Ideologi dan agama hanya sebagian alasan aksi terorisme pasca 11 September

criminal.

Jika ditanya apa isu global yang mendefinisikan abad ke-21, saya akan menjawab meruaknya aksi-aksi radikal seperti bom bunuh diri. Beberapa ilmuwan menyalahkan ideologi agama atas tindakan ini.

Namun banyak riset selama hampir dua dekade terakhir, termasuk riset kami di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia, menemukan lebih banyak faktor.

Tindakan radikal sebenarnya ditemukan sepanjang sejarah manusia, tapi para ilmuwan sepakat bahwa peristiwa 11 September 2001 adalah titik awal ketika mata dunia mulai memusatkan perhatian kepada kelompok-kelompok teroris.

Hingga saat ini, banyak pihak masih berusaha keras untuk mencari cara menangkal sekaligus melawan aksi-aksi radikal. Para ilmuwan dari berbagai disiplin berusaha menemukan faktor-faktor apa yang bekerja di balik radikalisme dan mencari tahu proses apa yang terjadi hingga orang bersedia mengorbankan nyawanya sendiri untuk melakukan aksi teror.

Tokoh-tokoh populer seperti Richard Dawkins dan Sam Harris menyalahkan ideologi agama sebagai penyebab utama terorisme. Dawkins dalam bukunya The God Delusion memandang agama seperti virus yang memanipulasi manusia untuk mengorbankan segala sumber daya yang mereka punya (termasuk nyawa) demi eksistensi agama itu sendiri. Begitu pula Sam Harris yang memandang kitab suci sebagai sumber intoleransi dan kekerasan terhadap orang-orang yang berbeda agama.

Tapi sebetulnya aksi kekerasan dan tindakan radikal melibatkan faktor-faktor yang lebih kompleks dari sekadar narasi ideologis (agama). Pada kenyataannya, hanya segelintir orang dengan ideologi jihadis-salafi yang memilih melakukan aksi teror atas nama agama.

Maka dari itu kita perlu melihat faktor-faktor lain yang menimbulkan kerentanan radikalisme selain dari agama. Saya mengumpulkan berbagai riset terkait hal ini dalam dua dekade terakhir dan menemukan beberapa faktor.

Persepsi ketidakadilan

Dalam konteks terjadinya konflik ekstrem antar kelompok identitas, radikalisme tumbuh dengan subur. Konflik semacam ini biasanya terjadi akibat perebutan wilayah kekuasaan atau adanya persaingan dalam memperebutkan sumber daya alam. Contoh wilayah terjadinya konflik adalah Palestina dan Irak.

Dalam kasus Irak, imperialisme Amerika Serikat dianggap telah memporakporandakan sistem hidup dan memanfaatkan sumber daya alam milik mereka. Dalam kasus Palestina, Israel dianggap sebagai musuh yang telah merebut wilayah negara mereka. Persepsi ketidakadilan semacam ini memicu kebencian terhadap pihak yang dianggap sebagai “penjahat”. Ketika suatu pihak sudah menganggap kelompok lain sebagai penjahat, maka kekerasan terhadap kelompok itu terlegitimasi.

Merasa identitasnya terancam

Walau persepsi ketidakadilan dianggap sebagai faktor yang kuat, persepsi ketidakadilan tidak mampu menjelaskan mengenapa orang-orang di wilayah non-konflik juga mendukung atau bahkan ikut melakukan aksi teror. Maka dari itu, ada faktor lain yang seharusnya juga berperan di sini. Faktor kedua adalah perbedaan identitas sosial.

Seringkali, keberadaan orang-orang dengan identitas yang berbeda dianggap sebagai suatu ancaman terhadap satu kelompok. Pembangunan gereja, misalnya, dianggap sebagai usaha untuk mempengaruhi orang-orang Islam agar menganut agama Kristen.

Walau tidak terjadi perebutan sumber daya atau perebutan wilayah, perbedaan identitas semata bisa memicu kecemasan atau ketakutan terhadap identitas lain. Ketakutan ini berujung pada legitimasi kekerasan. Baru-baru ini terjadi aksi teror di Gereja Santa Lidwina, Yogyakarta oleh seseorang yang tidak berhasil berjihad ke wilayah konflik seperti Suriah.

Karena itu, orang seperti ini mencari identitas lain yang dianggap mengancam identitasnya meski tidak ada konflik yang terjadi.

Hilangnya makna hidup

Kondisi terancam atau konflik memang situasi yang mendukung radikalisme tumbuh dengan subur. Akan tetapi tanpa motivasi pribadi yang kuat, orang tidak akan bersedia melakukan aksi-aksi radikal. Apalagi jika mereka tidak memiliki kemampuan atau sumber daya yang cukup untuk melakukan aksi-aksi teror.

Biasanya, motivasi untuk melakukan aksi radikal terbentuk karena adanya pengalaman-pengalaman hidup yang negatif. Satu riset menunjukkan bahwa seringkali radikalisme lebih dianut oleh orang-orang yang merasa dirinya gagal, punya riwayat mengecewakan orang tua atau keluarga, didiskriminasi oleh masyarakat atau lingkungan sosial, tidak punya pekerjaan tetap, atau sekadar merasa hidupnya hampa. Dengan kata lain, orang-orang ini merasa hidupnya tidak signifikan. Mereka merasa dirinya tidak bermakna.

Ketidakbermaknaan itu mengarahkan mereka untuk mencari-cari ideologi atau propaganda ekstrem yang bisa membuat hidup mereka lebih bermakna. Seringkali, tokoh agama radikal atau kelompok teroris mampu memberikan makna hidup yang dicari. Mereka menjanjikan keselamatan dalam agama, nikmat mendapat bidadari surga, dan status sebagai pahlawan. Yang perlu dilakukan hanyalah melakukan aksi teror atas nama agama.

Baru-baru ini saya bersama kolega di Laboratorium Psikologi Politik UI melakukan riset pada 89 profil terpidana teroris di lembaga pemasyarakatan yang menjalani program deradikalisasi. Kami menemukan bahwa dukungan terhadap terorisme bisa dikurangi ketika ada makna alternatif (selain makna dari kelompok radikal). Makna alternatif ini misalnya keinginan untuk membahagiakan keluarga, mengembangkan bisnis, atau kembali ke kehidupan sosial sebelum mereka bergabung dengan kelompok teroris.

Justifikasi moral

Riset saya bersama rekan-rekan di laboratorium psikologi politik UI juga berhasil menemukan bahwa dukungan terhadap terorisme terbentuk karena kecenderungan psikologis untuk menjustifikasi terorisme sebagai perbuatan bermoral. Orang-orang yang mendukung terorisme berpikir bahwa aksi teror bisa memperluas pengaruh Islam dan meningkatkan kekuatan politik Islam di dunia. Mereka menganggap dampak-dampak itu sangat baik bagi Islam sehingga memiliki nilai moral. Maka dari itu, aksi teror bisa dilegitimasi. Meski demikian, dalam riset yang sama kami juga menemukan bahwa mayoritas orang Islam tidak mendukung terorisme.

Di samping faktor-faktor yang telah disebutkan, proses penguatan dalam kelompok radikal juga penting. Propaganda sang pemimpin kelompok serta didikan dalam kelompok akan membuat seseorang lebih siap dalam melakukan aksi-aksi radikal.

Semua ini menunjukkan bahwa aksi radikal seperti terorisme itu tidak hanya terbentuk oleh ideologi semata. Terorisme jauh lebih kompleks daripada itu. Usaha memahami kompleksitas ini diperlukan guna menghindari reaksi yang keliru terhadap aksi terorisme.