Larangan membawa ponsel ke sekolah bermanfaat atau berisiko bagi siswa? Pelajaran dari beberapa negara

Penelitian tentang manfaat dan risiko penggunaan ponsel di ruang kelas bisa beragam. Photo by Leon Seibert on Unsplash

Belum lama ini, pemerintah negara bagian Victoria di Australia melarang penggunaan gawai (ponsel) di seluruh sekolah dasar dan menengah selama jam sekolah mulai tahun ajaran.

Pelarangan ponsel di sekolah sudah dilakukan di beberapa negara, namun ternyata dampak positifnya tidak dapat dipastikan.

Ada banyak dukungan dari publik untuk melarang ponsel. Dalam survei yang baru-baru ini yang dilakukan terhadap lebih dari 2.000 orang dewasa Australia, hampir 80% mendukung larangan ponsel di ruang kelas.

Langkah Menteri Pendidikan Victoria James Merlino melarang ponsel di sekolah jelas berani.

Kebijakan ini dibuat untuk menanggapi meningkatnya jumlah cyberbullying, gangguan pada proses belajar, dan penyalahgunaan gawai oleh siswa.

Walaupun melarang telepon di ruang kelas dan sekolah mungkin tampak masuk akal, ada sejumlah alasan untuk berhati-hati. Kita perlu mempertimbangkan dengan cermat bagaimana kita ingin memanfaatkan perangkat digital yang dibawa ke sekolah.

Beberapa pengalaman sebelumnya menunjukkan pelarangan ponsel mungkin akan menimbulkan lebih banyak masalah.

Penelitian terkait ini masih sedikit dan hasilnya beragam.

Apa buktinya?

Di Australia, cyberbullying telah meningkat di antara anak-anak usia sekolah dan remaja selama 10 tahun terakhir, tetapi sifat dan penyebab cyberbullying sangat kompleks.

Penelitian menunjukkan adanya tumpang tindih antara cyberbullying dan bentuk-bentuk perisakan (bullying) konvensional, sehingga sulit ditarik kesimpulan bahwa perangkat digital adalah penyebab perisakan lewat internet.

Cyberbullying juga sering terjadi di luar jam dan tempat sekolah. Salah satu bahaya pelarangan ponsel di ruang kelas adalah staf pendidik teralihkan perhatiannya dalam mencari tahu dan mengatasi penyebab utama terjadinya perisakan.

Saat ini mulai banyak penelitian yang yang mengeksplorasi hubungan antara perangkat digital dan gangguan di kelas.

Kehadiran telepon di kelas tentu saja ditemukan sebagai penyebab siswa dari segala usia melakukan multi-tasking–sebagian kecil temuan ini bisa jadi relevan dalam pendidikan, sebagian besarnya tidak.

Tidak mudah untuk menentukan dampak dari perilaku ini pada hasil belajar siswa. Tinjauan 132 studi akademis menyimpulkan bahwa

sulit untuk memastikan arah dan mekanisme hubungan sebab akibat antara multitasking lewat ponsel dan kinerja akademik.

Penelitian terkait ruang kelas juga menunjukkan bahwa gangguan juga bisa terjadi terkait laptop, iPad, dan perangkat digital lainnya.

Literatur akademis menunjukkan bahwa penggunaan ponsel di ruang kelas melibatkan unsur-unsur yang kompleks dan tidak beraturan.

Penelitian kami sendiri tentang bagaimana ponsel digunakan di ruang kelas di Victoria menyoroti kesulitan yang dihadapi guru dalam mengatur siswanya.

Meskipun demikian, kami juga menemukan siswa yang menggunakan ponsel untuk berbagai tujuan bermanfaat - mulai dari mencari informasi hingga merekam pelajaran secara live-stream untuk teman yang tidak dapat hadir di kelas.

Manfaat-manfaat ini juga tercermin dalam studi terhadap kelas-kelas di belahan dunia yang lain. Penelitian dari Universitas Stanford telah menunjukkan, misalnya, bahwa dengan dukungan dan persiapan yang tepat, guru-guru di sekolah dapat “memanfaatkan kebiasan siswa menggunakan teknologi di luar sekolah untuk membantu mereka belajar di kelas”. Bahkan yang fasilitasnya terbatas.

Saat ini ada sebuah bidang akademis bernama “m-Learning”. Dalam bidang ini para peneliti mengeksplorasi keunggulan pedagogis dan pembelajaran penggunaan perangkat seluler (termasuk telepon) dalam pelajaran.

Tapi bagaimana dengan larangan total di sekolah? Pengalaman dari tempat lain menunjukkan bahwa larangan ponsel di sekolah mungkin tidak semudah yang dibayangkan.

Dalam beberapa kasus, siswa harus mematikan ponsel mereka dan menyimpannya di loker dari awal hari hingga sebelum pelajaran bel terakhir. Dalam keadaan darurat, orang tua atau wali dapat menghubungi anak mereka dengan menelepon sekolah.

Pada kasus di Victoria, menteri pendidikan di sana menyatakan :

Satu-satunya pengecualian terhadap larangan tersebut adalah bila siswa menggunakan ponsel untuk memantau kondisi kesehatan, atau ketika guru menginstruksikan siswa untuk membawa telepon mereka untuk kegiatan kelas tertentu.

Melarang atau tidak melarang ponsel di sekolah menjadi topik hangat dalam dunia pendidikan. Pemerintah Victoria mengikuti larangan pemerintah Perancis pada 2018.

Perdebatan tentang masalah ini juga terjadi di Denmark, Swedia, dan Inggris.

Apa yang bisa kita pelajari dari negara lain

Pemerintah negara bagian New South Wales di Australia meninjau kembali manfaat dan risiko penggunaan ponsel di sekolah pada Juni 2018. Pada akhir tinjauan, pemerintah di sana mengatakan hanya akan melarang ponsel di sekolah dasar dan membebaskan sekolah menengah untuk membuat peraturan mereka sendiri.

Kata mereka

Kami menyadari bahwa teknologi memainkan peran penting dan lebih besar seiring kemajuan siswa dalam pendidikan… Kami ingin memberikan sekolah menengah keluwesan dalam menyeimbangkan manfaat dan risiko teknologi dengan cara yang terbaik untuk mendukung siswa mereka.

Mungkin contoh yang paling relevan adalah larangan yang diberlakukan di kota New York, Amerika Serikat pada 2006, yang akhirnya dicabut pada 2015.

Alasan pembatalan mencerminkan beberapa kekhawatiran yang akan dihadapi dalam pelarangan di Victoria. Termasuk di antaranya: pada prakteknya sulit untuk menegakkan larangan di kelas, ditambah lagi karena ponsel dilarang juga saat jam istirahat dan makan siang.

Pertama, larangan New York dijalankan secara tidak konsisten oleh sekolah-sekolah. Sekolah dengan fasilitas lebih baik dan berada di daerah ekonomi ke atas cenderung mengizinkan penggunaan ponsel. Sebaliknya, sekolah di daerah berpenghasilan rendah dan yang menggunakan detektor logam, cenderung patuh memberlakukan larangan.

Motivasi lain untuk mencabut larangan tersebut adalah kekhawatiran tentang keselamatan siswa, seperti perlunya siswa untuk menghubungi anggota keluarga selama waktu istirahat dan makan siang. Keluarga mengeluarkan biaya untuk menyimpan ponsel dengan aman di luar sekolah.

Ada pertimbangan juga bahwa guru harus dipercaya mampu menggunakan penilaian profesional tentang penggunaan ponsel dalam jam pelajaran mereka masing-masing.

Pada saat yang sama, sumber daya pemerintah sebaiknya diarahkan untuk mendukung siswa belajar menggunakan teknologi secara bertanggung jawab melalui pelajaran keamanan berinternet.

Semua alasan ini relevan dengan sekolah-sekolah Victoria seperti halnya dengan sekolah-sekolah di Kota New York pada 2015.

Penggunaan (dan pelarangan) ponsel di sekolah-sekolah tentu saja merupakan masalah yang perlu dibahas lebih lanjut. Tapi, masalah itu sepertinya tidak sesederhana yang dibayangkan oleh pengambil kebijakan.

Amira Swastika menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English