Penurunan populasi burung air migran bisa berpotensi tingkatkan risiko penularan virus unggas pada manusia

Penurunan populasi burung air migran berpotensi menyebarkan penyakit kepada manusia. Thipwan/Shutterstock

Populasi burung air atau wader, terutama yang bersifat migran, mengalami penurunan yang signifikan secara global dari tahun ke tahun.

Hasil survey rutin setiap tahun pada jalur migrasi Asia Australasia, yang membentang dari Rusia timur ke Alaska di bagian selatan dan melewati Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, hingga Selandia Baru, termasuk Indonesia, menunjukkan trend penurunan jumlah yang mengkhawatirkan pada jenis-jenis burung migran kunci.

Misalnya burung Biru-laut Ekor-blorok (Limosa lapponica) menurun 3,2% per tahunnya dan burung Kedidi golgol (Calidris ferruginea) yang berkurang hingga 9,5% per tahun.

Burung Biru-laut Ekor-blorok (Limosa lapponica) Dave Montreuil/shutterstock
Burung Kedidi golgol (Calidris ferruginea). Cezary Korkosz/Shutterstock

Penurunan populasi burung air terjadi karena perubahan iklim, perubahan habitat persinggahan hingga perburuan liar oleh manusia di daerah-daerah persinggahan dan tujuan utama migrasi mereka.

Sebuah penelitian tentang penyebaran virus dari unggas menunjukkan bahwa berkurangnya populasi burung air migran ini membuat mereka lebih rentan terhadap virus, seperti flu burung dan H2N1.

Hal tersebut menurut saya akan berdampak pada meningkatnya potensi penyebaran virus unggas pada manusia karena kebutuhan virus pada unggas untuk mencari inang baru.

Efek pengenceran dan flu burung

Pada tahun 2008, John Swaddle dan rekannya, Stavros E. Calos, dari Departemen Biologi, College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa semakin beragam jenis burung di suatu tempat, maka semakin rendah penyebaran Virus West Nile atau VWN ke manusia.


Read more: Apa yang terjadi pada alam jika semua serangga punah?


Melalui penelitiannya, Swaddle menjelaskan bahwa semakin banyak jenis burung pada suatu habitat maka virus di dalam tubuh unggas tidak berpotensi membahayakan.

Sebaliknya, begitu jumlah unggas yang ada di alam berkurang dari biasanya, maka virus akan ‘bergerak’ untuk mencari inang baru. Salah satu yang paling berpotensi sebagai inang tersebut adalah manusia.

Keadaan stabilnya pathogen di alam oleh jumlah inang yang memadai ini dinamakan oleh ilmuwan sebagai efek pengenceran atau (dilution effect).

Penyebaran flu burung bisa terjadi melalui unggas, terutama ayam. Gloszilla Studio/Shutterstock

Sejarah

Awalnya flu burung disebarkan melalui perdagangan unggas setelah pertama ditemukan tahun 1878 di Italia, dan menyebar dengan cepat ke daratan Eropa dan AS sekitar tahun 1950-an karena kemampuan virus beradaptasi dengan beragam inang.

Namun, virus flu burung juga dapat terbawa oleh populasi burung liar, terutama jika mereka berinteraksi dengan unggas domestik yang terinfeksi, kemudian disebarkan kepada burung liar lain saat berinteraksi di jalur migrasinya.

Sebagian dari burung liar ini ada yang melakukan migrasi jarak jauh, terutama untuk menghindari musim dingin, ke daerah tropis yang lebih hangat.

Penularan juga terjadi ketika burung yang berasal dari kawasan yang berbeda berkumpul di daerah migrasi musim dinginnya atau bisa juga ketika mereka telah kembali ke daerah asalnya untuk berbiak.

Sebagian burung migran yang datang ke Indonesia berasal dari Eropa, Rusia, dan China.

Dalam jalur migrasi burung Asia Australasia, Indonesia merupakan salah satu spot dimana jumlah burung migran mengalami penurunan.

Di pesisir timur Sumatra dan pesisir utara Jawa, burung-burung migran ini dijerat untuk dijadikan sebagai sumber makanan atau dijual untuk sumber penghasilan.

Data Kementerian Kesehatan, Indonesia menyebutkan ada 55 kasus flu burung dari 115 total kasus dari seluruh dunia, atau hampir setengahnya, ketika pandemik flu burung terjadi pada tahun 2006. .

Hingga Desember 2016, telah terjadi 199 kasus flu burung dengan 167 kematian di Indonesia.

Walaupun burung tidak selalu menjadi vektor dari penyakit-penyakit tersebut, tetapi keberadaan mereka berkaitan erat dengan keseimbangan komunitas di mana hewan yang menjadi vektor penyakit juga hidup.

Sehingga, ketika burung sebagai komponen utama penyeimbang di dalam ekosistem hilang atau berkurang drastis populasinya, maka ketidakseimbangan juga akan melanda semua komponen lainnya di alam.

Peduli dengan alam

Hipotesis ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi peringatan agar manusia bisa lebih peduli kepada alam.

Apabila wabah penyakit disebabkan oleh penurunan keragaman jenis burung, maka tindakan preventif menjadi solusi terbaik.

Misalnya, kita bisa menggiatkan kegiatan pelestarian burung dan habitatnya atau mengurangi perburuan liar burung air migran.

Hal ini membutuhkan keterlibatan dari semua pihak, baik pemerintah dan non-pemerintah, terutama dalam meningkatkan kesadaran tentang fungsi ekologis vital dari burung di alam.

Tentunya, pemerintah dan badan terkait harus mempersiapkan skenario terburuk, jika segala upaya pencegahan yang sudah diusahakan gagal.

Beberapa prosedur tanggap darurat untuk kasus penyebaran virus di Amerika bisa kita adaptasi untuk tingkat nasional atau daerah, misalnya melakukan isolasi kawasan yang terjangkitnya virus, menghimpun tim ahli untuk menganalisis situasi dan menemukan solusi, serta mendokumentasikan secara lengkap sebagai referensi untuk menghadapi masalah di masa depan.