Kami temukan mekanisme psikologis skizofrenia—dapatkah dicegah?

Ketakutan karena halusinasi dan seolah-olah melihat hantu? Vchal/shutterstock.com

Kami temukan mekanisme psikologis skizofrenia—dapatkah dicegah?

Seorang pasien baru pertama kalinya merantau ke Jakarta, jauh dari kampung halamannya, Makassar. Pada saat ia pertama kali bekerja di sebuah perkantoran di Jakarta, ia belum bisa menyesuaikan diri dengan budaya metropolitan sehingga seringkali dikucilkan dan dianggap aneh oleh rekan kerja sekitarnya.

Setelah enam bulan bekerja di kantor tersebut, ia merasa rendah diri, terasing, dan menjadi murung. Ia tidak tahan dan kemudian pindah kerja ke kantor lain yang bergerak di industri lainnya. Tapi di sini ia juga merasa dikucilkan oleh rekan-rekan baru.

Di lingkungan tempat tinggalnya, ia mulai merasa curiga dengan tetangga, yang menurutnya suka membicarakannya di belakangnya karena ia berasal dari luar kota. Melihat perubahannya yang ekstrem ini, orang tuanya membawa dia ke psikolog untuk pemeriksaan. Ia kemudian mendapatkan diagnosis skizofrenia dari pemeriksaan psikolog.

Dari kasus tersebut, kita dapat mengurutkan rentetan peristiwa dari awalnya dikucilkan, kemudian merasa rendah diri, menjadi murung, dan akhirnya mengembangkan waham paranoid.

Pertanyaannya, apakah proses seperti itu hanya berlaku pada kasus tersebut? Apakah proses pengembangan waham paranoid ini sebuah mekanisme psikologis yang umum? Apakah mekanisme ini hanya berlaku di Indonesia atau juga di seluruh dunia? Apakah mekanisme ini hanya berlaku bagi pengidap skizofrenia?

Mekanisme psikologis lintas budaya

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kami meneliti masalah kejiwaan dengan sampel lintas budaya dan negara berjumlah 962 orang, 302 orang di antaranya dari Amerika Serikat, 348 dari Indonesia, dan 312 dari Jerman.

Sebanyak 31,2% dari sampel melaporkan pernah menerima diagnosis masalah atau gangguan jiwa tertentu, dan 3,3% sedang mengalami skizofrenia.

Penelitian ini jangka panjang. Setiap partisipan penelitian diminta untuk melaporkan kondisi mereka setiap empat bulan selama satu tahun. Data ini dikumpulkan dari 2014 sampai 2016 karena setiap partisipan mengikuti penelitian ini dalam waktu yang beda-beda. Ada yang berpartisipasi pada 2014 dan ada yang ikut pada 2015.

Menggunakan analisis statistik yang kompleks bernama analisis mediasi longitudinal dan model panel jeda silang (cross-lagged panel), kami menemukan bukti bahwa mekanisme yang dialami kasus di atas (mulai dikucilkan hingga mengembangkan waham paranoid) dan dirumuskan dalam teori terapi kognitif perilaku itu memang bagian dari mekanisme psikologis yang umum dialami oleh semua orang dari berbagai latar belakang budaya dan status diagnosis kejiwaan. Ini pertama kali bukti ilmiah lintas budaya untuk mekanisme psikologis skizofrenia itu ditemukan.

Terapi kognitif perilaku adalah terapi psikologis berdasarkan bukti dan paling banyak digunakan untuk menangani berbagai masalah dan gangguan kejiwaan. Tujuan utama terapi ini adalah mengubah gaya berpikir dan kebiasaan sehari-hari agar gejala dari masalah atau gangguan kejiwaan bisa hilang.

Secara detail, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa konsep diri yang buruk seperti perasaan rendah diri dapat mengarah ke peningkatan gejala psikotik secara umum, seperti paranoia, mendengar suara-suara aneh, dan pengalaman aneh seperti merasa mendapatkan pesan rahasia saat menonton sebuah acara berita televisi.

Konsep diri yang buruk dapat memunculkan gejala psikotik karena konsep diri yang buruk itu merupakan lahan subur untuk seseorang mengalami perasaan-perasaan negatif, seperti merasa murung, tegang, dan cemas.

Dampak bagi praktisi dan masyarakat

Penemuan ini mengubah cara pandang dan penanganan skizofrenia pada saat ini, sehingga diharapkan memiliki dampak yang signifikan bagi praktisi dan masyarakat. Penanganan utama untuk orang dengan skizofrenia di Indonesia saat ini masih berpusat pada penanganan berbasis obat dan rehabilitasi sosial. Peran terapi psikologis hampir tidak ada.

Penanganan ini dapat dipahami karena hal ini tidak terlepas dari pendidikan para pekerja di bidang kesehatan jiwa. Mereka menggunakan buku teks yang masih menggunakan dasar temuan-temuan ilmiah hampir satu dekade lalu, yang menyebut penyebab utama skizofrenia adalah faktor keturunan dan ketidakseimbangan hormon di otak.

Walaupun demikian, psikolog dapat langsung menyesuaikan caranya menangani orang dengan skizofrenia dengan penemuan terbaru ini.

Praktik psikolog di Indonesia umumnya kalau menerima orang dengan skizofrenia, mereka selalu merujuknya ke psikiater dan tidak mau menanganinya. Padahal orang dengan skizofrenia merasa perlu penanganan psikolog. Hal ini berhubungan dengan perbedaan profesi psikiater dan psikolog. Psikiater adalah dokter spesialis jiwa yang cenderung memandang gangguan jiwa dari segi neurofisiologis, dan memiliki hak untuk memberi resep obat-obatan psikotropika. Psikolog memandang gangguan jiwa cenderung dari aspek psikososial termasuk aspek kognitif dan perilaku, sehingga penanganannya bersifat non-obat seperti konsultasi dan pemberian kegiatan.

Karena itu, para psikolog di Indonesia dapat mengaplikasikan penemuan ini langsung dalam praktik mereka. Misalnya, sebuah terapi kognitif-perilaku untuk skizofrenia seringkali berlangsung sekitar 40 pertemuan mingguan yang berlangsung selama hampir satu tahun. Pertemuannya menjadi banyak karena berisi banyak sekali teknik yang diajarkan untuk menangani berbagai masalah dari manajemen emosi hingga membangun kebiasaan mengerjakan hobi. Teknik untuk meningkatkan kepercayaan diri hanya sebagian kecil dari terapi tersebut.

Berkaca dengan hasil penelitian ini, terapi kognitif-perilaku untuk skizofrenia yang berdasarkan buku manual terapi tertentu dapat menggunakan lebih banyak teknik untuk meningkatkan kepercayaan diri, sehingga dapat mengurangi jumlah pertemuan tanpa mengurangi efektivitas terapi.

Selain itu, penemuan ini merupakan sebuah batu loncatan penting untuk pengembangan terapi psikologis yang lebih baik untuk para pengidap skizofrenia. Saat ini, terapi untuk skizofrenia masih tidak begitu ideal. Terapi utama untuk skizofrenia, yang menggunakan terapi obat, memiliki banyak efek samping yang tidak nyaman seperti muncul gejala tremor (gemetar berulang tanpa disengaja) dan penambahan berat badan.

Sedangkan terapi psikologis saat ini untuk skizofrenia memiliki berbagai kekurangan. Sebuah peninjauan meta-analisis yang menggabungkan hasil-hasil penelitian yang sudah dipublikasikan menunjukkan bahwa terapi kognitif-perilaku untuk skizofrenia saat ini masih sangat kurang efektif menurunkan gejala-gejala skizofrenia tertentu seperti waham. Walau demikian, terapi kognitif-perilaku untuk skizofrenia saat ini merupakan satu-satunya terapi psikologis yang terbukti efektif untuk skizofrenia.

Program preventif

Implikasi yang paling penting dari penemuan ini adalah membuka jalan ke pengembangan program preventif untuk masalah atau gangguan jiwa. Program preventif untuk masalah atau gangguan jiwa di dunia saat ini sering kali memiliki basis obat. Contohnya, program intervensi dini skizofrenia untuk orang-orang yang pernah mengalami sebuah episode psikotik agar episode tersebut tidak berulang dan berkembang ke arah skizofrenia.

Namun program preventif tersebut tidak dapat serta merta diberikan ke masyarakat umum karena obat antipsikotik memiliki efek samping fisik, sehingga tidak benar bila obat tersebut diberikan ke orang yang sebenarnya sehat (dan ke depannya tidak akan mengalami skizofrenia).

Terapi kognitif-perilaku untuk skizofrenia juga bukan alternatif. Sulit untuk meminta setiap orang yang pergi ke psikolog untuk menjalani terapi psikologis, karena terapi tersebut bisa membawa stigma dianggap “gila” oleh orang-orang di sekitar.

Berbeda dengan penanganan obat dan psikologis, program peningkatan kepercayaan diri dapat diberikan ke semua orang karena tidak ada efek samping fisik dan tidak membawa stigma. Selain itu, program preventif seperti ini memiliki potensi untuk diberikan secara sistematis, misalnya melalui sekolah. Langkah ini akan memakan biaya yang jauh lebih sedikit daripada terapi psikologis yang sifatnya individual.

Penemuan ini dapat dimanfaatkan berbagai pihak untuk meningkatkan efektivitas pelayanan kepada orang dengan skizofrenia. Rumah sakit jiwa dapat menyesuaikan caranya menangani orang dengan skizofrenia dengan cara melibatkan psikolog. Dan para psikolog dapat menggunakan penemuan ini untuk menyesuaikan terapinya saat menangani orang dengan skizofrenia.

Pemerintah dapat menyuluh mengenai skizofrenia yang lebih tepat sasaran, yakni populasi yang rentan seperti masyarakat yang miskin dan tinggal di kota. Dengan temuan ini, sudah saatnya mengadopsi faktor lingkungan menjadi salah satu penyebab penting skizofrenia.