Dari ibu yang bahagia lahir bayi yang sehat

Satu dari delapan perempuan di dunia menderita depresi ketika hamil dan sesudah melahirkan. Padahal kebahagiaan ibu dan calon ibu menentukan kesehatan si bayi. www.shutterstock.com

Dari ibu yang bahagia lahir bayi yang sehat

Ini adalah artikel pertama dalam seri tulisan dengan tema “Kesehatan Ibu dan Anak” dalam rangka memperingati hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April.


Perempuan mengalami depresi saat kehamilan dan sesudah melahirkan adalah hal yang umum terjadi. Satu dari delapan ibu di seluruh dunia menderita depresi baik ketika mengandung atau sesudah melahirkan. Di negara-negara berkembang dan miskin, perbandingannya bisa naik menjadi satu dari tiga perempuan.

Beberapa dari kita pernah mendengar cerita depresi yang berkaitan dengan kehamilan dari teman dan saudara. Beberapa di antaranya bahkan memiliki akhir yang menyedihkan seperti kasus bunuh diri dan pembunuhan.

Dalam suatu forum santai dengan beberapa teman yang sedang belajar di tingkat doktor di University of Melbourne, saya mendapati semua teman-teman perempuan saya mengalami depresi pasca kelahiran atau dalam kondisi yang lebih sederhana yang dikenal dengan baby blues, terutama ketika menjadi ibu pertama kali.

Keadaan paling sulit untuk ibu adalah mengatasi depresi sendirian. Tanda-tanda yang biasa dialami oleh mereka yang depresi ini adalah perasaan sedih, pesimis mengenai masa depan, merasa tidak bertenaga dan kurang semangat. Banyak yang beranggapan bahwa perasaan depresi saat hamil dan menyusui adalah keadaan yang wajar dan ketika ibu mengeluhkan suasana perasaannya, ia mungkin akan dipandang tidak mampu menjadi ibu yang baik.

Tidak semua perempuan menyadari bahwa mereka sedang mengalami gejala depresi. Mereka merasa nestapa, namun mereka juga tidak memiliki cukup pengetahuan tentang mengapa hal itu terjadi pada mereka dan apa yang harus dilakukan. Sebagian besar mencoba mengabaikan masalahnya dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Sedikit sekali dari mereka yang berusaha mencari bantuan.

Penyebab ketidakbahagiaan

Tekanan sosial dan budaya yang memberi penilaian baik buruknya seorang ibu juga berkontribusi menimbulkan depresi pada ibu. www.shutterstock,com

Kekhawatiran berlebihan terhadap keselamatan bayi bisa menimbulkan perasaan depresi pada ibu hamil dan menyusui. Beberapa ibu memiliki ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada bayinya.

Kurangnya kepercayaan diri perempuan terhadap kemampuannya dalam mengasuh juga bisa menyebabkan depresi. Sebagian wanita merasa tidak mampu dan tidak siap menjadi seorang ibu karena tidak memiliki pengatahuan tentang kehamilan dan bagaimana mengasuh bayi. Ketidakpercayaan diri ini bahkan lebih kuat pada perempuan yang kehidupan ekonominya sangat berat.

Tekanan sosial-budaya yang membentuk definisi gambaran ibu yang baik di masyarakat juga bisa menentukan depresi pada ibu.

Akibat fatal bagi bayi

Ibu yang depresi juga menyebabkan stres pada anak. www.shutterstock.com

Wanita hamil dan ibu menyusui yang tidak bahagia dapat memperburuk hubungan ibu dan bayi. Emosi negatif ini tidak hanya memengaruhi sang ibu, namun juga si bayi.

Perempuan hamil yang mengalami depresi cenderung kurang peduli terhadap kebutuhan pribadinya. Mereka kehilangan nafsu makan dan oleh karenanya menemui risiko mengalami gizi buruk selama kehamilan.

Hal ini dapat berakibat pada meningkatnya risiko bayi lahir dengan berat yang rendah. Bayi berat lahir rendah (BBLR) bisa menjadi sebab berbagai masalah kesehatan, diantaranya seperti hambatan perkembangan psikologis, stunting (kerdil), berkembangnya penyakit kronis, dan bahkan kematian bayi dan anak.

Bayi dan anak-anak dari ibu yang mengalami depresi berpotensi mengalami gangguan kesehatan. Selain BBLR, bayi juga bisa menderita ukuran kepala yang kecil dan masalah makan dan tidur. Di beberapa negara, depresi pada ibu juga dikaitkan dengan diare pada anak dan program imunisasi yang tidak lengkap.

Anak-anak dari ibu yang mengalami depresi, pengetahuan kognitifnya juga akan terhambat seperti keterlambatan bahasa dan IQ yang rendah.

Semua risiko ini bahkan mungkin berlanjut hingga mereka remaja.

Depresi pada ibu juga mempengaruhi produksi air susu ibu (ASI). Beberapa teman mengatakan bahwa ASI mereka tidak berproduksi sama sekali ketika mereka dalam keadaan depresi. Situasi ini menghalangi bayi mendapat manfaat dari kandungan nutrisi ASI yang kaya, pada akhirnya menghambat tumbuh kembang bayi.

Ibu yang mengalami depresi juga menghadapi kesulitan dalam memahami ekspresi emosional bayinya. Kondisi ini dapat menyebabkan stres pada bayi karena ibu tidak menjawab kebutuhannya secara benar. Semakin lama, ibu-ibu ini melihat dirinya sebagai ibu yang gagal atau wanita yang tidak bisa menjadi ibu, sebuah penilaian yang makin memperburuk keadaannya.

Secara keseluruhan, dampak-dampak yang disebutkan di atas dapat menimbulkan beban keuangan pada keluarga karena mereka harus mengeluarkan biaya ekstra untuk biaya kesehatan anak, yang mungkin akan dialami seumur hidup.

Perkembangan kognitif yang terganggu juga berakibat pada biaya tambahan untuk pendidikan khusus dan terapi lain yang diperlukan sang anak. Orangtua juga kehilangan waktu produktifnya karena harus menyediakan waktu khusus untuk merawat dan mengasuh anaknya.

Apa yang harus dilakukan

Memberikan perhatian pada kehidupan emosi dan psikologis ibu-ibu ini sangatlah penting.

Banyak ibu di Indonesia manganggap kebutuhan bayinya lebih penting daripada dirinya. Anggapan ini mengakibatkan wanita mengesampingkan kesehatan psikologisnya demi sang anak. Sebelum mencari dukungan dari orang-orang di sekitarnya, ibu perlu mengenali dan jujur pada diri sendiri bahwa ia mengalami suasana emosi yang kurang menguntungkan.

Perhatian dan dukungan untuk memastikan ibu merasa bahagia selama kehamilan dan menyusui sangatlah penting. Dukungan awal harus berasal dari keluarga.

Suami memegang peran penting untuk membantu ibu yang mengalami depresi. Mereka harus membuka diri untuk menerima kondisi pasangannya dan tidak bersikap menghakimi. Begitu ibu merasa diterima dan dipahami, maka mereka dapat lebih mudah menghadapi kesulitannya dalam kehidupan sehari-hari di rumah, sebelum akhirnya mencari pertolongan kepada ahli.

Para suami juga memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan mental istri ketika mengandung dan melahirkan. www.shutterstock.com

Bentuk dukungan lain seharusnya datang dari fasilitas kesehatan setempat dan juga petugas kesehatan. Indonesia sudah mengembangkan sebuah pedoman yang menyoroti peran petugas kesehatan lokal dalam memberi bantuan bagi para ibu untuk mengidentifikasi masalah depresi yang mereka hadapi.

Penelitian saya saat ini tentang peran petugas kesehatan di Surabaya, Jawa Timur menunjukkan bahwa meski kesadaran masyarakat terkait isu ini meningkat, peran petugas kesehatan belum optimal dalam mendukung ibu yang depresi. Penelitian terkini menemukan bahwa setidaknya satu dari lima perempuan di Surabaya mengalami depresi sesudah melahirkan.

Pedoman nasional menyebutkan bahwa fasilitas kesehatan lokal harus menyediakan layanan spesifik yang membantu perempuan mengungkapkan perasaan mereka. Petugas kesehatan juga harus mendapatkan pelatihan agar bisa memberikan dukungan psikologis bagi ibu yang menderita depresi.

Namun, Indonesia kekurangan data untuk memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan pedoman ini. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus diatasi. Data yang lengkap akan memudahkan kita untuk mencari apa yang kurang sehingga pelayanan yang diberikan bagi ibu yang depresi bisa ditingkatkan.

This article was originally published in English