Gosip itu kelebihan dalam pergaulan sosial, bukan kekurangan yang perlu dihindari

Whisper via www. shutterstock.com

Menurut sebuah artikel di Wall Street Journal, beberapa kelompok masyarakat di Filipina menganggap bergosip itu demikian jelek hingga patut dilarang.

Terlepas dari sulitnya melarang perilaku macam ini, apakah gosip benar-benar seburuk itu?

Dalam bentuk paling dasar, gosip adalah strategi individu dalam meningkatkan reputasi dan kepentingan sendiri dengan mengorbankan orang lain. Penelitian yang yang saya lakukan menemukan bahwa gosip dapat digunakan secara kejam untuk kepentingan egois.

Namun, siapakah yang mampu menyimpan sendiri cerita-cerita menarik terkait kenalan mereka? Pastinya, kita pernah mengalami betapa sulitnya menyimpan rahasia terkait berita spektakuler tentang seseorang.

Gosip kadang dinilai jelek, padahal ia berperan penting dalam dunia sosial. Sisi buruk gosip menutupi sisi baik fungsi sosialnya.

Pada kenyataannya, bergosip bisa dilihat bukan sebagai kekurangan tapi sebagai keahlian sosial tingkat tinggi. Orang yang tidak bisa bergosip biasanya sulit mempertahankan hubungan dan sering merasa dikucilkan.

Sebagai mahluk sosial, dalam diri kita tertanam gosip

Suka atau tidak, kita adalah anak-cucu makhluk yang suka ingin tahu urusan orang lain. Psikolog evolusi meyakini bahwa keingintahuan kita akan kehidupan orang lain adalah produk sampingan otak era prasejarah.

Menurut para ilmuwan, nenek moyang kita pada zaman prasejarah hidup dalam kelompok-kelompok kecil dan mengenal satu sama lain dengan akrab. Agar mampu menghindari musuh dan bertahan dalam alam yang keras, mereka perlu bekerja sama dalam kelompoknya. Tapi mereka juga menyadari bahwa anggota kelompoknya juga saingan dalam memperoleh pasangan kawin dan sumber daya yang terbatas.

Dengan kondisi hidup seperti itu, nenek moyang kita menghadapi beberapa masalah adaptasi sosial: siapa yang bisa diandalkan dan dipercaya? Siapa yang sering curang? Siapa calon pasangan kawin paling baik? Bagaimana menyeimbangkan kewajiban terkait teman, sekutu, dan keluarga?

Dalam lingkungan semacam ini, perhatian besar pada hal-hal pribadi orang lain akan berguna - dan dipertahankan untuk evolusi. Orang yang memiliki kemampuan inteligensia sosial lebih baik dalam menilai, menerka - dan mempengaruhi - perilaku orang lain akan bertahan hidup lebih baik.

Gen-gen dari individu yang berhasil ini akan diteruskan ke generasi berikutnya.

Menghindari gosip: dikucilkan

Pada masa kini, penggosip yang baik adalah orang yang berpengaruh dan populer dalam kelompoknya.

Berbagi rahasia adalah satu cara untuk menjalin ikatan dengan orang lain, dan berbagi gosip dengan orang lain menunjukkan kepercayaan mendalam: kita memberi sinyal ke orang lain bahwa kita percaya dia tidak akan menggunakan informasi sensitif yang merugikan kita.

Oleh karena itu, orang yang pintar bergosip akan memiliki hubungan baik dengan jaringan orang yang besar. Pada saat yang sama, mereka diam-diam mengetahui apa yang terjadi di dalam kelompok.

Di sisi lain orang yang, katakanlah, tidak terlibat dalam jaringan gosip di kantor sama saja posisinya dengan orang luar - orang yang tidak dipercaya dan tidak diterima dalam kelompok.

Menunjukkan diri sebagai orang yang bersikap benar yang menolak terlibat gosip akan berujung pada pengucilan sosial.

Penelitian menunjukkan bahwa berbagi gosip yang tidak sensitif di tempat kerja dapat menguatkan kelompok dan suasana hati.

Gosip juga membantu orang baru berbaur ke dalam kelompok karena memperjelas norma dan nilai yang dianut kelompok itu. Dengan kata lain, mendengarkan penilaian yang dibuat orang terhadap perilaku orang lain membantu anggota kelompok baru memahami apa yang diterima dan apa yang tidak dapat diterima di kelompok itu.

Takut digosipkan membuat kita teratur

Sebaliknya, karena tahu orang lain kemungkinan sedang membicarakan kita, kita akan terdorong menjaga diri.

Dalam kelompok teman atau rekan kerja, ancaman menjadi sasaran gosip adalah sesuatu yang positif: mencegah penumpang gelap atau orang curang untuk tidak berkontribusi atau malah memanfaatkan orang lain.

Apa mereka ngomongin aku? 'Gossip' via www.shutterstock.com

Ahli biologi Robert Trivers telah membahas pentingnya mendeteksi gross cheaters (mereka yang tidak membalas perbuatan baik) dan subtle cheaters (mereka yang membalas budi tapi tidak dengan setimpal). Gosip akan mempermalukan orang-orang seperti ini.

Penelitian terhadap peternak California, nelayan lobster Maine, dan tim dayung universitas menunjukkan bahwa gosip digunakan dalam berbagai situasi untuk membuat individu bertanggung jawab atas tindakannya.

Dalam kelompok-kelompok ini, individu yang tidak memenuhi harapan dalam berbagi sumber daya atau tanggung jawab akan menjadi sasaran gosip dan pengucilan. Hal ini akan membuat individu tersebut berusaha menjadi anggota kelompok yang baik.

Misalnya, nelayan lobster yang tidak menaati norma kelompok tentang kapan dan bagaimana lobster bisa dipanen akan dengan cepat disoroti oleh rekan-rekan mereka. Nelayan yang lain akan mendiamkan mereka dan, untuk beberapa waktu, menolak bekerja bersama mereka.

Gosip selebriti sebenarnya membantu kita

Psikolog asal Belgia Charlotte de Backer membedakan antara gosip untuk mempelajari strategi dan gosip untuk reputasi.

Gosip tentang seseorang biasanya hanya menarik kalau kita kenal orang itu. Tapi beberapa gosip akan tetap menarik tidak peduli siapa orangnya. Gosip ini bisa soal situasi hidup-mati atau keberhasilan luar biasa. Kita tertarik mendengarnya karena kita bisa belajar sesuatu untuk digunakan dalam hidup kita sendiri.

De Backer menemukan bahwa ketertarikan kita terhadap gosip selebriti bisa jadi berasal dari keingintahuan kita mempelajari strategi dalam hidup. Baik atau buruk, kita melihat selebriti seperti nenek moyang melihat tokoh-tohoh teladan dalam kelompok mereka.

Pada dasarnya, ketertarikan kita akan selebriti mencerminkan ketertarikan dalam diri kita akan kehidupan orang lain.

Gosip selebriti adalah industri besar. 'Magazines' via www.shutterstock.com

Dari sudut pandang evolusi, “selebriti” adalah fenomena baru yang disebabkan oleh ledakan media masa pada abad ke-20. Nenek moyang kita tertarik pada detail-detail kehidupan pribadi semua orang karena semua orang di kelompok sosial kecil mereka itu penting.

Namun, anthropolog Jerome Barkow menjelaskan bahwa evolusi tidak mempersiapkan kita untuk membedakan individu dalam komunitas yang benar-benar mempengaruhi hidup kita dan individu yang mewarnai hidup kita lewat gambar, film, dan lagu.

Media memproduksi gosip yang mirip dengan gosip yang kita bagikan di tempat kerja dan antarteman. Karena suatu hal, otak kita ditipu untuk merasakan kedekatan mendalam pada orang-orang terkenal ini - yang membuat kita semakin ingin tahu tentang mereka. Bagaimana pun, orang yang sering kita lihat dan kehidupannya kita banyak tahu mestinya adalah orang yang secara sosial penting bagi kita.

Karena kedekatan yang kita rasakan terhadap selebriti, mereka memainkan peran sosial penting: bisa jadi mereka satu-satunya “orang-orang” yang juga dikenal oleh tetangga dan rekan kerja baru.

Selebriti adalah benda budaya yang diketahui semua yang dapat membantu interaksi informal dalam lingkungan baru. Terus mencari tahu kehidupan aktor, politikus, dan atlet akan membuat orang lebih ahli secara sosial dalam berinteraksi dengan orang baru dan bahkan membantu membuat hubungan baru.

Intinya, kita perlu melihat ulang peran gosip dalm kehidupan sehari-hari: tidak perlu menghindar atau malu karena bergosip.

Sukses bergosip menandakan kemampuan menjadi anggota tim yang baik dan berbagi informasi penting tentang orang lain serta tidak terlihat menguntungkan diri sendiri. Bergosip berarti mengetahui kapan waktu yang tepat untuk bicara dan kapan sebaiknya diam saja.

This article was originally published in English