Pendidikan lintas disiplin mengajarkan mahasiswa mampu menulis dan berpikir dengan sistematis, berkomunikasi dengan jelas, dan belajar secara otodidak. M-SUR/Shutterstock

Belajar dari Amerika, kurikulum lintas disiplin bisa dongkrak kualitas universitas dan sarjana Indonesia

Rencana Presiden Joko Widodo untuk fokus mengembangkan kualitas sumber daya manusia pada periode lima tahun kedua bisa jadi akan kurang berhasil jika tanpa ada perubahan mendasar di pendidikan tinggi.

Sepanjang kurikulum universitas di negeri ini masih terkotak-kotak pada jurusan dan sistem akademik cenderung menghambat berpikir holistik dan lintas disiplin ilmu, sulit diharapkan akan melahirkan sarjana berkualitas dan inovatif.

Salah satu penyebab mayoritas sarjana Indonesia berkualitas rendah adalah pendidikan mereka di bangku kuliah terkotak-kotak pada jurusan saat program S1. Mayoritas mahasiswa Indonesia yang kuliah di dalam negeri hampir tidak pernah mengambil mata kuliah di luar jurusan mereka karena tidak bisa, tidak boleh, atau tidak dianjurkan.

Dampaknya, misalnya, mahasiswa fakultas kedokteran tidak dapat mengambil mata kuliah sosiologi, sejarah, seni, atau sastra karena mata kuliah tersebut bukan bagian dari kurikulum kedokteran. Sebaliknya jika ada mahasiswa fakultas ilmu pengetahuan budaya (FIB) berminat pada mata kuliah biologi akan sulit mengikutinya karena mata kuliah tersebut ditawarkan di luar fakultasnya.

Salah satu solusi atas masalah belum bisa bersaingnya kebanyakan sarjana di negeri ini adalah universitas-universitas di Indonesia mestinya segera mengajarkan kurikulum berbasis lintas disiplin atau yang biasa dikenal sebagai liberal arts – kurikulum berbasis luas yang menganjurkan mahasiswa untuk mengambil mata kuliah-mata kuliah di luar dari disiplin yang mereka ambil. Termasuk dalam liberal arts adalah ilmu-ilm humaniora, sosial, sains, dan seni.

Sejumlah ilmuwan menyatakan bahwa kurikulum liberal arts dapat mengasah cara berpikir kritis mahasiswa, sinergi antar-disiplin ilmu, dan mengembangkan kreatifitas. Di Amerika Serikat kurikulum model ini merupakan ciri khas pendidikan tinggi di sana.

Aspek ini merupakan salah satu faktor pendorong yang membuat banyak universitas Amerika menempati ranking teratas di dunia dan mendongkrak kualitas banyak lulusannya.

Dari 100 universitas peringkat teratas di dunia, misalnya, 51 di antaranya ada di Negeri Paman Sam (versi Center for World University Rankings). Versi lainnya dari Times Higher Education menyebut angka 42 universitas dan QS World University Rankings 2019 menyebut 31 universitas.

Pentingnya berpikir holistik

Di Amerika Serikat, tradisi pendidikan liberal arts telah berjalan sejak awal berdirinya universitas-universitas pertama di sana. Jurnalis dan penulis Amerika Fareed Zakaria dalam bukunya In Defense of Liberal Education menelusuri sejarah tradisi pendidikan ini dan menyebut suatu laporan yang dikeluarkan oleh Universitas Yale pada 1828 sebagai dokumen yang mempertahankan pendidikan berbasis liberal arts.

Zakaria menulis bahwa pendidikan liberal arts yang dia terima mengajarkannya tiga hal utama: menulis dan berpikir dengan baik, berkomunikasi dengan jelas, dan bagaimana belajar secara otodidak.

Dia beragumen bahwa pendidikan tinggi yang berbasis sains dan teknologi saja sangat berbahaya dan akan menurunkan keuntungan kompetitif Amerika.

Kurikulum berbasis liberal arts, menurut Siti Kusujiarti, guru besar sosiologi asal Indonesia yang mengajar Warren Wilson College di Amerika Serikat, merupakan pendidikan yang holistik, melatih mahasiswa untuk berfikir secara sistemik dan mendasar. Pendidikan jenis ini juga mengajarkan “tanggung jawab sosial yang menyebabkan kita berpikir bahwa ilmu pengetahuan tidak berkembang di ruang hampa. Ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan konteks sosial dan kultural.”

Di Northwestern University di Qatar, tempat saya mengajar, calon sarjana jurnalisme dan ilmu komunikasi wajib mengambil beberapa mata kuliah liberal arts seperti sosiologi, ilmu politik, antropologi, sejarah, sastra, atau kajian sains dan teknologi yang saya ajar.

Ketika saya kuliah program S1 jurusan teknik mekanika di City College of New York (CCNY) di Amerika Serikat, sebagai syarat kelulusan saya harus mengambil beberapa mata kuliah lainnya seperti ilmu politik, sejarah, sastra, dan seni. Sebaliknya, mahasiswa jurusan ilmu politik atau sejarah memiliki kesempatan juga untuk mengambil mata kuliah ilmu pengetahuan alam.

Pendiri Facebook Mark Zuckenberg, misalnya, ketika kuliah di Universitas Harvard belajar psikologi dan ilmu komputer. Dia pernah mengatakan mengenai kreasi dan inovasinya bahwa Facebook “merupakan psikologi dan sosiologi selain teknologi.”

Model perkuliahan ini lazim ditemukan di universitas di Amerika Serikat karena tujuan utama pendidikan liberal arts adalah mencetak sarjana yang berpandangan luas dan luwes menimba ilmu. Seorang sarjana filsafat misalnya dapat kuliah untuk menjadi seorang dokter. Sarjana teknik bisa belajar hukum untuk menjadi pengacara.

Kuliah di Indonesia: jebakan linieritas

Pendidikan liberal arts ini sayangnya kurang dikenal di universitas-universitas Indonesia di luar mahasiswa yang kuliah di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilm Politik (FISIP). Padahal disiplin ilmu sosial dan humaniora dan cabang-cabang ilmu pengetahuan alam, teknologi, dan matematika saling melengkapi.

Di universitas di Indonesia, ada mata kuliah ilmu sosial dasar dan ilmu alamiah dasar di semester awal, tapi mahasiswa tidak boleh mengambil mata kuliah lebih lanjut secara lintas fakultas yang mengajarkan menulis dan berpikir kritis.

Menguasai disiplin ilmu tertentu memang perlu curahan tenaga, pikiran, dan waktu yang banyak. Tapi pengkotak-kotakan materi perkuliahan seperti di Indonesia justru memiskinkan wawasan dan potensi para mahasiswa.

Selain itu, keharusan pendidikan linier mempertajam pengkotak-kotakan tersebut, yang bahkan dimulai sejak sekolah menengah atas. Sistem pendidikan linier masih diterapkan dari jenjang S1-S3 di negeri ini. Praktik ini menutup kemungkinan eksplorasi dan kreatifitas yang bisa dihasilkan oleh pendidikan lintas disiplin.

Buku-buku yang telah menyabet beberapa penghargaan prestisius seperti buku populer sejarah kanker The Emperor of All Maladies karya Siddhartha Mukerjee atau karya Daniela Bleichmar Visible Empire: Botanical Expeditions and Visual Culture in the Hispanic Enlightenment yang berkisah sejarah sains, budaya visual, dan dunia Hispanik di kekaisaran Spanyol akan sulit dihasilkan dari sarjana Indonesia karena riset tersebut merupakan penelitian lintas disiplin.

Cupet dan tak terampil

Banyak pihak yang mengeluhkan rendahnya kualitas sarjana Indonesia. Baik itu pengusaha maupun Menteri Ketenagakerjaan sendiri. Perguruan tinggi Indonesia masih lebih mementingkan kuantitas ketimbang kualitas lulusannya.

Tidak hanya minim kemampuan, seperti yang dituturkan oleh Solita Sarwono, psikolog, sosiolog, dan ahli kesehatan masyarakat asal Indonesia yang kini bermukim di Belanda kepada saya, “Setelah lulus, para sarjana Indonesia cenderung melihat dan menganalisis masalah yang dihadapinya secara sempit dan dangkal.”

Kemampuan berpikir kritis, menulis, dan berkomunikasi mereka pun tidak terasah dengan baik. Dalam suatu studi yang menelaah kemampuan literasi, Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara.

Salah satu akibatnya, Indonesia sangat kekurangan tenaga terampil walau banyak lulusan S1. Dampak yang lain, suara ilmuwan Indonesia di panggung ilmu pengetahuan internasional hampir tidak terdengar.

Persiapan karir keenam

Sebenarnya pendidikan liberal arts bukan monopoli Amerika Serikat saja. Antropolog Neha Vora dalam bukunya Teach for Arabia menulis bahwa pendidikan model liberal arts sudah dipraktikkan sejak abad pertengahan dulu di pusat-pusat pembelajaran di dunia Islam seperti di Baghdad, Irak; Kairo, Mesir; dan Cordoba, Spanyol.

Pendidikan liberal arts, menurut mantan Rektor Universitas Harvard Drew Faust, akan membantu para mahasiwa untuk pekerjaan mereka yang keenam, bukan yang pertama. Maksudnya, pada abad ke-21, saat banyak orang akan memiliki lebih dari satu karir, pendidikan liberal arts akan mempersiapkan mereka untuk berganti profesi suatu hari nanti.

Universitas selain tempat menimba ilmu dan mengasah keahlian sebenarnya juga tempat mengeksplorasi minat dan bakat mahasiswa. Hal terakhir sulit dilakukan jika sistem perkuliahan di Indonesia masih tersekat-sekat seperti sekarang.