Spekulum akhirnya dirancang ulang—kali ini oleh perempuan

Spekulum gaya lama, yang sebentar lagi tergantikan. Shutterstock

Spekulum vagina—alat mengerikan dari logam yang digunakan untuk memeriksa vagina dan leher rahim—tidak pernah berubah bentuk sejak abad ke-19. Namun, sekelompok perancang perempuan di San Fransisco sedang berupaya menerapkan rancangan baru.

Dalam wawancara dengan Wired, para perancang itu membeberkan kelemahan di spekulum yang sekarang: bunyi, suhu, dan perasaan yang ditimbulkan saat benda itu ada di dalam vagina.

Prototipe mereka, sebaliknya, terbuat dari tiga lembaran yang membuka tanpa suara. Dan alat mereka dilapisi silikon—materi yang lebih hangat daripada baja.

James Marion Sims, “Bapak Ginekologi” kontroversial, dikenal sebagai penemu spekulum modern pada pertengahan abad ke-19. Namun demikian, tipe spekulum dengan dua bilah logam atau lebih yang dilengkapi sekrup untuk membelah dinding vagina, terinspirasi dari alat di zaman Kekaisaran Romawi. Penolakan terhadap penggunaan alat ini juga punya sejarah panjang.

Dokter Inggris Marshall Hall menganggap spekulum milik orang Prancis. Wellcome images/Wikimedia Commons, CC BY

Orang zaman dahulu punya kekhawatiran menggunakan alat untuk melihat bagian dalam tubuh. Dokter pada masa itu dituntut hanya mengandalkan indra mereka, bukan mengembangkannya. Penjelasan orang Yunani kuno tentang ambeien mengatakan, penggunaan alat justru dapat meratakan benjolan dan menutupi masalah yang seharusnya dilihat sendiri oleh dokter.

Etika tentang memasukkan sebuah alat ke dalam vagina membuat penggunaan spekulum menjadi lebih bermasalah. Di masa Sims sendiri, orang Inggris menganggap spekulum sebagai milik orang Prancis dan berpikir bahwa alat tersebut berisiko “menumpulkan kesantunan perawan, dan menurunkan pemikiran jernih anak perempuan Inggris”, seperti dikutip oleh ahli fisiologi asal Inggris, Marshal Hall di tahun 1850.

Memahami pengobatan zaman kuno

Peralatan medis yang digunakan pada zaman dahulu sebenarnya sulit dimengerti, seperti yang dijelaskan John Stewart Milne dalam bukunya Peralatan bedah pada masa kekaisaran Yunani dan Romawi. Penulis ilmu kedokteran kuno menamakan dan memaparkan beragam peralatan, namun tidaklah mudah untuk mencocokkan tulisan mereka dengan benda yang ditemukan arkeolog.

Banyak benda pada masa itu punya bentuk mirip dengan yang kita gunakan hari ini, sehingga kita beranggapan bahwa cara penggunaannya sama. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Alat untuk memeriksa dubur atau vagina juga dapat digunakan untuk membuka luka guna mengeluarkan benda asing dari dalam.

Spekulum Sims dibuat dengan membengkokkan sendok logam—sebuah alat yang hampir selalu ditemukan di perangkat medis Romawi Kuno. Terkadang ada pula sendok yang memiliki kait di ujungnya.

Alat Yunani Kuno untuk membuka lubang dubur (“katopter”) mungkin awalnya adalah dua sendok, yang dipegang dengan kedua tangan. Alat khusus untuk melihat bagian dalam dubur dinamakan dioptrion kecil. Kita berasumsi, alat berbilah dua ini dibuka dengan cara menekan gagangnya. Alat-alat seperti ini sudah banyak ditemukan.

Dioptrion dubur Romawi yang terbuat dari perunggu. © The Board of Trustees of the Science Museum, CC BY

Alat-alat itu juga mungkin digunakan dalam pemeriksaan ginekologi. Di abad ke-3, Leonidas dari Alexandria menulis bahwa alat tersebut digunakan untuk membuka lubang dubur “seperti membuka vagina perempuan”. Namun tidak jelas apakah yang dimaksud sama adalah alatnya atau metodenya.

Dioptrion besar untuk vagina terlihat jauh berbeda. Layaknya spekulum modern, alat itu dilengkapi mekanisme sekrup untuk membuka dua atau empat katup: alat ini memiliki tiga buah.

Penulis dokumen medis kuno mungkin lebih memperhatikan pasien perempuan dari yang kita kira. Mereka memiliki alat dengan ukuran yang berbeda-beda, sesuai usia pasien. Seperangkat alat medis yang ditemukan di Casa del Medico Nuovo di Pompeii, misalnya, mencakup sebuah spekulum rahim yang juga merangkap sebagai sebuah diptrion kecil.

Naskah kedokteran menyarankan dokter mengukur panjang vagina terlebih dahulu sebelum menentukan alat berukuran berapa yang akan digunakan. Muscio, penulis yang diperkirakan menulis Genecia, risalah ginekologi yang didasarkan pada karya Soranus pada tahun 500-an, mengatakan bahwa mereka terlebih dahulu mengoleskan minyak pada spekulum dan menghangatkannya sebelum alat itu dimasukkan ke dalam vagina.

Tang obstetri yang dikembangkan oleh William Smellie di tahun 1748 terbuat dari kayu bukan logam, dengan tujuan agar mereka tidak terlihat terlalu menyeramkan bagi perempuan dan tidak mengeluarkan bunyi logam beradu sewaktu digunakan.

Karena kayu mudah rusak, Smellie lalu mencoba membuat tang baja dengan bilah yang dilapisi kulit, namun alat tersebut malah menyerap cairan dan berbau tidak sedap. Sekarang kita tahu alat seperti ini menyebarkan infeksi.

Bunyi logam dan suhu dingin sebuah spekulum dan alat lain dalam ginekologi merupakan masalah sejak lama. Namun sudah ada beberapa usaha mengurangi ketidaknyamanan ini. Belum jelas apakah upaya-upaya itu didasarkan pada kebutuhan memikat pasien, dan tentunya, tidak semua penemuan itu sesuai kepentingan perempuan.

Tetapi, sebuah spekulum baru, yang dirancang oleh perempuan untuk perempuan, adalah cara menyenangkan untuk melepaskan diri dari masa lampau.

This article was originally published in English