Cerita orang Banjar menjadi leluhur orang Madagaskar dan Komoro

Sejarawan terkemuka Jared Diamond menyebutnya “fakta tunggal paling memukau dari geografi manusia” - bahwa pulau-pulau di Afrika Timur, Kepulauan Komoro dan Madagaskar, memiliki pengaruh kebudayaan Asia dan Afrika. www.shutterstock.com

Pada awal milenium kedua, sebelum orang Eropa datang ke Afrika Timur, kaum Banjar dari Borneo Tenggara berlayar 7.000 kilometer menyeberangi Samudera Hindia dan mengkolonisasi Kepulauan Komoro dan Madagaskar.

Mereka ikut pelayaran yang dipimpin kerajaan-kerjaan Hindu-Buddha, seperti Sriwijaya (abad ke-6 hingga 13). Suku Melayu berniaga ke tempat yang jauh sampai ke Afrika Timur. Sriwijaya mendirikan pos dagang di Kalimantan Tenggara dan orang-orangnya bercampur dengan orang asli Borneo, Ma'anyan, yang menjadi leluhur orang Banjar.

Jejaring perniagaan orang Melayu selama milenium pertama memicu proses protoglobalisasi paling awal, dan membawa populasi Asia Tenggara ke Afrika Timur.

‘Fakta memukau geografi manusia’

Sejarawan terkemuka Jared Diamond menyebutnya “fakta tunggal paling memukau dari geografi manusia” - bahwa pulau-pulau di Afrika Timur, Kepulauan Komoro dan Madagaskar, memiliki pengaruh kebudayaan Asia dan Afrika.

Para ilmuwan telah lama berdebat mengenai asal usul orang Madagaskar yang memiliki leluhur dari Asia dan Afrika. Usaha sebelumnya untuk menentukan lokasi asal orang Madagaskar di Asia menunjuk pada Kalimantan secara umum sebagai potensial sumber. Namun belum ada populasi sumber yang secara tegas teridentifikasi.

Riset kolaboratif internasional kami yang berlangsung empat tahun, termasuk dengan tim Profesor Herawati Sudoyo di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mengidentifikasi orang Banjar sebagai populasi sumber dari migrasi yang menakjubkan ini.

Kami menganalisis genom 3.000 orang dari 190 populasi dari sekitar wilayah Samudera Hindia, termasuk 30 populasi dari Indonesia, Madagaskar, dan Komoro.

Penelitian kami adalah yang pertama menggabungkan data dan hipotesis dari riset linguistik, arkeologis, dan genetik tentang masyarakat Komoro dan Madagaskar.

Bahasa, budaya, dan genetika

Ahli linguistik telah lama menemukan bahwa, meski dekat dengan Afrika, kosakata bahasa Malagasy secara menakjubkan sebagian besar berasal dari sebuah bahasa yang dulu dituturkan sepanjang lembah Sungai Barito di Kalimantan Tenggara.

Sekitar 90% kosakata Malagasy berasal dari bahasa Ma’anyan, suku asli di pedalaman Kalimantan Tenggara yang berjumlah sekitar 70.000 orang. Kurang dari 10% kosakata bahasa Malagasy berasal dari bahasa Afrika (utamanya bahasa Sabaki, cabang dari bahasa Bantu).

Di sisi lain, ahli arkeologi menemukan bukti kultural — termasuk teknik pembuatan besi, perahu layar, instrumen musik seperti xilofon, dan budi daya padi dan umbi-umbian (“makanan tropis”). Semua ini mendukung adanya hubungan yang kuat dengan Asia.

Studi genetika juga secara umum mengkonfirmasi asal usul populasi Madagaskar dan Komoro yang berasal dari Afrika dan Asia.


The Conversation, CC BY-ND

Penelitian kami

Menggunakan pendekatan statistik yang mutakhir, kami menemukan bahwa kaum Banjar dan orang Afrika Timur (komunitas Swahili) bercampur pertama kali di Kepulauan Komoro sekitar abad ke-9 dan selanjutnya di Madagaskar sekitar abad ke-11.

Yang menarik adalah dinamika percampuran berbeda di antara dua wilayah tersebut. Di Madagaskar persentase keturunan Banjar berkisar sekitar 37% hingga 64% di Madagaskar dan hanya 20% di Komoro. Ini mungkin disebabkan kedatangan komunitas Swahili di Komoro sebelum kedatangan kaum Austronesia.

Kami menentukan tanggal arus genetika (perpindahan) selama 2000 tahun ke belakang di antara 190 populasi di sekitar Samudra Hindia. Riset kami menunjukkan bahwa perpindahan manusia berkorelasi dengan volume dagang (yang diperkirakan dari rekaman sejarah).

Selama 2000 tahun terakhir, volume dagang di sekitar pesisir Samudra Hindia naik turun. Ilmuwan telah menentukan empat fase perdagangan dalam jaringan niaga Samudra Hindia.

Fase pertama dimulai dengan berkembangnya rute Jalur Sutra (abad ke-1 hingga 5) yang membawa barang dagangan dan ide-ide antara Cina, Eurasia, dan Asia Selatan. Fase kedua menyusul pada abad ke-6 hingga 10 dengan menyebarnya Islam dan pedagang dari Arab. Fase ketiga datang dengan munculnya rute maritim yang dimulai pada abad ke-11 hingga 15. Fase keempat dimulai dengan kedatangan orang Eropa pada abad ke-16, yang secara drastis mengubah jaringan perniagaan dunia hingga saat ini.

Percampuran antara orang Banjar dan orang Afrika Timur di Komoro terjadi ketika puncak fase kedua. Sementara, perpindahan orang Banjar ke Madagaskar terjadi pada puncak fase ketiga. Perpindahan orang-orang Asia ke Madagaskar dan Komoro merepresentasikan perpindahan paling jauh yang kami amati dalam penelitian kami.

Relief di Candi Borobudur yang menunjukkan perahu layar abad ke 8. Wikimedia Commons/Michael J. Lowe, CC BY-NC-SA

Melalui riset ini, kami menciptakan skenario yang menunjukkan bahwa arus barang dan ide terkait dengan perpindahan orang-orang yang membawanya. Singkatnya, perdagangan mendorong interaksi antar-kelompok manusia dan percampuran antar-populasi.

Jaringan niaga Samudra Hindia adalah contoh awal globalisasi, dan menunjukkan hubungan antara kegiatan dagang yang dilakukan manusia dan mobilitas yang terlihat jelas dalam dunia kita saat ini.

Teka teki

Penelitian kami menyelesaikan perdebatan di balik asal usul orang Madagaskar dan Komoro.

Kami sekarang tahu bahwa orang Asia datang ke Kepulauan Komoro pertama kali pada abad ke-8 dan kemudian ke Madagaskar pada abad ke-11. Namun yang masih menjadi teka teki adalah rute maritim yang dilalui dari Kalimantan ke pulau-pulau di Afrika Timur tersebut. Ini bagian lain dari fakta mengagumkan soal geografi manusia yang belum terpecahkan.

This article was originally published in English