Menggagas jurnalisme sebagai bentuk layanan publik yang berbayar

Perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah bagaimana media diproduksi dan dikonsumsi. www.shutterstock.com

Menggagas jurnalisme sebagai bentuk layanan publik yang berbayar

Hilman Handoni memproduksi audio perbincangan antara Peter Fray dan Andina Dwifatma mengenai “Media dan Politik dalam Era Digital”.


A conversation between Peter Fray and Andina.

Perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah bagaimana media diproduksi dan dikonsumsi. Di satu sisi, teknologi digital memungkinkan konglomerasi media terus mengembangkan jaringan untuk menarik penonton dalam jumlah besar. Namun di sisi yang lain, teknologi juga membuat para penonton lebih berdaya dibanding sebelumnya. Mereka sekarang bisa memproduksi dan mendistribusikan informasi sendiri tanpa bantuan wartawan profesional maupun media.

Menanggapi perubahan yang ada, Peter Fray, seorang wartawan kawakan Australia yang menjadi profesor praktik jurnalisme dari University of Technology Sydney mengatakan perlu adanya model bisnis media yang baru yang bisa merespons peluang-peluang yang muncul.

Dalam sebuah diskusi di Jakarta akhir-akhir ini, dia menawarkan ide tentang “menjual” produk jurnalisme sebagai sebuah bentuk layanan atau servis.

Diskusi yang mengambil tema “Media dan Politik dalam Era Digital” dan diadakan atas kerja sama antara Kedutaan Besar Australia di Jakarta dan The Conversation, Fray dan dosen Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Andina Dwifatma membahas bagaimana perubahan hubungan antara media dan khalayak bisa membuka peluang bagi media untuk bisa menjual produknya sebagai sebuah bentuk jasa.

Sebagai penyedia layanan jasa, Fray berpikir bahwa media layak dibayar karena sudah memberikan informasi kepada khalayak. Dia menyamakan media dengan kafe.

“Kalau kita ke kafe membeli kopi, kita harus bayar […] Kita bersedia membayar kopi tersebut karena itu adalah sebuah bentuk jasa. Jadi saya kira kita harus melihat jurnalisme sebagai suatu jasa yang orang-orang bersedia bayar,” timpalnya.

Ide tentang jurnalisme sebagai layanan bukanlah hal baru. Penulis dan wartawan Amerika Amy Webb menulis bahwa bentuk model bisnis ini tak terelakkan di tengah-tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat. Dengan model bisnis seperti ini, media menjual jasanya untuk membuat masyarakat untuk tetap mendapat informasi. Di tengah maraknya kesalahan informasi dan penyebaran berita palsu, media jelas mempunyai keunggulan dalam menawarkan produknya.

Fray juga menambahkan bahwa untuk bisa berhasil dengan model bisnis seperti ini, satu hal yang bisa dilakukan oleh media yaitu mendengarkan pelanggannya yaitu para pembaca, pendengar atau penonton.

Andina kemudian menjelaskan setidaknya ada tiga cara bagaimana media bisa mendengarkan lebih pembacanya.

Digital teknologi telah membawa perubahan bagaimana media seharusnya bekerja. Menjadikan media sebagai sebuah bentuk layanan adalah sebuah bentuk usaha yang bisa dijalankan untuk menanggapi perubahan ini. Dan jika sebuah media ingin berhasil sebagai sebuah produk layanan, satu hal terpenting yang bisa dilakukannya adalah mendengarkan pembacanya.

Selamat mendengarkan!

Love this article? Show your love with a gift to support The Conversation's journalism, matched dollar-for-dollar.