Ketakutan hamil dan melahirkan? Anda mungkin mengidap tokofobia

Shutterstock

Keresahan perempuan tentang kehamilan dan proses persalinan amatlah wajar. Cemas akan sakitnya kontraksi, tindakan dokter, dan ketidakpastian proses kelahiran bukanlah sesuatu yang aneh.

Tetapi bagi beberapa perempuan, ketakutan hamil dan melahirkan bisa sangat memberatkan, melampaui kehamilan itu sendiri serta mempengaruhi kemampuan sehari-hari.

Ketakutan hamil yang teramat sangat ini disebut tokofobia—yang secara harfiah berarti fobia akan persalinan. Dan bagi beberapa perempuan, ini juga mencakup ketidaksukaan terhadap kehamilan.

Tokofobia dapat digolongkan menjadi dua—primer dan sekunder.

Tokofobia primer terjadi pada perempuan yang belum pernah melahirkan sebelumnya. Bagi mereka, ketakutan melahirkan biasanya diakibatkan pengalaman traumatis di masa lalu—misalnya pelecehan seksual.

Ketakutan itu bisa juga ada kaitannya dengan melihat proses persalinan yang sulit, atau mendengarkan cerita atau menonton TV yang mengesankan persalinan sebagai proses memalukan atau berbahaya.

Sementara itu, perempuan yang menderita tokofobia sekunder, biasanya pernah mengalami persalinan yang traumatis sehingga mereka takut melahirkan lagi.

Berapa umum tokofobia terjadi? Sulit mengatakannya.

Beberapa riset menunjukkan bahwa antara 2,5% dan 14% perempuan sedunia terpengaruh tokofobia. Tapi beberapa peneliti percaya angka sebenarnya bisa mencapai 22%.

Angkanya bisa berbeda jauh karena perempuan dengan kadar tokofobia yang berbeda-beda terlibat dalam riset itu. Jadi ada yang mengidap tokofobia lumayan ringan, tapi ada juga yang kondisinya jauh lebih parah.

Angka itu mungkin juga mencakup perempuan yang cemas dan depresi, bukan tokofobia.

Bukan peristiwa bahagia

Perempuan yang mengidap tokofobia berasal dari latar belakang berbeda-beda. Adalah sulit untuk memprediksi siapa yang bakal terkena, meski cukup jelas bahwa perempuan yang menderita tokofobia juga lebih mungkin menderita kecemasan dan depresi dan kesehatan mental lain.

Menurut riset beberapa perempuan yang mengidap tokofobia memilih menghindari kehamilan sama sekali—atau mempertimbangkan aborsi jika hamil. Ketika hamil, perempuan yang mengidap tokofobia mungkin meminta operasi caesar untuk menghindari proses persalinan.

Bagi beberapa perempuan, kehamilan itu sendiri sudah amat susah, apalagi dengan perut membesar dan merasakan pergerakan bayi. Kecemasan, insomnia, kurang tidur, kelainan makan dan depresi prakelahiran atau meningkatnya risiko depresi pascakelahiran semuanya telah dikenali sebagai akibat tokofobia.

Ibu yang menderita tokofobia bisa jadi mesti berjuang untuk membangun ikatan dengan bayi. Shutterstock

Beberapa dampak tokofobia yang muncul pada saat persalinan adalah persalinan yang lebih panjang. Biasanya, ini disertai penggunaan epidural dan alat bantu kelahiran seperti forceps atau ventouse (alat sedot yang ditempelkan pada kepala bayi).

Semua metode ini dapat memiliki dampak terhadap ibu dan bayinya.

Setelah itu, beberapa perempuan yang menderita tokofobia mungkin merasalan ikatan yang kurang kuat dengan bayi mereka. Pengalaman sulit melahirkan mungkin juga membuat perempuan makin takut jika mereka hamil lagi.

Penanganan tokophobia

Bukti anektodal menunjukkan bahwa penanganan klinis kepada perempuan yang mengidap tokofobia tidaklah seragam. Tapi kabar baiknya, pertolongan itu ada.

Beberapa perempuan merasa terbantu setelah mendiskusikan pengalaman melahirkan yang traumatis, yang lain merasa teryakinkan kembali dengan informasi tentang kehamilan dan melahirkan. Ada pula yang perlu penanganan lebih spesifik—misalnya beberapa kali konseling.

Melahirkan bayi adalah salah satu pengalaman paling intens yang bisa dirasakan tubuh. Shutterstock

Banyak juga merasa terbantu apabila berbicara dengan bidan dan dokter obstetri selama kehamilan. Kondisi ini bisa amat mengucilkan, karena dianggap tidak dialami oleh orang lain lagi. Bagi perempuan ini, mengetahui bahwa mereka tidaklah sendirian dapat amat membantu dan menenangkan.

Mengatasi fobia

Di daerah Hull and East Riding of Yorkshire, Inggris, yang memiliki layanan kesehatan mental terkait kehamilan bagi perempuan dan keluarganya, sudah ada kebutuhan akan pendekatan konsisten untuk melayani dan mendukung perempuan yang menderita tokofobia.

Ada sekelompok praktisi, akademisi dan pasien yang bekerja sama untuk menjajaki penanganan dan dukungan yang tersedia untuk perempuan ini—dan untuk menjawab ketimpangan pelayanan yang ada.

Upaya semacam ini, yang saat ini terdepan di Inggris, berupaya memastikan bahwa perempuan mendapatkan dukungan yang tepat, dan kebutuhan psikologis dan kehamilan mereka terpenuhi.

Tokofobia dapat menimbulkan dampak menyusahkan bagi perempuan dan keluarga mereka. Beberapa perempuan akan menghindari kehamilan, meski mereka sebenarnya ingin punya anak.

Bagi mereka yang akhirnya hamil, kondisi ini dapat melampaui kehamilan itu sendiri dan mempengaruhi pilihan mereka tentang kehamilan dan persalinan.

Itulah sebabnya kita harus berupaya mencegah tokofobia jika mungkin—serta menyediakan penanganan efektif bagi perempuan yang menderita kondisi sulit ini.

This article was originally published in English

We need your help to elevate the voices of experts, not the shouters.