Gerakan Gejayan Memanggil, 23 September 2019, mendesak pemerintah dan DPR menunda pengesahan sejumlah rancangan undang-undang yang isinya mengancam kebebasan dan demokrasi. Faishalabdula/Shutterstock

Mengapa musik dan yel-yel mampu meningkatkan semangat dalam unjuk rasa damai?

“Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia”.

“Reformasi dikorupsi!”

Dalam unjuk rasa di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senayan, pekan lalu, yel-yel di atas berulang kali diteriakkan oleh ribuan mahasiswa. Yel-yel sejenis juga kerap dipakai pemimpin demonstrasi untuk memompa semangat para pengunjuk rasa damai di berbagai kota di Indonesia.

Beberapa lagu juga kerap dinyanyikan bersama-sama saat berdemonstrasi seperti lagu “Berderap dan Melaju” dan “Darah Juang”.

Darah Juang.

Sebuah riset dari Joshua Michael Silberstein Bamford, peneliti dari Centre for Interdisciplinary Music Research University of Jyväskylä di Finlandia, yang dipublikasikan baru-baru ini, dapat menjelaskan bagaimana musik bisa digunakan secara efektif sebagai penggerak massa untuk mobilisasi atau memimpin para peserta untuk melakukan protes sosial.

Penelitian menunjukkan musik dapat membuat seseorang berempati pada orang yang bernyanyi dan mengeluarkan yel-yel. Dampaknya, orang lain secara sadar atau tidak sadar mengikuti apa yang dia dengarkan.

Sehingga, musik bukan hanya mendorong solidaritas tapi juga media menyampaikan pesan dan memecahkan kebekuan politik.

Bertempo cepat+pengaruhi adrenalin, pesan mudah ditangkap

Setidaknya ada dua alasan mengapa musik bisa jadi medium yang efektif dalam unjuk rasa:

Pertama, karakteristik musik dari yel-yel yang diteriakan dan lagu yang dinyanyikan saat demonstrasi, biasanya memiliki tempo yang cepat dan nada yang semangat.

Bila dilihat secara psikologis, ketika ada yang memimpin para peserta aksi untuk bernyanyi, maka dengan mudah peserta lainnya akan mengikuti. Fenomena tersebut terjadi karena adanya rhythmic entrainment, yakni seseorang akan akan berusaha mensinkronisasi ritme yang ada dalam dirinya sendiri dengan ritme yang ada di sekelilingnya .

Musik, khususnya yang bertempo cepat, juga membuat seseorang memiliki emosi yang lebih positif dan lebih bersemangat, sehingga dapat mempengaruhi adrenalin demonstran juga. Sebuah riset menunjukkan musik bertempo cepat dapat membuat detak jantung berdegup lebih kencang, bernafas lebih cepat, dan meningkatkan adrenalin. Akibatnya, para demonstran tidak mudah lelah dan semakin keras dalam menyuarakan tuntutannya.

Kedua, lirik dalam lagu yang dinyanyikan dan kata-kata dalam yel-yel juga merupakan salah satu bentuk komunikasi untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat dan pemerintah yang mudah diingat.

Misalnya dalam unjuk rasa terakhir, dengan yel-yel “reformasi dikorupsi” para mahasiswa mendesak tujuh tuntutan.

Yel-yel lewat musik akan membuat pesan yang disampaikan melalui lagu yang dinyanyikan akan lebih mudah diingat dibandingkan yang disampaikan bukan dalam bentuk lagu. Hal tersebut karena musik dapat mempengaruhi emosi baik positif maupun negatif dan kemudian ingatan tersebut diasosiasikan dengan emosi tertentu.

Alhasil, pesan yang disampaikan melalui musik dapat lebih diingat dibandingkan yang disampaikan secara lisan dan tidak menimbulkan emosi tertentu.

Terbukti, DPR akhirnya memutuskan menunda pengesahan lima rancangan undang-undang yang dinilai bermasalah. Meskipun belum ada riset yang intensif tentang dampak yel-yel dan lagu itu terhadap pengambilan keputusan oleh DPR dan pemerintah Indonesia. Satu hal yang pasti, musik terbukti dapat menyatukan banyak orang.

Dalam konteks yang berbeda, dalam ranah politik musik sudah sering digunakan untuk berbagai keperluan seperti kampanye calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto dan mendorong partisipasi pemilihan. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemilu dan siapa saja yang dipilih pada saat pemilihan umum, diadakan sayembara menciptakan Mars Pemilu.

Tak hanya di Indonesia

Bukti “keampuhan musik” tampak dalam protes yang telah berlangsung di Hong Kong dalam tiga bulan terakhir.

Musik digunakan oleh warga Hong Kong, baik yang kontra maupun pro terhadap pemerintah dan menggerakkan para masyarakat untuk ikut dalam pergerakan sosial memprotes Rancangan Undang-Undang Ekstradisi. Draf ini akan memberi kewenangan otoritas Hong Kong untuk menahan orang di sana dan lalu mengirim dan mengadilinya di Cina.

Bahkan terdapat lagu yang diciptakan seorang demonstran berjudul “Glory to Hong Kong” yang menurut penciptanya dapat menyatukan warga Hong Kong dan meningkatkan moral pengunjuk rasa.

Lagu “Glory to Hong Kong” yang meningkat semangat pengunjuk rasa di Hong Kong.

Bahkan musik diketahui dapat mencairkan ketegangan politik dua negara. Salah satu contohnya, pada 2008 Amerika Serikat mengirimkan New York Philharmonic Orchestra ke Korea Utara untuk melakukan diplomasi musik sehingga mencairkan suasana negosiasi antara Amerika dan Korea Utara terkait dengan masalah nuklir pada saat itu.

Musik, baik sadar atau tidak sadar, dapat digunakan sebagai alat untuk menggerakkan masyarakat melakukan sesuatu dan media komunikasi agar pesan yang ingin disampaikan lebih didengar.

Mengingat pesan yang disampaikan melalui musik dapat membangkitkan emosi dan lebih mudah diingat, maka aksi damai dapat dilakukan dengan menciptakan lagu untuk mengekspresikan pesan yang ingin disampaikan.

Lagu-lagu yang sudah ada juga dapat terus digaungkan, mengingat dampak psikologis dari musik dapat digunakan untuk menggerakkan masyarakat seperti di Hong Kong. Bila teriakan tak lagi didengarkan, mungkin bernyanyi dapat membantu untuk menyuarakan pendapat masyarakat dapat lebih didengarkan dan diingat oleh pemerintah dan parlemen.