kami memiliki rata-rata 140.000 pembaca setiap bulan, dengan proporsi 42,3% perempuan dan 57,7% laki-laki.

Dari survei, kami mendapati mayoritas responden menempuh pendidikan hingga tingkat sarjana atau lebih, dan tidak berasal dari kalangan akademia.

Pandangan mereka terhadap The Conversation sangat positif. Sejumlah 88,37% menyukai The Conversation, dan 89,38% mau merekomendasikan The Conversation.

Kami menanyakan pada responden bagaimana mereka menggunakan dan memanfaatkan konten The Conversation. Seperti yang kami duga, sebagian besar (68,56%) menggunakannya untuk memahami sebuah topik, strategi atau proyek dengan lebih mendalam.

Tapi tak hanya itu, setidaknya setengahnya (50,17%) menggunakannya untuk mengubah perilaku atau sikap dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari setengahnya (52,51%) menggunakan konten The Conversation untuk memberi tahu orang lain mengenai sebuah topik.

Hampir seperempat (24.41%) menggunakannya untuk mendukung strategi, program, atau keputusan yang sudah berjalan. Dan 23,41% menggunakannya untuk membuat strategi, kebijakan, keputusan, atau program baru (misalnya untuk makalah, rencana proyek, saran kebijakan, atau rekomendasi).

Kami juga menanyakan pada responden apa yang mereka lakukan sesudah membaca konten The Conversation. Mayoritas menyebarkannya lewat sosial media, dan membicarakannya dengan kolega. Sejumlah 32,78% melakukan riset lebih jauh, dan 30,43% menggunakan artikel untuk bahan pengajaran atau diskusi di kelas.

Ada responden yang menggunakannya untuk mempelajari bahasa Indonesia dan menambah kosa kata. Ada juga responden yang berkomentar artikel The Conversation “menambah keyakinan hidup tinggal di Indonesia”.

Penulis merasa terbantu

Artikel di The Conversation melalui proses penyuntingan yang ketat dan kolaboratif antara editor dan akademisi sebagai penulis. Demi transparansi, penulis diwajibkan untuk mengungkapkan potensi konflik kepentingan dengan mengungkapkan sumber dana penelitian dan afiliasi yang dimiliki. Penulis memegang persetujuan akhir sebelum artikel diterbitkan.

Hasil survei menunjukkan, mayoritas penulis kami (94,55%) mengaku merasa terbantu dengan penyuntingan kolaboratif oleh editor dan 92,59% memiliki pengalaman positif bekerja bersama editor The Conversation. “Editor sangat membantu saya dalam menerjemahkan gagasan akademik menjadi bahasa awam,” kata seorang responden.

Pengalaman bekerja bersama editor—Prodita Sabarini, Ika Krismantari, dan Ahmad Nurhasim— pun positif.

Tim The Conversation Indonesia, dari kiri ke kanan: Ikram Putra, Ahmad Nurhasim, Prodita Sabarini, dan Ika Krismantari.

Kami bertujuan menjadikan The Conversation sebagai knowledge hub maka kami senang mengetahui 42,59% responden penulis mengatakan mereka dihubungi untuk kolaborasi akademik lainnya, dan 42,27% dikontak oleh media lain sesudah menulis untuk The Conversation.

Kami mendapat banyak masukan untuk meningkatkan mutu dari para penulis, antara lain memperbaiki mutu terjemahan dan memungkinkan suatu topik ditulis dalam beberapa artikel oleh penulis berbeda, untuk membuka lebih banyak sudut pandang.

Menaikkan mutu konten media

Dalam menyebarluaskan pengetahuan kepada khalayak awam, kami menerbitkan artikel dalam lisensi Creative Commons, sehingga dapat dengan bebas ditayangkan ulang (republikasi) oleh media manapun.

Dari responden yang merupakan wartawan yang telah menayangkan ulang konten kami, mayoritas (73,69%) mengatakan artikel The Conversation telah menaikkan mutu konten, serta mengedukasi pembaca mereka. Hampir 80% mengatakan ingin merepublikasi lebih banyak lagi artikel yang relevan, jika ada, serta memberi kami masukan artikel dari rubrik mana saja yang perlu ditambah.

Hampir 90% dari responden wartawan mengatakan akan merekomendasikan The Conversation ke media lain untuk republikasi.

Wawasan yang kami dapatkan dari hasil survei menunjukkan bahwa The Conversation Indonesia memberikan manfaat bagi para pembaca kami. Fungsi knowledge hub The Conversation masih dapat kami perkuat. Dan kami perlu memperbanyak konten seluruh rubrik kami. Kami berketetapan untuk meningkatkan elemen-elemen tersebut. Pantau kami, dan kami tunggu penilaian Anda kembali tahun depan.