Lima hewan yang bisa membantu kita melawan penyakit

Jangan khawatir. Fdzoru/Shutterstock

Sebagai manusia, kita mungkin merasa beruntung tentang nasib evolusi kita. Kita hidup lebih lama dibandingkan banyak hewan lain, dan rentang hidup kita terus meningkat berkat diet yang lebih baik, kemajuan di bidang kedokteran, dan peningkatan kesehatan masyarakat. Tapi upaya kita untuk mengalahkan penuaan dan penyakit-penyakit yang menyertainya terus berlanjut.

Kasus osteoartritis (sakit persendian), misalnya, telah berlipat ganda sejak pertengahan abad ke-20. Di negara maju, penyakit jantung menyumbang ratusan ribu kematian setiap tahunnya - sekitar satu kematian setiap tiga menit.

Kerajaan hewan mungkin tempat yang tepat untuk mencari cara baru dalam mencegah dan mengobati kondisi ini. DNA kita mungkin sangat mirip dengan simpanse dan hewan lain, tapi ada perbedaan yang mungkin membantu kita membuka cara baru untuk memahami dan mengobati penyakit pada masa depan.

Dan dengan menggunakan teknik penyuntingan gen seperti CRISPR, mungkin saja suatu hari kita bisa menggunakan ilmu yang kita peroleh dari hewan untuk menangani penyakit kita - meski kemungkinan itu masih sangat jauh.

Simpanse dan penyakit jantung

Ketika manusia berevolusi, susunan genetik kita juga berubah, sehingga risiko kita terhadap arteri tersumbat meningkat. Ketika risiko ini digabungkan ini dengan mbanyak asupan daging merah dan makanan lain yang meningkatkan peluang penyakit jantung, maka kita akan menghadapi masalah besar.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular disebabkan oleh hilangnya gen tertentu dalam tubuh kita, ini berbeda dengan hewan lain - termasuk sepupu terdekat kita, simpanse. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tikus yang sudah diubah secara genetik - bermutasi genetik yang sama dengan manusia - memiliki risiko terkena serangan jantung dua kali lebih besar dibandingkan tikus normal. Pada masa depan, kita mungkin menggunakan rekayasa genetik untuk mengurangi risiko penyakit jantung.

Tikus mol telanjang dan kanker

Tikus mol telanjang mungkin tidak enak dipandang, tapi tikus pengerat ini sangat menarik bagi para ilmuwan karena mereka tidak terkena kanker. Tikus ini juga bisa memberitahu kita tentang umur panjang. Mengingat ukurannya, mereka harusnya hidup dalam jangka waktu yang sama dengan kerabat mereka (sekitar empat tahun), tapi mereka kerap hidup tujuh kali lebih lama.

Tampilan bukan segalanya dalam dunia biologi. Neil Bromhall/Shutterstock

Hewan pengerat yang jelek ini suatu saat akan terungkap rahasianya oleh para ilmuwan, yang mungkin suatu hari bisa membantu kita dalam pengembangan terapi baru untuk mengalahkan kanker dan penyakit lain yang berkaitan dengan usia.

Kanguru dan osteoartritis

Osteoartritis memiliki banyak penyebab, tapi obesitas, postur tubuh tidak ideal, dan keselarasan sendi yang buruk adalah risiko utamanya. Banyak primata dan hewan karnivora memiliki masalah persendian yang mirip dengan manusia. Kera besar menunjukkan paling banyak kemiripan penyakit persendian dengan manusia.

Kanguru, di sisi lain, dapat bergerak melompat dengan kecepatan 40 pil per jam dengan sedikit risiko radang sendi hingga usia tua. Struktur tulang rawan yang unik pada lutut memungkinkan mereka untuk menahan perenggangan berulang dan beban akibat pendaratan.

Struktur ligamen juga meningkatkan stabilitas sendi, ini penting agar menjaga kesehatan sendi tetap baik. Penelitian seperti ini dapat membantu menambahkan bahan yang bisa digunakan untuk implan lutut buatan pada manusia.

Ikan gua dan diabetes

` Diabetes adalah masalah kesehatan global dan penyebab utama kebutaan, gagal ginjal, serangan jantung, stroke, dan amputasi. Hampir satu dari sepuluh orang dewasa terkena penyakit ini dan angkanya sudah sangat tinggi. Solusi untuk penyakit ini - jika ada - mungkin berasal dari ikan buta di gua Meksiko.

Ikan gua Meksiko dapat makan sesuka hati mereka. Kuttelvaserova Stuchelova/Shutterstock

Ikan kecil ini memakan alga dan mampu makan sebanyak mungkin tanpa terkena masalah. Hal ini karena cara unik mereka dalam beradaptasi untuk bertahan hidup, dengan tidak mengatur gula darah mereka. Ini berarti gejala yang biasanya terlihat pada orang dengan diabetes, seperti memiliki kadar glukosa darah sangat bervariasi, tampaknya bukan masalah bagi ikan ini. Para ilmuwan berharap bahwa dengan memahami lebih lanjut tentang ikan ini, suatu hari kita bisa menemukan pengobatan yang lebih baik untuk penyakit ini.

Zebra dan bisul

Dalam lingkungan yang penuh tantangan, kita menjadi lebih sadar akan kesehatan mental kita. Tapi kita sering mengabaikan bagaimana ini dapat mempengaruhi kesehatan fisik kita. Di manusia, pusat pengolahan informasi di otak sering menghubungkan hal-hal sulit yang terjadi dalam hidup kita.

Ini berarti, kita sedang mengalami stres kronis dalam jangka waktu yang lama. Dan hal ini dapat menyebabkan radang perut.

Hewan, seperti zebra, biasanya mengalami stres untuk periode yang lebih pendek, seperti ketika mereka mencari makanan atau mencoba menghindari predator. Mereka jarang mengalami periode stres yang lama.

Tapi penelitian telah menunjukkan bahwa stres berkepanjangan yang dialami hewan, seperti tikus, dapat menyebabkan tumbuhnya bisul. Ini serupa dengan bisul pada manusia. Ini berfungsi sebagai pengingat yang baik bahwa gaya hidup modern kita yang penuh tuntutan, buruk bagi semua aspek kesehatan kita.

Hubungan antara hewan dan penyakit bukan satu arah. Ada banyak contoh saat kita menggunakan pemahaman penyakit manusia untuk membantu hewan, seperti menggunakan pemahaman kita tentang klamidia ke koala, yang penyakit ini dapat menyebabkan infertilitas, kebutaan, dan kematian.

Franklin Ronaldo menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English