Untuk mensukseskan online learning, guru harus dilatih menyambut ketidakpastian dalam proses belajar

shutterstock.

Kebijakan belajar dari rumah untuk menghambat penyebaran coronavirus telah meningkatkan intensitas pembelajaran daring. Ketersediaan infrastruktur digital yang minim dan kesenjangan digital yang tinggi melahirkan berbagai tantangan besar untuk pelajar di Indonesia.

Namun, terdapat permasalahan yang lebih mendasar. Pembelajaran daring memperparah kelemahan yang terdapat pada metode mengajar satu arah yang selama ini banyak diterapkan tenaga pendidik Indonesia - yang masih cenderung mengandalkan metode “menyampaikan” dan “memberikan latihan” di kelas.

Indonesia memiliki lebih dari 45 juta siswa, tujuh juta di antaranya terdaftar dalam jenjang pendidikan tinggi.

Terdapat banyak laporan bahwa guru dan dosen sekadar memberikan pelajaran dan tugas tanpa memberi bimbingan. Hal ini membuat para pelajar merasa frustrasi dan kebingungan.

Untuk mengatasi ini, tenaga pendidik perlu mengubah pola pikir tentang makna belajar dan menyambut ketidakpastian sebagai bentuk stimulasi dalam metode pengajaran mereka. Pemerintah juga harus mendukung guru agar meninggalkan metode mengajar yang konvensional untuk menciptakan perubahan yang bermakna di masa krisis ini.


Read more: Kesenjangan akses internet di Asia Tenggara jadi tantangan bagi pengajaran online akibat pandemi COVID-19


Menyambut ketidakpastian dalam proses belajar

Sebuah studi tahun 2017 dari Australia yang melibatkan 80 guru dan kepala sekolah dari Indonesia Timur menemukan bahwa mayoritas tenaga pendidik tidak akrab dengan metode mengajar yang bersifat kolaboratif. Fokus mereka hanya pada buku pelajaran.

Berbagai studi lain juga mengindikasikan bahwa masalah ini terdapat di berbagai daerah di Indonesia, bahkan di provinsi-provinsi yang lebih maju seperti Jawa Barat.

Sebagian besar guru tampaknya lebih memilih untuk tetap nyaman dengan rencana pembelajaran yang telah dirancang untuk diikuti murid mereka dibandingkan dengan membuka ruang untuk adanya ketidakpastian dan pertanyaan terbuka sebagai metode pembelajaran.

Pola pikir mengajar yang bersifat satu arah ini runtuh ketika dihadapkan dengan pembelajaran daring.

Interaksi yang awalnya sudah minim dalam suasana ruang kelas kini semakin menjadi sekadar formalitas. Banyak guru meninggalkan penggunaan tatap muka virtual dan lebih memilih untuk hanya memberikan tugas kepada pelajar.

Satu cara yang dapat diterapkan guru untuk mengatasi ini adalah mengadopsi metode-metode yang mengajak murid untuk menyambut ketidakpastian dalam kegiatan belajar. Guru-guru dapat memperkenalkan tugas dalam bentuk pemecahan masalah atau pembelajaran yang berbasis proyek.

Pada tingkat sekolah dasar, misalnya, guru-guru dapat meminta muridnya untuk mencari ide secara kelompok untuk merancang poster elektronik sederhana yang mengampanyekan lingkungan yang sehat untuk mencegah penyebaran coronavirus.

Pada tingkat universitas, dosen dapat memprakarsai proyek-proyek lintas disiplin untuk mendorong pelaksanaan tugas kelompok yang mendorong kreativitas mahasiswa.


Read more: Tiga langkah strategis untuk dukung budaya pembelajaran daring pasca COVID-19


Ini akan memposisikan tenaga pendidik dalam peran yang lebih aktif dalam memfasilitasi diskusi daring. Pada saat yang sama, hal ini dapat mengajak pelajar untuk memanfaatkan sumber daya pengetahuan digital seperti melalui portal Kelas Daring Massal dan Terbuka (MOOC) dan tidak hanya sebagai pembelajar yang pasif.

Penelitian menunjukkan bahwa memperkenalkan ketidakpastian dan pertanyaan terbuka dalam proses belajar dapat memicu prestasi akademik yang lebih tinggi.

Sebuah studi tahun 2018 dari University of Auckland, Selandia Baru, memperlihatkan bahwa penggunaan pertanyaan terbuka dalam pembelajaran berbasis digital berhasil meningkatkan capaian akademik pelajar secara drastis - terutama dalam kemampuan membaca dan menulis.

Memperbarui cara guru dilatih

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dapat memanfaatkan berbagai instrumen untuk membantu para guru “belajar meninggalkan” metode mengajar konvensional dan merombak cara mereka berinteraksi dengan pelajar di kelas – baik tatap muka maupun secara daring.

1. Memperbarui program nasional yang sudah ada seperti Pendidikan Profesi Guru (PPG)

Dicetuskan pada tahun 2005 untuk membantu guru meningkatkan keterampilan mereka, program ini sayangnya hanya berakhir sebagai skema sertifikasi jalan pintas untuk meningkatkan gaji.

Sebuah studi oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menunjukkan program ini menghasilkan peningkatkan yang minim pada kapasitas guru.

Memperbarui program ini sangat penting karena menawarkan cara yang efektif untuk menggapai mayoritas guru di Indonesia yang dikategorikan sebagai guru “senior”, yaitu mereka yang berusia lebih dari 40 tahun. Guru-guru pada kategori ini cenderung menerapkan metode mengajar satu arah.

Data dari Kemendikbud menunjukkan bahwa komposisi guru di atas 40 tahun terdiri masing-masing 49% dari total guru SD; 49,7% dari total guru SMP; dan 46,2% dari total guru SMA.

2. Melatih calon guru untuk menerapkan metode mengajar yang modern

Kemendikbud juga memiliki peran penting untuk memperbarui proses pendidikan calon guru di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).

Saat ini, universitas keguruan di Indonesia terlalu dipadatkan dengan teori dan riset dan belum secara optimal memberikan kesempatan bagi calon guru untuk bereksperimen dengan berbagai metode mengajar di sekolah.

Salah satu cara yang disarankan akademisi adalah dengan mendirikan ‘laboratorium pedagogi’ di universitas keguruan untuk meneliti dan mencoba gaya mengajar yang sesuai dengan tuntutan era disrupsi.

Kurikulum pendidikan keguruan juga harus diubah untuk memuat lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan pengalaman di lapangan dan teknik mengajar daring.


Read more: Visi #MerdekaBelajar Menteri Nadiem harus diikuti dengan perbaikan kualitas guru


3. Mendukung inisiatif baru yang memperlihatkan inovasi mengajar dari tenaga pendidik Indonesia yang paling progresif

Sebagai contoh, pemerintah dapat mengundang lembaga riset seperti SMERU Research Institute, INOVASI School Project, atau Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) untuk membagi pengetahuan tentang metode mengajar inovatif melalui suatu program resmi yang didukung pemerintah.

Acara seperti Education Exchange (E2) dari Microsoft di Singapura yang mendatangkan 400 guru dari 91 negara untuk bertukar ide dan tren terbaru tentang cara mengajar yang inovatif bisa dijadikan suatu model. Inisiatif serupa di Indonesia tampaknya masih langka.

Kebijakan #MerdekaBelajar yang dicetuskan oleh Mendikbud Nadiem Makarim harus menyediakan lingkungan yang mendukung keberlangsungan perubahan ini.

Serangkaian kebijakan ini perlu memberikan insentif untuk mengubah metode mengajar secara efektif, atau memberikan contoh pada guru bagaimana memulainya.

Oleh karena itu, mengekspos guru pada inovasi mengajar yang bersifat progresif menjadi sangat penting.


Ayesha Muna menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.

This article was originally published in English

Want to write?

Write an article and join a growing community of more than 110,900 academics and researchers from 3,639 institutions.

Register now