Pilot yang tidur di kokpit dapat tingkatkan keselamatan penerbangan

Pilot pesawat komersial sering mengalami kelelahan. Shutterstock

Pilot pesawat sering mengalami kelelahan. Contoh ekstrem terjadi pada 2008, ketika seorang pilot dan co-pilot tertidur di kokpit, melewatkan pendaratan mereka di Hawaii, Amerika Serikat. Pilot dan co-pilot yang tertidur dipecat dan dicabut izin terbangnya. Baru-baru ini, pilot yang kelelahan tiba-tiba hampir mendarat di atas pesawat lain di Bandara Internasional San Francisco, Amerika Serikat, pada 2017.

Tidak aneh bagi seorang pilot maskapai komersial besar untuk, misalnya, mulai bekerja di Florida, Amerika Serikat pada pukul 5 sore, untuk sejam kemudian melakukan penerbangan pertama yang berdurasi lima jam, tiba di California tepat setelah pukul 8 malam waktu setempat. Setelah istirahat sebentar, ia kemudian terbang singkat selama 90 menit ke kota lain di California. Ketika sang pilot mendarat dari penerbangannya yang kedua, ia telah menghabiskan enam setengah jam dari sembilan jam terakhir di kokpit. Ia juga telah melintasi tiga zona waktu, dan tubuhnya berpikir ini jam 2 pagi. Tidak diragukan ia lelah. Untung ia tidak mengalami penyesuaian jadwal yang bisa menunda keberangkatan karena pemeliharaan pesawat atau cuaca.

Badan pemerintah Amerika Serikat yang mengatur industri penerbangan, Administrasi Penerbangan Federal (FAA), telah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi kelelahan pilot, tetapi banyak pilot dan pihak lainnya tetap khawatir bahwa dua pilot harus tetap terjaga dan waspada selama penerbangan, meskipun di antara mereka mungkin mengalami gejala kelelahan. Salah satu usulan untuk untuk mengatasi hal ini adalah dengan membiarkan pilot tidur singkat di kokpit. Sebagai peneliti konsumen industri maskapai penerbangan, kami menemukan bahwa publik di Amerika cemas terhadap ide ini. Namun, mungkin mereka akan menerima setelah mendengar penjelasan bahwa membiarkan pilot tidur sebentar membuat penerbangan mereka lebih aman.

Pesawat Air Canada yang diterbangkan oleh pilot yang mengalami keletihan hampir mendarat di jalur lepas landas di San Fransisco pada 2017.

Membatasi jam kerja pilot

Kelelahan pada pilot mungkin sulit diprediksi atau didiagnosis–terutama karena pilot yang lelah biasanya berhasil lepas landas, terbang, dan mendarat dengan selamat. Bahkan ketika terjadi kesalahan, penyelidik kecelakaan mungkin memiliki sedikit bukti akan kelelahan tersebut, kecuali mungkin ada suara seseorang yang menguap pada rekaman audio kokpit.

Pada tahun 2014, untuk pertama kalinya dalam 60 tahun FAA memberlakukan peraturan baru tentang jam istirahat pilot. Peraturan ini membatasi keseluruhan waktu tugas dan jam penerbangan per hari pilot. Peraturan ini juga menjelaskan proses pelaporan yang bisa dilakukan pilot ketika mereka kelelahan tanpa mendapat sanksi dari maskapai penerbangan mereka atau pemerintah.

Tidur di kokpit

Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidur singkat dapat meningkatkan kewaspadaan pilot. Beberapa pesawat, seperti yang biasa digunakan pada penerbangan internasional yang panjang, memiliki tempat tidur yang dapat digunakan oleh pilot dan kru lainnya, tetapi pesawat yang lebih kecil tidak memiliki ruangan tersebut. Hanya penerbangan lebih dari delapan jam yang mensyaratkan ada pilot tambahan di pesawat sehingga mereka dapat beristirahat secara bergantian. Pada penerbangan pendek, peraturan penerbangan Amerika Serikat mengharuskan kedua pilot agar tetap waspada selama penerbangan, tanpa ada waktu untuk istirahat.

Sejumlah negara, termasuk Kanada dan Australia, mengizinkan pilot untuk tidur singkat di kokpit. Dalam sebuah kasus di Cina, seorang pilot kedapatan sedang tidur dan mendapat hukuman karena tidur di kokpit. Prosedur resmi yang memungkinkan pilot tidur di kokpit disebut “controlled rest in position (CRIP) atau posisi istirahat terkontrol.” CRIP menentukan kebijakan dan prosedur yang memungkinkan pilot untuk beristirahat.

Aturannya ketat. Manual Operasi Penerbangan Air Canada, misalnya, mengatakan seorang pilot yang ingin beristirahat harus melapor pada co-pilot dan pramugari. Pilot mendapat jatah tidur tidak lebih dari 40 menit, dan harus bangun setidaknya setengah jam sebelum turun dari ketinggian untuk mendarat. Mereka memiliki waktu 15 menit sesudah tidur untuk sepenuhnya terbangun, pada jeda waktu tersebut mereka tidak menerbangkan pesawat, kecuali pada keadaan darurat.

Opini konsumen

Sebagai ahli opini konsumen, kami telah melakukan serangkaian penelitian untuk mengetahui pendapat masyarakat tentang dibolehkannya pilot menjalankan prosedur CRIP ini untuk tidur singkat di kokpit. Secara umum, masyarakat cenderung ragu untuk terbang jika tahu bahwa pilot mungkin diizinkan tidur di kokpit, dan perempuan cenderung lebih ragu dibanding pria.

Dalam riset, kami menemukan bahwa keraguan ini sebagian besar disebabkan oleh rasa takut, karena mereka tidak memahami manfaat tidur singkat bagi pilot. Beberapa riset kami sebelumnya menunjukkan bahwa ketika konsumen memahami nilai dari prosedur ini, mereka akan lebih menerima. Tampaknya mengedukasi publik bahwa pilot yang cukup istirahat dapat membuat penerbangan menjadi lebih aman dapat membuat publik lebih merasa nyaman terbang.

Pada pesawat Boeing 747 ini, ruang istirahat kru pesawat berada di tempat tersembunyi di kelas bisnis. AP Photo/Ted S. Warren

Apa pendapat para pilot?

Dalam riset lanjutan, kami bertanya kepada pilot apa pendapat mereka tentang adanya waktu istirahat di kokpit selama penerbangan. Jawaban mereka lebih antusias daripada yang bukan pilot. Tujuh puluh persen pilot memilih penerapan CRIP. Rata-rata, semua peserta yang disurvei merasa bahwa tidur selama 45 menit harus disetujui. Waktu yang ditentukan tersebut berkaitan erat dengan waktu istirahat 40 menit yang disarankan oleh penelitian ilmiah lainnya. Mereka juga menyadari perlunya pilot untuk bangun setidaknya 30 menit sebelum memulai pendaratan. Secara keseluruhan, para peserta mengatakan CRIP tidak akan menimbulkan masalah besar dan mengatakan hal itu akan berguna.

Namun, beberapa pilot mengungkapkan kekhawatiran tentang konsekuensi yang tidak diinginkan dari implementasi CRIP. Maskapai penerbangan, yang mengetahui bahwa pilot dapat tidur siang selama penerbangan, mungkin tergoda untuk memberlakukan jadwal penerbangan yang lebih ketat yang akan menghilangkan manfaat yang diperoleh dari CRIP. Terakhir, para responden berkomentar soal suksesnya prosedur diterapkan oleh maskapai internasional seperti Air Canada dan Qantas. Sejauh ini, kru perusahaan tersebut belum mendaftarkan keluhan yang tersebar luas tentang penyalahgunaan praktik penjadwalan ini dan survei menunjukkan tidak ada responden mengeluhkan adanya masalah.

Akankah industri penerbangan Amerika Serikat mengizinkannya?

Sulit untuk ditebak apakah FAA akan mengizinkan pilotnya untuk tidur di kokpit. Riset ilmiah memberikan bukti empiris akan manfaatnya meskipun konsumen tampaknya ragu, sementara pilot tampak sangat mendukungnya.

Yang jelas keletihan di kokpit tetap menjadi ancaman bagi industri penerbangan di seluruh dunia. Mengingat bukti ilmiah yang mendukung CRIP untuk mengatasi kelelahan, jelas ada keuntungan ketika kita mempertimbangkan prosedur tersebut dapat meningkatkan keselamatan penerbangan. Mungkin sudah saatnya untuk percaya pada pilot yang menerbangkan pesawat dan membiarkan mereka untuk beristirahat jika merasa perlu, tentu saja dengan alasan yang bisa diterima, sehingga kita semua bisa selamat sampai di tujuan.

Jamiah Solehati menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

This article was originally published in English