Bagaimana jejaring sosial dapat menyelamatkan hidup saat terjadi bencana

Menyiapkan karung pasir di Virginia Beach, Virginia, sebelum kedatangan Hurricane Florence, 12 September 2018. AP Photo/Alex Brandon

Bagaimana jejaring sosial dapat menyelamatkan hidup saat terjadi bencana

Setelah keluarga saya pindah ke New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat pada musim panas 2005, kami mendengar peringatan pertama Wali Kota Ray Nagin tentang Badai Katrina. Saat itu saya memiliki dua anak kecil, pekerjaan saya yang belum dimulai, dan sedikit tabungan untuk hidup, istri saya dan saya tidak bisa meninggalkan rumah yang baru kami tempati untuk menghabiskan uang di hotel yang terletak di kota yang cukup jauh. Jadi kami mengabaikan panggilan untuk evakuasi.

Ketika para tetangga mulai berkemas dan keluar, kami berpikir mereka melakukan reaksi yang berlebihan. Kemudian para kerabat mulai melakukan panggilan telepon semakin panik dan Kathy, anggota dari komunitas agama, datang pada tengah malam untuk membujuk kami pergi. Kami memasuki mobil sekitar pukul 3 pagi, sekitar 12 jam sebelum hujan turun.

Banyak kematian yang terjadi karena banjir, kebakaran, angin topan, tanah longsor, dan bencana lainnya dapat dicegah jika banyak orang meninggalkan wilayah tepat pada waktunya – seperti yang dilakukan oleh keluarga saya pada menit terakhir. Tapi sebagian orang memilih untuk tidak beranjak, bahkan setelah pihak berwenang memperingatkan untuk evakuasi dan memberitahukan risiko yang akan terjadi.

Sejak mengungsi dari New Orleans pada 2005, saya telah berkeliling ke beberapa komunitas yang rentan di seluruh dunia untuk mempelajari bagaimana orang-orang melewati dan bangkit kembali dari malapetaka besar. Melalui penelitian di Jepang, India, Israel, dan Gulf Coast Amerika Serikat, saya telah berusaha memotret faktor-faktor yang menciptakan ketahanan.

Mengingat bahwa evakuasi selalu hampir menyelamatkan nyawa, saya ingin memahami mengapa orang memilih tidak pergi saat menghadapi bahaya. Untuk melakukannya, saya bekerja sama dengan kerabat, termasuk beberapa yang bekerja di Facebook, untuk menganalisis pola evakuasi berdasarkan informasi dari keseluruhan orang secara umum di media sosial sebelum, sesudah, dan setelah angin topan.

Kami menemukan bahwa jaringan sosial, terutama koneksi di luar keluarga dekat, mempengaruhi keputusan untuk tinggal atau menetap di tempat sebelum bencana.

Informasi tentang media sosial

Banyak komunitas yang rentan terhadap bencana menempatkan banyak sumber daya untuk memberikan peringatan dini kepada penduduk. Misalnya, di Montecito, California, selama tanah longsor pada Januari 2018 otoritas lokal dan penanganan bencana mencoba memperingatkan penduduk melalui banyak saluran yang termasuk email, peringatan media sosial, siaran pers, dan deputi yang pergi dari pintu ke pintu. Meskipun ada upaya ini, tidak semua warga dievakuasi, dan hampir dua lusin kehilangan nyawa mereka.

Secara tradisional, banyak penekanan yang telah ditempatkan pada peran kesiapan infrastruktur fisik selama krisis. Tapi dalam temuan yang menjelaskan tentang pentingnya modal sosial selama krisis, tim kami ingin lebih baik menyoroti perilaku manusia selama hal ini berlangsung.

Untuk memahami perilaku evakuasi, para ilmuwan sosial biasanya bertanya kepada para korban yang selamat selama berminggu-minggu atau bahkan bertahun-tahun setelah peristiwa untuk mengingat kembali apa yang mereka lakukan dan mengapa.

Peneliti lain telah menunggu di tempat peristirahatan di sepanjang rute evakuasi dan secara langsung mewawancarai pengungsi yang melarikan diri dari badai yang datang atau angin topan. Kami ingin lebih baik menangkap nuansa perilaku manusia tanpa harus bergantung pada ingatan atau menanyakan kepada orang ketika mereka berhenti untuk mengisi gas dan minum kopi.

Untuk melakukannya, kami bekerja bersama peneliti dari Facebook menggunakan ringkasan banyak data yang terkumpul dan anonim dari data tingkat kota sebelum, selama, dan setelah bencana untuk membuat variabel hasil “Apakah Anda sudah mengungsi?” dan “Jika Anda sudah melakukannya, seberapa cepat Anda kembali setelah bencana?”

Facebook terlibat dalam sejumlah kolaborasi akademik lintas bidang teknik, bisnis, dan penelitian. Kami percaya bahwa tim peneliti kami adalah salah satu yang pertama mempelajari pergerakan banyak orang di berbagai bencana menggunakan data geolokasi.

Hubungan dekat mendorong untuk tetap tinggal

Berdasarkan penelitian yang menunjukkan hubungan sosial menyediakan ketahanan bagi orang-orang selama krisis, kami menduga bahwa modal sosial mungkin menjadi faktor penting dalam membantu orang memutuskan apakah akan tetap tinggal di rumahnya atau pergi. Dengan modal sosial, yang kami maksud adalah koneksi orang-orang kepada orang lain dan sumber daya yang tersedia bagi mereka melalui komunitas sosial mereka, seperti informasi dan dukungan.

Beberapa aspek dari sumber daya ini tercermin melalui media sosial. Dengan pemikiran ini, kami mulai mempelajari apakah atribut jaringan sosial orang-orang berdampak pada perilaku evakuasi.

Visualisasi pelarian penduduk area Miami pada hari-hari sebelum tibanya Badai Irma. Masing-masing titik mewakili kumpulan kelompok pengguna media sosial dalam 0,5 derajat lintang dan bujur, warna pengungsi (biru) dan non-pengungsi (merah). / Danae Metaxa and Paige Maas, CC BY-SA

Kami melihat tiga jenis hubungan sosial yang berbeda:

  • Hubungan yang menghubungkan orang-orang dengan keluarga dekat dan teman-teman.
  • Hubungan yang menghubungkan mereka melalui kepentingan bersama, tempat kerja atau tempat ibadah.
  • Hubungan yang menghubungkan mereka dengan orang-orang dalam posisi kekuasaan.

Penelitian kami - yang akan terbit dalam jurnal yang ditelaah sejawat - menunjukkan bahwa, dengan mengendalikan sejumlah faktor lain, individu dengan lebih banyak koneksi di luar keluarga dekat dan teman dekat mereka lebih memungkinkan untuk mengungsi dari daerah yang rentan sebelum terjangan badai terjadi.

Kami percaya bahwa ini terjadi karena beberapa alasan. Pertama, orang yang lebih banyak hubungan yang kedua memiliki jaringan sosial yang luas. Jaringan-jaringan itu, pada gilirannya, dapat menghubungkan mereka ke sumber-sumber dukungan di luar daerah yang secara langsung terkena dampak bencana. Kedua, orang yang lebih banyak hubungan yang kedua mungkin telah membangun jaringan-jaringan itu ketika mereka melakukan perjalanan lebih banyak, dan dengan demikian merasa lebih nyaman untuk mengungsi jauh dari rumah selama bencana.

Hubungan dengan pihak kekuasaan juga penting. Data kami menunjukkan bahwa pengguna yang jaringan sosialnya termasuk mengikuti politikus dan tokoh politik lebih mungkin untuk dievakuasi. Ini mungkin karena mereka lebih mungkin untuk menerima informasi peringatan dan mempercayai figur otoritas yang menyebarkan informasi itu.

Sebaliknya, kami menemukan bahwa memiliki hubungan ikatan (hubungan yang pertama) yang lebih kuat - yaitu, keluarga dan teman - membuat orang-orang cenderung tidak mengungsi menjelang terjadinya badai. Dalam pandangan kami, ini adalah pandangan kritis. Orang-orang yang jaringannya dekat dan segera kuat mungkin merasa didukung dan lebih siap untuk menghadapi badai.

Seorang perempuan di North Carolina, mencoba menjelaskan mengapa dia tidak meninggalkan rumahnya yang rawan pesisir ketika Badai Florence mendekat, mengatakan kepada seorang reporter dia kala itu tidak ingin meninggalkan keluarga dan teman yang belum terlindungi. Dan tetap di tempat dapat memiliki hasil yang positif, seperti kemungkinan yang lebih tinggi untuk membangun kembali lingkungan yang ada di sekitarnya.

Pantun yang ditulis di Half Shell Raw Bar di Key West, Florida, selama evakuasi untuk menjauhi Badai Ivan, 11 September 2004. Dale M. McDonald, CC BY-ND

Tapi juga mungkin melihat kerabat, teman dekat, dan tetangga memutuskan tidak mengungsi dapat menyebabkan orang meremehkan bahayanya bencana yang akan datang. Kesalahpahaman semacam ini dapat menempatkan orang pada risiko langsung yang lebih tinggi dan meningkatkan kerusakan pada kehidupan dan properti.

Artile ini merupakan versi terbaru dari artikel yang awalnya dipublikasikan pada 16 Juli 2018.

Danaë Metaxa, kandidat doktor dalam ilmu komputer di Stanford University, dan Paige Maas, saintis data di Facebook, berkontribusi terhadap artikel ini.

This article was originally published in English